19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Siapa Orang yang Pertama Kali Dikubur di Makam Baqi'

Siapa Sahabat yang Pertama Membaca Alquran dengan Suara Nyaring

Fiqhislam.com - Salah satu tempat siarah yang selalu ramai dikunjungi di Tanah Suci, khususnya di Kota Madinah, baik oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah Umrah maupun Haji adalah Makam Baqi. Di tempat itu, entah sudah berapa banyak orang-orang pilihan yang dimakamkan. 

Makam Baqi ini, sudah ada sejak zaman Rasulullah Muhammad Saw. Namun, tahukan Anda siapa manusia pertama yang dimakamkan di Makam Baqi'?

Dalam kitab Ensiklopedi Muhammad yang disusun Abdul Mun'im Al Hafni, ulama terkemuka Timur Tengah, disebutkan bahwa orang yang pertama kali dikuburkan di tempat tersebut adalah sahabat Rasul yakni Utsman bin Mazh'un. Kala itu, Rasullullah meletakkan batu di bagian pusaranya tepat di atas kepala. Lalu, Rasulullah bersabda, "Inilah orang yang telah mendahului kita."

Sejak saat itu, apabila ada orang yang meninggal, para sahabat bertanya kepada beliau, dimana kami akan memakamkannya? Rasulullah menjawab, "Di tempat dimakamkannya Utsman bin Mazh'un."

Riwayat Makam Baqi' ini, diawali dengan ketika Rasul tinggal di Madinah, beliau tidak henti-hentinya mencari kavling tanah yang tepat untuk dijadikan sebagai pemakaman kaum Muslimin. Maka Nabi pun mengelilingi Kota Madinah. 

Pada saat beliu tiba di satu tempat bernama Baqi', beliau bersabda, "Aku diperintahkan di tempat ini." (Maksudnya tanah di Baqi').

Dulunya, Baqi' bernama Baqi' al Khabkhabah. Sebagian besar kawasan tersebut ditumbuhi semak dan perdu. Saat menjelang malam, di tempat tersebut banyak bermunculan serangga kecil seperti kabut. [yy/republika]

 

Siapa Orang yang Pertama Kali Dikubur di Makam Baqi'

 

Utsman bin Mazh'un

Tatkala cahaya Islam mulai bersinar, maka Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah.

Ia ditempa oleh berbagai derita dan siksa, sebagaimana dialami oleh orang-orang Mukmin lainnya, dari golongan berhati tabah dan sabar.

Ketika Rasulullah SAW mengutamakan keselamatan golongan kecil dari orang-orang beriman dan teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habsyi, dan beliau siap menghadapi bahaya seorang diri, maka Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama Muhajirin ini.

Dengan membawa putranya yang bernama Saib, Utsman melangkahkan kakinya ke suatu negeri yang jauh, menghindar dari tiap daya musuh Allah, Abu Jahl, dan kebuasan orang Quraisy serta kekejaman siksa mereka.

Sebagaimana Muhajirin ke Habsyi lainnya pada kedua hijrah tersebut, yakni yang pertama dan yang kedua, maka tekad dan kemauan Utsman untuk berpegang teguh pada agama Islam kian bertambah besar.

Memang, kedua hijrah ke Habsyi itu telah menampilkan corak perjuangan tersendiri yang mantap dalam sejarah umat Islam. Orang-orang yang beriman dan mengakui kebenaran Rasulullah SAW serta mengikuti Nur Ilahi yang diturunkan kepada beliau, telah merasa muak terhadap pemujaan berhala dengan segala kesesatan dan kebodohannya.

Dalam diri mereka masing-masing telah tertanam fithrah yang benar yang tidak bersedia lagi menyembah patung-patung yang dipahat dari batu atau dibentuk dari tanah liat.

Demikianlah, Kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tenteram, termasuk di antaranya Utsman bin Mazh’un yang dalam perantauannya itu tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat saudara sepupunya Umayah bin Khalaf dan bencana siksa yang ditimpakan atas dirinya.

Maka dihiburlah dirinya dengan menggubah syair yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap saudaranya itu, katanya, “Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya. Kamu raut ia setajam-tajamnya. Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia. Kamu cela orang-orang yang berwibawa. Ingatlah nanti, saat bahaya datang menimpa. Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata.” [yy/republika]

Orang Ke-14 yang Masuk Islam

Jika Anda menyusun daftar nama para sahabat Rasulullah saw. sesuai urutan waktu masuknya ke dalam Islam, maka pada urutan keempat belas Anda akan mendapati nama Utsman bin Mazh’un.

Anda harus tahu bahwa Utsman bin Maz’un adalah Muhajirin yang pertama kali wafat di Madinah. Dan, ia pun muslim pertama yang dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Anda harus tahu bahwa sahabat agung ini, adalah laki-laki ahli ibadah. Bukan karena ia mengurung diri dalam mesjid, melainkan karena tempat ibadahnya adalah kehidupan itu sendiri.

Ya! Kehidupan dengan semua gairah, keutamaan, dan rasa tanggung jawab adalah masjidnya. Sementara ibadahnya adalah perjuangan dan pengorbanan yang tak kenal henti di jalan Allah.

Tatkala cahaya Islam mulai bersinar dari kalbu Rasulullah saw. dan dari ucapan-ucapan beliau yang disampaikan ke beberapa orang secara sembunyi-sembunyi dan rahasia, Utsman bin Mazh’un adalah satu dari beberapa orang yang bergegas menerima panggilan Ilahi dan bergabung dengan Rasulullah. Ia ditimpa berbagai derita dan siksa, sebagaimana yang dialami oleh orang-orang beriman lainnya saat itu, namun mereka tetap tabah dan sabar.

Ketika Rasulullah saw mengutamakan keselamatan golongan kecil yang teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habasyah, sementara beliau tetap di Mekah, memikul beban dakwah seorang diri, maka Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan hijrah pertama ini. Dengan membawa putranya yang bernama Saib, ia melangkahkan kaki dengan mantap menuju negeri yang jauh, menghindar dari upaya jahat musuh-musuh Allah : Abu Jahal dan Kaum Quraisy yang semakin brutal.

Hijrah ke Habasyah berlangsung dua gelombang dan mereka semakin mantap di jalur keimanan. Memang, dua gelombang hijrah ke Habasyah itu telah menampilkan corak perjuangan mulia tersendiri dalam membela Islam. Orang-orang yang beriman dan mengakui kebenaran Rasulullah saw. serta mengikuti Nur Ilahi yang diturunkan kepada beliau. Mereka telah muak terhadap pemujaan berhala dengan segala kesesatan dan kebodohannya. Dalam diri mereka telah tertanam fitrah yang tidak bersedia lagi menyembah patung-patung yang dipahat dari batu atau dibentuk dari tanah liat.

Ketika berada di Habasyah, mereka berhadapan dengan satu agama yang terorganisasi dan tersebar luas; mempunyai gereja-gereja dan para pendeta. Agama itu sangat berbeda dengan agama yang dianut para penyembah berhala yang selama ini mereka temui di negara mereka.

Para pendeta dan rahib di Habasyah tidak henti-hentinya berusaha menarik orang-orang Islam ini untuk masuk ke agama Nasrani.

Akan tetapi, kaum muslimin tetap setia kepada Islam dan Rasulullah. Dengan hati rindu dan gelisah mereka menunggu waktu untuk pulang ke kampung halaman tercinta, untuk beribadah kepada Allah yang Maha Esa dan berdiri di belakang Nabi, di dalam masjid  pada waktu damai, dan di medan tempur saat mempertahankan diri dari ancaman musyrikin.

Rombongan kaum muslimin ini tinggal di Habasyah dengan aman dan tenteram, termasuk Utsman bin Mazh’un. Namun, ia tidak dapat melupakan upaya jahat dan penderitaan yang ia terima dari saudara sepupunya, Umayyah bin Khalaf. [yy/chanelmuslim]