15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Zainab Al-Ghazali, Penentang Kezhaliman

Zainab Al-Ghazali, Penentang Kezaliman

Fiqhislam.com - Dihadapan tak kurang dari lima ribu jamaah perempuan, seorang sosok daiyah (sebutan untuk dai perempuan) menyerukan secara lantang untuk menentang Menteri Pendidikan Mesir Periode (1950-1952) Dr Toha Husein yang berencana menggelar konser musik.

Pertunjukan itu sedianya digelar sebagai penyambutan untuk orientalis asal Prancis yang datang ke Kairo.

Pasalnya, lokasi acara tersebut ialah halaman Masjid Ibnu Thulun. Padahal, saat itu adalah jadwal majelis ilmu dengan ribuan peserta.

Daiyah itu berkata, “Siapa yang ingin mati syahid dan berada di surga tanpa ada halangan apa pun kecuali kematian?”

Seruannya itu mendapat sambutan dari jamaah. Mereka siap. Ia pun mengisahkan tentang rencana Menteri. Seketika itu juga, ribuan Muslimah itu bergegas membongkar tenda dan peralatan yang telah disiapkan.

Satu kompi polisi hendak mencegah dan menangkap sang daiyah, tetapi mendapat perlawanan dari para pengikutnya. Insiden ini pun akhirnya menuntut Perdana Menteri Mesir kala itu, Musthafa Basya an-Nuhas, turun tangan. Ia akhirnya membatalkan perayaan tersebut.

Daiyah itu ialah Zainab Muhammad al-Ghazali al-Jabili. Tokoh yang lahir pada 2 Januari 1917 ini terkenal tegas dan berani. Ia sangat menentang sekularisasi dan liberalisasi oleh sebagian kelompok di Bumi Kinanah, Mesir.

Keberaniannya itu secara genetikal berasal dari Umar bin Khatab yang ia warisi dari garis keturunan sang ayah. Sementara, nasab ibunya menyambung hingga Hasan bin Ali.

Intelektualitasnya dibangun dengan fondasi yang kokoh. Ia menggabungkan dua kutub keilmuan sekaligus; umum dan agama.

Pendidikan formal ditempuh Zainab di sekolah negeri. Soal agama, ia mendapat pengarahan langsung dari para pakar.

Ia berguru kepada ulama-ulama Azhar, seperti Ketua Dewan Konsultasi dan Nasihat al-Azhar Syekh Muhammad Sulaiman an-Najjar, Syekh Abdul Majid al-Lubnan yang menjabat wakil Syekh al-Azhar, dan sejumlah tokoh terkemuka institusi keagamaan tertua di Mesir itu.

Ketegangan
Keharmonisan antara Zainab dan institusi al-Azhar sempat memburuk. Ini terjadi setelah tokoh yang telah berhaji 39 kali dan berumrah 100 kali tersebut bergabung dengan organisasi El-Ittihad El Nesai.

Di organisasi yang dipimpin oleh Huda Sya'rawi tersebut, ia terkenal unggul. Ia sempat masuk nominasi perempuan peraih beasiswa belajar di Prancis. Tetapi, kandas setelah Zainab bermimpi sang ayah melarangnya.

Antusiasmenya terhadap misi-misi organisasi yang menyuarakan feminisme nyaris melalaikannya. Ia tak lagi memakai jilbab, tetapi cukup dengan qob'ah (sejenis topi khusus perempuan).

Berulang kali terjadi perang pemikiran dan wacana antara Zainab dan al-Azhar. Ini mendorong Syekh Muhammad an-Najjar, yang tak lain ialah gurunya, tergerak menasihati. Tetapi, usaha tersebut gagal. Zainab tetap saja bersikeras pada pendiriannya.

Hingga peristiwa tersebut terjadi. Saat Zainab memasak, tabung gas yang ia pakai meledak. Ledakan itu hampir membakar seluruh bagian tubuhnya. Ia kritis.

Di keheningan petaka, ia berdoa kepada Allah SWT. Jika musibah ini adalah bentuk murka-Nya akibat Zainab mengenakan qob'ah maka ia akan melepas dan kembali berjilbab. Ia berjanji keluar dari organisasi tersebut.

Dan, jika diberi kesempatan, ia bertekad mendirikan organisasi Muslimah yang fokus pada amal dakwah dan sosial.

Pada 1937, Zainab membentuk organisasi Muslim Ladies Association, MLA (Jamiat as-Sayyidat al-Muslimaat).

Ia berkiprah memajukan kaum perempuan melalui organisasi itu. Pemberdayaan terhadap dhuafa juga menjadi perhatian utamanya.

Mulai dari santunan terhadap fakir miskin, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Sepak terjangnya itu mendapat respons baik dari masyarakat Mesir. Tak kurang dari 199 cabang MLA terbentuk di seluruh pelosok Mesir.  

Ketika Revolusi 1952 meletus, pada mulanya ia memberikan simpati ketika masih di bawah pimpinan Jenderal Muhammad Najib. Tetapi, pemikirannya itu berubah drastis ketika rezim Jamal Abdul Nashir berkuasa.  Ia bersikap otoriter dan represif kepada ulama.

Zainab melawan. Ia menentang keras terhadap kebijakan zalim pemerintah. Ia diganjar dan dipenjarakan. Siksaan demi siksaan yang ia terima di penjara tak membuatnya gentar.

Sengatan listrik, ketiadaan makan dan minum, tidur beralaskan tanah, dan hidup tanpa sinar cahaya, ia terima dengan sabar. “Ya Allah, palingkanlah keburukan ini kapan dan bagaimanapun Engkau ingin,” katanya memanjatkan doa. Pada 1970, ia akhirnya keluar dari penjara.

Ujian yang pernah ia terima selama di balik jeruji besi semakin menguatkan karekter dan pribadi yang lahir di Desa Mayyit Yaisy, Provinsi Daqahlia, Mesir itu. Ia semakin aktif berdakwah dan terlibat di berbagai event nasional ataupun internasional.

Hingga, akhirnya pada Rabu 3 Agustus 2005, ia mengembuskan nafas terakhir pada usia 88 tahun. [yy/republika]

 

Zainab Al-Ghazali, Gigih Melawan Sekularisme

Tags: Al-ghazali | Zhalim | Zalim