14 Safar 1443  |  Rabu 22 September 2021

basmalah.png

Khawla Binti Azwar, Mujahidah Pemberani

Khawla Binti Azwar, Mujahidah Pemberani

Fiqhislam.com - Wanita adalah sosok yang memiliki fitrah lemah lembut. Tapi, jika panggilan jihad sudah digelorakan, kaum wanita pun bangkit dan memiliki andil dalam perjuangan Islam.

Para sahabiyah turut membantu di medan jihad dengan membantu mengobati pasukan kaum Muslimin yang terluka. Perjuangan mengobati pasukan kaum Muslimin bukan hal yang ringan. Mereka bisa terbunuh atau ditawan musuh jika kaum Muslimin menderita kekalahan.

Namun, ada satu sosok sahabiyah yang tak berhenti mengobati kaum Muslimin yang terluka saat jihad. Dia tidak bisa tinggal diam ketika agama Allah dikoyak musuh Islam. Dialah Khawla Binti al-Azwar. Sosok mujahidah nyata di medan perang.

Dia bangkit mengangkat pedangnya, memakai baju ksatria dan menembus barikade musuh dengan kudanya. Khawla adalah legenda dari kaum Muslimah. Ia disejajarkan dengan Umar bin Khattab RA dan Khalid bin Walid RA dalam hal keberaniannya berjihad.

Ia memberikan teladan nyata jika seorang Muslimah pun tidak boleh gentar dalam menghadapi ancaman nyata dalam dakwah. Khawla adalah putri kepada suku Bani Assad. Kaumnya sudah memeluk Islam jauh sebelum Khawla dilahirkan. Ayahnya bernama Malik atau Tariq bin Awsi. Julukannya ayahnya adalah al-Azwar. Khawla memiliki kakak laki-laki bernama Dhirar al-Azwar.

Kakaknya termasuk pemuda Islam yang pemberani. Ia mahir bermain pedang. Keahlian bertempur dengan pedang dan kuda didapatkan Khawla dari bimbingan kakaknya. Kedekatan keduanya seperti tak terpisahkan.

Khawla juga dikenal dengan kemampuannya dalam bidang sastra. Secara fisik, Khawla tumbuh menjadi Muslimah berparas cantik. Tubuhnya tinggi sehingga saat berjalan terselip keanggunan sekaligus kegagahan seorang pejuang Islam.

Kisah kepahlawanan Khawla tergambar jelas dalam perang melawan pasukan Romawi di daerah Ajnadin, tempat yang tidak jauh dari Yerusalem. Ia berangkat bersama sahabiyah lainnya sebagai tim medis.

Sementara, kakaknya, Dhirar, menjadi pasukan utama di bawah komando Khalid bin Walid. Dalam pertempuran ini, Khawla akan menemui takdirnya. Ia bahkan disebut lebih berani dari semua pasukan pria yang dipimpin Khalid.

Seperti diceritakan dalam buku The conquering of al-Sham yang ditulis sejarawan Arab al-Waqidi. Ketika perang berkecamuk, Dhirar kehilangan tombaknya dan terjatuh.

Ia pun ditawan pasukan Romawi. mengetahui kakaknya ditawan musuh, Khawla langsung bangkit dan mengenakan pakaian perang serta membawa pedang dan memacu kudanya.

Tanpa ragu, ia menerobos pasukan Romawi yang coba mengadangnya sendirian. Pasukan kaum Muslimin dan pimpinannya Khalid bin Walid pun dibuat takjub dengan keberanian luar biasa tentara Allah tersebut.

Khalid melihat sesosok ksatria dengan baju perang hitam dan selendang hijau. Ia sendirian merangsek ke pasukan Romawi. Dengan tebasan pedangnya, beberapa pasukan Romawi berhasil dirobohkan
 
Melihat keberanian ksatria itu, Khalid dan pejuang Muslim lainnya pun bergabung. Meskipun, pertanyaan menyelimuti mereka, siapakah identitas ksatria yang gagah berani itu? Sempat beberapa saat para pejuang lainnya mengira bahwa ksatria itu adalah Khalid. Tapi, tiba-tiba Khalid muncul sehingga mereka terheran, jika bukan Khalid lalu siapa dia.

"Siapa kesatria itu? Demi Allah, ia tidak menghargai keselamatannya!" ujar Khalid.

Terlihat oleh para pejuang Muslim lainnya, ksatria tersebut berada di tengah-tengah musuh. Sesekali, ia menghilang dan tak terlihat. Kemudian, muncul beberapa saat dengan darah musuh yang menetes di pedangnya. Tindakannya yang berani hanya membuat pasukan Muslimin kagum dan mendoakan keselamatannya.

Dalam pertempuran itu, bangsa Romawi akhirnya kalah perang dan melarikan diri. Usai pertempuran itu, Khalid mencari ksatria yang berjuang gagah tersebut.

Khalid memuji ksatria itu dan memintanya melepaskan penutup wajahnya. Tapi, ksatria itu tidak menjawab dan berusaha menjauh dari pasukan kaum Muslimin.

Tentunya, para pejuang pun tidak membiarkan hal itu dan meminta ia mengungkapkan identitasnya.

Dikarenakan tidak menemukan cara untuk melarikan diri, ia menjawab dengan suara lirih dan lembutnya, "Saya tidak bisa menjawab karena saya malu kepada Anda. Anda adalah pemimpin besar dan saya hanya seorang wanita yang hatinya terbakar," ujar ksatria itu.

Dengan pernyataannya itu, Khalid semakin bersikeras memintanya untuk mengungkapkan identitasnya. "Saya Khawla binti al-Azwar. Saya bersama para pejuang ketika saya mengetahui musuh telah menangkap saudara saya. Maka, saya melakukan apa yang harus saya lakukan," jelas Khawla.

Setelah mengetahui cerita jelasnya, Khalid memerintahkan pejuang untuk mengejar pasukan Romawi dan membebaskan para tahanan. Dalam operasi itu, Khawla pun kembali bergabung dengan pejuang dan berhasil menyelamatkan saudaranya.

Dalam pertempuran lainnya dengan pasukan Romawi, ia yang memipin serangan itu. Saat itu, tanpa diduga pasukan Romawi menyerbu kamp wanita dan menangkap beberapa dari mereka, termasuk Khawla.

Ternyata, para wanita yang ditangkap itu untuk diserahkan kepada komandan mereka. Khawla pun marah dengan hal itu dan berpikir bahwa kematian lebih terhormat dibandingkan hidup dalam kehinaan.

Seketika, ia pun berdiri dan menyerukan wanita lainnya untuk melawan dan memperjuangkan hidup mereka. Pada akhirnya, para wanita itu mengambil tiang dan pasak tenda dan menyerang para penjaga. Mereka pun membentuk lingkaran ketat, semua dilakukan dengan komando dari Khawla. Dan, kemenangan kembali diraih begitu pula dalam pertempuran lainnya.

Sosok Khawla yang selalu memberikan contoh keberanian dan keteguhannya terhadap Islam menjadikan ia sebagai sosok pejuang Muslimah yang melegenda. [yy/republika]