5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Al-Kindi, Jembatan Filsafat Islam dan Yunani

Al-Kindi, Jembatan Filsafat Islam dan Yunani

Fiqhislam.com - Abu Yusuf Yaqub bin Ishaq adalah salah satu filsuf Islam terkemuka. Dunia mengenalnya sebagai al-Kindi. Dunia melihatnya sebagai jembatan bagi filsafat Yunani dan Islam.

Al-Kindi hidup sebagai cendekiawan brilian abad kesembilan ketika Dinasti Abbasiyah berkuasa di Baghdad, Irak. Ia adalah orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada putra khalifah. Dia gemar mempelajari pemikiran Aristoteles yang telah diterjemahkan.

Sumbangsih al-Kindi yang paling signifikan adalah terminologi filsafat dan pengembangan kosakata filsafat dalam bahasa Arab. Karyanya ini dilanjutkan oleh Ibnu Sina pada abad ke-11.

Al-Kindi adalah orang yang mengawali debat mengenai filsafat dalam Islam ortodoks. Gagasan al-Kindi mungkin terdengar tidak revolusioner.

Namun, pada masanya, mengembangkan ilmu pengetahuan asing bisa dianggap cukup mengagumkan. Saat itu filsafat dianggap sebagai ilmu pengetahuan asing yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan Arab, seperti tata bahasa dan studi Alquran.

Al-Kindi berasal dari etnis Arab dari suku Kinda. Ia lahir dan mengenyam pendidikan di Kufa sebelum melanjutkan pendidikan di Baghdad. Ia meninggal dunia di Baghdad antara 866-873 M. Ia dikenal sebagai filsuf Arab. Tidak banyak yang diketahui mengenai kehidupan pribadi al-Kindi.

Berbeda dengan filsuf sebelumnya yang meski Muslim, bukanlah berasal dari Arab. Ilmuwan ini biasanya mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kedua mereka. Ia memiliki daftar karya yang panjang, yang sayangnya hilang sehingga tidak banyak ilmuwan modern yang bisa mempelajari naskahnya.

Tulisan al-Kindi tidak terlalu populer karena dibayang-bayangi filsuf lain yang lebih terkenal, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina.

Ilmuwan Renaisans dari Italia, Geralomo Cardano (1501-1575), menganggapnya sebagai salah satu dari 12 pemikir besar di abad pertengahan.

Menurut Ibnu al-Nadim, al-Kindi telah menulis sedikitnya 260 buku, buku mengenai geometri sebanyak 22 buku, medis dan filsafat masing-masing 22 buku, sembilan buku logika, dan 12 buku fisika.

Pengaruhnya di berbagai bidang tersebut jauh melebihi ilmuwan-ilmuwan di zamannya dan bertahan selama berabad-abad. Karyanya yang masih tersisa terdapat dalam bentuk terjemahan Latin oleh Gerard dari Cremona, hanya sedikit dalam bahasa Arab.

Kaligrafer Andal

Al-Kindi adalah orang yang memperkenalkan ilmu filsafat kepada penguasa Abbasiyah. Bukan itu saja, kemampuannya meliputi banyak bidang, termasuk obat-obatan, matematika, musik, astrologi, dan optik.

Di bidang yang lebih praktis ia juga menyumbangkan pikiran mengenai parfum, pedang, perhiasan, gelas, zoologi, cermin, meteorologi, dan gempa bumi.

Ia juga dikenal sebagai penulis kaligrafi yang indah. Karena keindahan tulisannya, Khalifah Mutawwakil menunjuknya sebagai penulis kaligrafi istana.

Dalam ilmu matematika, al-Kindi berperan penting memperkenalkan numerik India kepada dunia Islam dan Kristen. Dia adalah penggagas kriptanalisis. Dia menemukan sejumlah metode baru untuk memecahkan kode-kode rahasia.

Dengan keahliannya di bidang matematika dan medis, ia mampu mengembangkan skala bagi dokter sehingga mereka mampu menghitung potensi obat yang mereka gunakan.

Dia juga adalah guru bagi putra Khalifah, al-Mu'tasim. Penulis bibliografi Islam abad pertengahan, al-Qifti, mengatakan, al-Kindi sangat menguasai seni Yunani, Persia, dan Hindu. Al-Kindi menggunakan terjemahan filsafat Yunani ke bahasa Arab yang memudahkannya mempelajari tradisi Hellenistik.

Karya-Karya Sang Filsuf

Karya al-Kindi yang sangat terkenal antara lain di bidang studi metafisis, yaitu Fi al-Falsafa al-Ula (Filsafat Pertama).

Pengaruh Aristoteles sangat terasa di beberapa elemen, misalnya pada bab mengenai pertanyaan awal mula terbentuknya dunia. Aristoteles juga mengajarkan mengenai kesejatian dunia.

Dalam Fi al-Falsafa al-Ula, al-Kindi menjelaskan filsafat pertama yang juga termasuk filsafat tertinggi. Filsafat pertama adalah pengetahuan mengenai penyebab pertama. Penyebab pertama dianggap sangat utama karena menjabarkan penyebab adanya waktu.

Dengan mempelajari filsafat, orang akan belajar pengetahuan di alam realitas dan akan bisa mempelajari keilahian dan keesaan Tuhan. Manusia juga akan belajar mengenai kualitas manusia. Al-Kindi menekankan pentingnya intelektual (aql) dan membandingkannya dengan masalah.

Ia mendiskusikan mengenai Tuhan dan bahwa Tuhan tidak memiliki atribut atau karakteristik tertentu. Aspek lain adalah kesatuan Tuhan yang absolut dan kekuasaannya sebagai pencipta. Tidak ada sebelum Tuhan karena Ia abadi. Keabadian ini tidak bisa diubah, absolut, dan tidak ada ujungnya.

Karyanya yang lain adalah Fi Wahdaniya Allah wa Tunahiy Jirm al-Alam (Kesatuan Tuhan dan Terbatasnya Dunia) dan Fi Kammiya Kutub Aristutalis wa Ma Yahtaj Ilahi fi Tahsil al-Falsafa (Kuantitas Buku Aristoteles dan yang Diperlukan untuk Memperoleh Filsafat).

Saat menulis filsafat, ia tidak banyak berargumen mengenai agama. Ia justru dengan konsisten menunjukkan bahwa filsafat sangat sesuai dengan nilai-nilai Islam ortodoks. Tulisannya mengenai ilmu etis tertuang dalam Fi al-Hila li Daf al-Ahzan (Seni Mencegah Kedukaan).

Al-Kindi memperoleh pemahaman tentang astronomi dari Ptolemy yang menempatkan Bumi sebagai pusat tata surya (Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan bintang).

Ia mengatakan, pusat tata surya tersebut berada dalam rangkaian yang rasional di mana gerakan berputarnya merupakan bentuk kepatuhan dan pemujaan terhadap Tuhan.

Oleh Ani Nursalikah
yy/republika.co.id