13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Amru bin Ash dan Dzatus Salasil: Saksi Ketaatan dan Kemenangan Tentara Muslim

Amru bin Ash dan Dzatus Salasil: Saksi Ketaatan dan Kemenangan Tentara Muslim

Fiqhislam.com - Sebuah kabar tak sedap terdengar Rasulullah SAW. Kabar buruk itu datang dari  Bani Qudha’ah yang menetap di sebuah daerah bernama Dzatus Salasil.  Penduduk yang tinggal di wilayah itu bersekutu dengan pasukan Romawi alias Bizantium untuk menyerang umat Islam yang berbasis di kota Madinah.

Mendengar ancaman itu, Nabi SAW segera memanggil Amru bin Ash. Sebagai seorang tentara Muslim, Amru segera mengencangkan pakaian dan senjatanya. Ia seakan sudah mengetahui bahwa Rasulullah akan menugaskannya ke medan pertempuran. Amru pun menghadap Nabi Muhammad yang sedang berwudlu.

‘’Hai Amru, sungguh aku ingin mengirimmu ke satu tujuan, lalu Allah menyelamatkanmu dan memberimu ghanimah. Aku pun harapkan untukmu harta itu, harapan yang baik,’’ kata Rasulullah SAW.

‘’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku masuk Islam bukan karena menginginkan harta, tapi ingin berjihad dan tetap bersamamu,’’ ungkap Amru.

Rasulullah SAW lalu membelitkan bendera putih di kepala Amru dan menyerahkan bendera hitam kepadanya. Nabi lalu melepas Amr bersama 300 orang Muhajirin dan Anshar. 
Menurut Abu Muhammad Harist, sebanyak 30 orang di antara tentara Islam itu  adalah pasukan berkuda. Rasulullah menyarankan agar mereka meminta tolong kepada suku Bali, Udhra, dan Balqain.

Amru bin Ash beserta pasukannya melangkah ke medan Perang Dzatus Salasil. Pertempuran itu terjadi pada Jumadil Akhir tahun ke-8 Hijriah. ‘’Beberapa hari setelah kembalinya pasukan Muslimin dari  Perang Mu’tah ke Madinah,’’ ujar Dr Akram Dhiya Al-Umuri dalam Shahih Sirah Nabawiyah.

Bukan tanpa alasan Rasulullah menugaskan Amru untuk memimpin pasukan. Padahal, kala itu, ada Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab yang lebih senior dan mumpuni.  Ternyata, Amru adalah seorang tentara Muslim yang nenek moyangnya berasal dari daerah itu.

‘’Hal itu menunjukkan bolehnya mengangkat pimpinan yang kurang keutamaannya dari yang lebih utama, jika yang kurang keutamaannya itu memiliki sifat-sifat istimewa yang berkaitan dengan tugas itu,’’ tutur Dr Akram.

Pasukan tentara Muslim pun berjalan menuju medan perang dengan berjalan kaki pada malam hari. Mereka  beristirahat sambil mengintai musuh pada siang hari. Amru sengaja menerapkan taktik itu agar stamina pasukannya tetap kuat. Selain itu, pergerakan mereka pada malam hari tak diketahui musuh.

Saat mendekati wilayah musuh, Amru mendapat laporan bahwa kekuatan pasukan lawan begitu besar. Ia pun mengambil langkah cepat dengan memohon penambahan pasukan kepada Rasulullah.  Nabi SAW segera mengirim 200 orang tentara, termasuk di dalamnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

‘’Pasukan bantuan itu dipimpin Abu Ubaidah Amin bin al Jarrah,’’ ungkap Dr Akram. Menurut Amir Asy-Sya’bi (wafat 103 H), Abu Ubaidah ditempatkan sebagai penanggung jawab rombongan Muhajirin, sedangkan Amru menjadi pimpinan kaum Badui. Kedua pasukan yang dikirimkan dari Madinah pun bertemu.

Sempat terjadi perselisihan ketika Abu Ubaidah hendak maju memimpin pasukan. Namun Amru menolak kepemimpinan Abu Ubaidah. ‘’Engkau adalah komandan pasukanmu ini, sedangkan Abu ‘Ubaidah komandan orang-orang Muhajirin,” tutur sebagian pasukan.

Amru berkata, ‘’Kalian adalah bala bantuan yang saya minta.”

‘’Tahukah engkau wahai Amru, yang ditetapkan Rasulullah terakhir adalah, ‘Jika engkau sampai kepada teman-temanmu, maka hendaklah kalian saling menurut (kerja sama).’ Dan apabila engkau tidak menaatiku, maka aku tetap akan menaatimu,’’ kata Abu Ubaidah.

Tongkat komando pun sepenuhnya berada di tangan Amru. Abu Ubaidah sadar bahwa pasukan tentara Muslim tak akan kuat jika di dalamnya terjadi perpecahan.

Malam begitu dingin. Pasukan tentara Muslim menggigil kedinginan. Mereka pun berinisiatif untuk menyalakan api unggun. Mengetahui pasukannya akan menyalakan api, Amru segera melarangnya.

‘’Siapapun yang berani menyalakan api, saya akan lemparnya  ke dalam api itu,’’ cetus Amru.

Pasukan tentara Muslim pun kaget mendengar jawaban itu. Sejumlah tokoh Muhajirin  berusaha untuk membujuk Amru agar mengizinkan pasukan menyalakan api.

“Bukankah kalian diperintah untuk mendengar dan taat kepadaku?’’ Tanya Amru kepada tokoh Muhajirin itu.

‘’Ya, benar,’’ jawab kaum Muhajirin.

“Maka kerjakanlah!”

Umar bin Khattab sempat marah mendengar sikap Amru itu. Umar berniat untuk melabrak Amru.  Untunglah Abu Bakar segera mengingatkannya. ‘’Wahai Umar, sesungguhnya Rasulullah tidak akan mengangkatnya menjadi panglima, melainkan karena keahliannya dalam berperang.’’ Umar pun terdiam.

Dinginnya udara malam menusuk tulang. Tak ada api unggun yang dinyalakan pasukan tentara Muslim. Mereka menaati perintah komandan perang. Ketaatan mereka sungguh luar biasa. Dengan penuh keikhlasan mereka melewati malam dengan tubuh yang menggigil kedinginan.

Pada malam yang dingin itu Amru mimpi basah. ‘’Aku mimpi basah pada malam yang sangat dingin. Aku yakin sekali bila mandi pastilah celaka. Maka aku bertayammum dan shalat shubuh mengimami teman-temanku,’’ ujarnya seperti tercantum dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Hibban dan Ad-Daruquthuny itu.

Pasukan tentara Muslim pun mengobrak-abrik pasukan tentara musuh yang lemah. Setelah bertempur sekitar satu jam, tentara musuh kocar-kacir diserbu pasukan yang dipimpin Amru. Awalnya, kaum Muslimin hendak mengejar mereka, namun Amru melarangnya.

‘’Mengapa Amru melarang kita untuk mengejar mereka, padahal kita nyaris memenangkan peperangan?’’ Tanya sejumlah pasukan. Keputusan Amru itu kembali menuai protes dari Umar bin Khattab.

‘’Bagaimana mungkin dia memerintahkan kita untuk berkumpul padahal pasukan kita sudah dekat sekali dengan kemenangan?’’ ujar Umar.

Lagi-lagi Abu Bakar menenangkan Umar. ‘’Wahai Umar, Rasulullah tidak akan mengangkatnya menjadi panglima, melainkan karena keahliannya berperang. Jika kau lebih baik dari Amr, maka Rasulullah pastilah akan memilihmu.” Umar pun terdiam.

Setelah memenangkan peperangan, Amru mengutus Auf bin Malik al Asyja’i menemui Rasulullah untuk menyampaikan berita tentang apa yang terjadi di Dzatus Salasil dan melaporkan kondisi pasukan. Auf  pun menjelaskan semua yang terjadi di tempat tersebut, termasuk kebijakan Amru yang kontroversial selama di medan perang.


Begitu pasukan Amru tiba di Madinah, Rasulullah berbincang dengan Amru. Nabi SAW mengklarifikasi kabar yang didengarnya dari Auf bin Mali. ‘’Mengapa engkau melarang pasukanmu menyalakan api unggun?’’ Tanya Nabi SAW.

‘’Aku tak setuju pasukanku menyalakan api, seperti pasukan musuh, karena khawatir mereka akan melihat betapa sedikitnya pasukan Muslimin,’’ jawab Amru.

Rasulullah juga menanyakan sikapnya yang melarang pasukan kaum Muslimin mengejar musuh yang telah dilemahkan. ‘’Wahai Rasulullah, aku khawatir pasukan musuh mempunyai bala bantuan yang bersembunyi di balik bukit. Sehingga mereka akan balik menyerang kami.’’

Mendengar penjelasan itu, Rasulullah tersenyum dan memuji tindakan Amru yang sangat berhati-hati itu. Nabi SAW kembali bertanya, ‘’Mengapa engkauelaksanakan shalat bersama pasukanmu, sedangkan diriu sedang junub?’’

“Sesungguhnya saya mendengar Allah berfirman, ‘Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kalian,’’ (An-Nisa: 29). Mendengar hal tersebut, Rasulullah tertawa dan tidak mengomentarinya.

Perang Dzatus Salasil mengajarkan umat Islam untuk taat kepada pemimpin. Kisah itu juga menggambarkan betapa ketaatan dan kerja sama tim yang baik akan membuahkan hasil. Kewaspadaan dan kehati-hatian juga akan menghindarkan umat dari kesalahan dan kekalahan.

Dzatus Salasil adalah saksi ketaatan kaum Muslimin. Dzatus Salasi adalah nama sebuah tempat yang bisa ditempuh dalam 10 hari perjalanan kaki. Letaknya berada di bagian utara Madinah. Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Al-Hadits Al-Nabawi, Dzatus Salasil merupakan sumur Bani Judzam.

‘’Sekarang, Dzatu Salasil terletak di barat laut Kerajaan Arab Saudi, di timur pelabuhan al-Wajh dan Duba,’’ tutur Dr Syauqi.

yy/republika.co.id