fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Di Rumah Kabsyah binti Rafi' Terpancar Cahaya Islam

Di Rumah Kabsyah binti Rafi' Terpancar Cahaya Islam

Fiqhislam.com - Nama lengkapnya Kabsyah binti Rafi' bin Muawiyah bin Ubaid bin al-Abjar al-Khudhriyah. Ia istri dari Mu'adz bin Nu'man yang berasal dari Bani Asyhal. Dari pernikahannya, ia dikaruniai enam anak, yaitu Sa'ad, Amru, Iyas, Aus, Aqrab, dan Ummu Hizam.

Kabsyah termasuk wanita Anshar pertama yang dibaiat oleh Rasulullah SAW. Bersama dengan Ummu Amir binti Yazid dan Hawa binti Yazid, ia menyambut dakwah Rasulullah SAW di Madinal al-Munawaroh.

Kabsyah tercatat dalam sejarah sebagai perempuan berilmu pada awal masa keislaman. Dari rumahnya terpancar cahaya Islam. Abu Malik Muhammad bin Hamid dalam bukunya 150 Perempuan Shalihah mengatakan, bau wangi senantiasa melingkupi Madinah yang berasal dari rumah Kabsyah.

Kabsyah dikenal sebagai wanita yang kukuh dalam keimanan. Sikap ini ia tunjukkan dalam jihad dan kesabaran. Setidaknya ia telah mengikuti dua perang di masa Rasulullah SAW, yaitu Perang Uhud dan Perang Khandaq.

Dalam Perang Uhud, ia bersama para wanita. Dari Madinah tersebar kabar bahwa beberapa orang Muslim telah syahid dan konon ada anaknya di sana, Amru bin Muadz. Amru bin Muadz menerjang barisan kaum musyrik.

Ia berhadapan dengan Dharar bin Khaththab dan dibunuh olehnya. Kabsyah bersegera lari ke medan perang. Kematian anaknya membuatnya merasa perih, namun ia berlari mencari Rasulullah SAW.

Ia berharap akan keselamatan Beliau SAW. Ketika mengetahui Rasulullah SAW selamat, ia bertahmid kepada Allah SWT dan merasa penderitaannya tiada berat.

Rasulullah SAW bersabda, "Hai Ummu Sa'ad, ada kabar gembira dan sampaikan kabar gembira ini kepada keluarga mereka. Bahwa keluarga mereka yang meninggal dunia semuanya masuk surga. Dan keluarga yang ditinggalkan akan mendapat syafaat."

Kabsyah berkata, "Kami rela, ya Rasulullah. Siapa yang akan menangisi mereka setelah ini. Doakanlah ya Rasulullah, untuk orang-orang yang ditinggalkan."

Lalu Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah, hilangkanlah kesedihan hati mereka, lenyapkanlah musibah mereka, dan berikanlah ganti yang baik kepada mereka yang ditinggalkan."

Dalam Perang Khandaq, kegigihan dan kesabaran wanita ini lagi-lagi diuji. Dia bersama Ummul Mukminin, Aisyah RA, berada dalam benteng Bani Haritsah. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya pergi berperang, para wanita, anak-anak, dan orang lanjut usia dikumpulkan di benteng agar mereka selamat.

Menurut Aisyah RA, ia melihat Sa'ad bin Muadz lewat dengan baju besi yang kecil sehingga tangannya terlihat semua. Aisyah sempat mengingatkan tentang baju Sa'ad yang kekecilan dan membahayakan dirinya.

Namun, Kabsyah tidak memperhatikan hal tersebut. Ia begitu mendukung anaknya untuk terjun ke medan jihad.

Sa'ad lalu membawa tombak dan membacakan syair untuk Hamal bin Sa'daniyah al-Kalbi. Syair itu berbunyi, "Aku menetap sejenak untuk menyaksikan pertempuran Hamal, tidak peduli maut menghampiri, jika memang sudah waktunya."

Kabsyah lalu menjawab, "Benar anakku, demi Allah, kamu bisa terlambat." Kabsyah berharap Sa'ad segera menyusul Hamal dan menemani Rasulullah SAW, tak tertinggal walau sebentar.

Lalu Sa'ad berjaga bersama pasukan kaum Muslimin di belakang parit. Namun, takdir memang sudah tergariskan. Baju besi Sa'ad yang tidak tertutup sempurna menjadi jalannya untuk meraih syahid.

Sa'ad terkena panah yang menancap di pangkal lengannya. Darah mengalir dengan deras. Lukanya semakin parah.

Sa'ad lantas berdoa, "Ya Allah, jika Engkau belum mengakhiri perang dengan kaum Quraisy, beri aku kesempatan untuk turut ambil bagian. Tidak ada yang lebih aku senangi untuk diperangi selain kaum yang mengganggu dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya."

Allah mengabulkan doanya dengan mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan pasukan Quraisy.

Setelah berperang, kondisi Sa'ad semakin parah. Dia menemui ajalnya setelah kaum Muslimin menghadapi Bani Quraizhah yang berkhianat. Kabsyah mengantarkan putra tercintanya sampai ke liang kubur.

Rasulullah berkata kepada Kabsyah, "Apakah tidak cukup mengeringkan air matamu dan menghilangkan kesedihanmu bahwa anakmu adalah orang pertama yang Allah tersenyum kepadanya serta bergetar Arsy untuknya."

Perkataan Rasulullah SAW tersebut membuat Kabsyah terhibur. Kabsyah wafat di Madinah setelah kedua anaknya gugur sebagai syahid.

Namanya terukir sebagai sosok Muslimah yang mengantarkan anak-anaknya syahid sampai ke liang kubur. Kabsyah termasuk golongan sahabiyah yang dekat dengan Rasulullah. [yy/republika]