pustaka.png
basmalah.png.orig


3 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 13 Juni 2021

Engkau Akan Terbunuh, Hasan!

Mana hari-hariku yang lepas dari intaian maut
Kalau tak hari ini, di hari lain ia menjemput
Saat aku tak mampu menghindar, tak bakal aku lari
Telah ditakdirkan, manusia mustahil memungkiri

*****

Engkau Akan Terbunuh, Hasan!

Fiqhislam.com - Bait yang penuh duka itu terselip di senyum Imam Syahid Hasan Al-Bana. Beliau melantunkan puisi itu ketika beberapa anggota Ikhwan menasihati Imam syahid agar bersembunyi atau melarikan diri ke suatu tempat. Rencana pembunuhan terhadap Imam syahid sudah semakin jelas, dan Mesir berada pada titik yang sangat mencekam.

Sebagaimana lazimnya pemimpin politik dan ketua partai diperbolehkan memegang senjata api, Imam Syahid pun memiliki sepucuk pistol. Namun kemudian benda ini dirampas agar ia tidak bisa mempertahankan dirinya. Seterusnya mobil yang selama ini dipakainya pun disita pula. Padahal, mobil ini milik saudara perempuannya. Saudara Imam Syahid—Abdul Basith Al-Bana—tidak lepas dari ancaman. Iapun ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Imam Syahid sama sekali tidak gentar dengan situasi itu. Ia malah suatu kali mendatangi penguasa. Dengan tandas, Imam Syahid berujar, “Apabila Tuan-Tuan membubarkan Ikhwanul Muslimin dan menangkap seluruh anggotanya dan menjebloskan mereka ke dalam penjara, tangkap pula saya. Karena sayalah yang mendidik mereka. Tuan-Tuan boleh membunuh saya tanpa harus menangkap lebih dahulu. Adalah haram bagi saya bebas sedangkan mereka—saudara-saadara saya—berada di penjara. Biarkan saya menyertai mereka dalam penjara.”

Namun para penguasa itu menjawab, “Tidak!”

Imam Syahid menarik nafas, “Jika demikian, biarkanlah saya pergi ke salah satu negara Arab dan tinggal di sana untuk selamanya. Biarkanlah saya meninggalkan Mesir selamanya untuk hijrah sampai saatnya Allah memanggil saya.”

Mereka kembali menjawab, “Tidak!”

Seterusnya Imam Syahid berujar. Ia tidak cukup mengerti apa keinginan para penguasa itu, “Jika begitu, tempat saya di Paviliun Al-Hajj Abdullah An-Nabrawi.”

Mereka tetap menjawab, “Tidak!”

Imam Syahid mengerutkan dahi. Lalu harus bagaiamana?

Jauh-jauh hari Imam Syahid sudah menyadari risiko dan tanggungan apa yang diperbuatnya. Maut dapat sewaktu-waktu menjemput.

Ia menitipkan 150 pounds kepada Syeikh Abdul Latif Asy-Sya’Syai. “Tolong, berikan uang ini kepada janda-janda papa dan lapar yang tidak memiliki apa-apa lagi. Saya menerima uang ini dari seseorang.”

Imam Syahid adalah penopang hidup kaum wanita yang kelaparan. Suami wanita-wanita itu dijebloskan ke dalam Penjara Thur. Kalbu laki-laki ini sangat kasih terhadap istri-istri dan anak-anak sahabatnya.

Suatu malam, Imam Syahid terbangun dari tidurnya. Ia menceritakannya kepada anggota Ikhwan yang setiap hari bertambah, padahal kondisi tengah genting. “Saya bermimpi bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Ia berkata kepada saya, ‘Engkau akan terbunuh, ya Hasan!’. Saya terbangun dan mengucapkan puji kepada Allah. Lalu saya kembali tidur, namun suara beliau kembali terdengar olehku, ‘Engkau akan terbunuh, ya Hasan!’. Sayapun bangkit dan salat hingga fajar tiba…”

Semua anggota Ikhwan tertegun mendengar itu. Nampaknya ini merupakan peringatan baginya agar ia bersiap-siap untuk bertemu dengan Allah.

Semua hari terasa beku. 9 Februari 1949, Abdullah An-Nabrawi—orang yang menyediakan paviliunnya sebagai tempat Imam Syahid berlindung—ditangkap. Keesokan harinya Imam Syahid mendapat undangan dari Muhammad An-Naghi. Imam Syahid tidak menaruh curiga, karena undangan serupa juga diberikan kepada Muhammad Yusuf Al-Laitsi—Ketua Seksi Pemuda Jamiyya’t AsySyubban.
Muhammad Yusuf menjemput Imam Syahid untuk memenuhi undangan An-Naghi.

Namun ternyata, An-Naghi tidak menampakkan batang hidungnya pada undangan itu. Barulah keesokan harinya An-Naghi datang. Sesaat setelah pertemuan itu usai, pemerintah menuntut Imam Syahid agar menyerahkan semua senjata dan kantor berita Ikhwan yang pernah berhasil menyingkapkan rencana migrasi Zionis ke Israel di Timur Tengah sebelum berdiri negara Israel di Palestina.
Imam Syahid menjawab tegas, “Saya sama sekali tidak menguasai persoalan ini. Satu-satunya alternatif untuk membicarakan masalah ini adalah dengan membebaskan semua anggota Ikhwan yang kini meringkuk di penjara.”

Imam Syahid lalu keluar ditemani oleh sahabat karibnya, Abdul Karim Manshur SH menuju taksi yang telah dipesan sebelumnya. Muhammad Yusuf Al-Laitsi menyertainya, namun ketika sampai ke pintu, seorang pesuruh kantor Jamiyaat As-Syubban berkata kepada Al-Laitsi; “Ada telepon untuk Tuan…”

Al-Laitsi bergegas masuk ke dalam, dan tiba-tiba semua lampu di seluruh Jalan Ramses itu padam. Angin berhembus sangat kencang. Sekeliling Imam syahid menjadi gelap. Dan sepi. Tidak ada orang-orang di kedai kopi. Tidak ada para pedagang. Daerah itu hanya menyisakan sunyi. Imam Syahid masih tampak tenang.

Hanya ada satu taksi di jalan itu. Bahkan tidak ada arus lalu lintas. Akhirnya karena tidak ada pilihan lain, Imam Syahid menggunakan taksi itu. Seketika Imam Syahid memasuki taksi beserta sahabatnya Abdul Karim Manshur, sekonyong-konyong terdengarlah letusan senapan yang membabi buta. Rententan senapan itu menembak apa saja dalam mobil taksi itu. Ketika usai, dan mobil taksi sudah tak karuan lagi bentuknya, sebuah mobil hitam dengan nomor polisi 9979 melesat kabur.

Iman Syahid ternyata masih sangat perkasa. Tergopoh-gopoh ia turun dari taksi itu dan mengambil semua barang yang dibawanya. Dengan ingatan yang seadanya, ia memutar nomor telepon meminta pertolongan darurat. Imam Syahid segera dilarikan ke markas PPPK, lalu dipindahkan ke RS AL-Qashr Al-Aini. Seorang dokter muslim datang hendak menolongnya, namun ia dilarang masuk. Tidak ada yang menolong Imam Syahid ketika itu. Sebuah konspirasi global tengah dijalankan.

Akhirnya karena darah yang tak henti-hentinya mengucur, Imam Syahid menghembuskan nafas terakhir. Berita kematiannya disampaikan kepada ayahnya, namun penguasa tidak akan menyerahkan jenazah Imam Syahid kecuali dengan syarat: tidak melakuan pengusutan terhadap kematiannya. Dan tidak ada upacara yang mengiringi kematiannya.

Ayah Imam Syahid yang sudah lemah ini menerima syarat tersebut. Jenazah Imam Syahid diserahkan namun semua orang dilarang mendekati rumah duka atau mengiringkan jenazahnya ke peristirahatannya yang terakhir. Jenazah dimandikan dan dikafani sendiri oleh ayahnya. Tidak ada orang yang menyampaikan takziah.

Tiada siapapun, kecuali ayah tua, Ubaid pasha, dan tiga orang wanita. Jenazah disalatkan di Mesjid Qaisun, lalu diusung ke dalam mobil dengan moncong-moncong senapan yang mengawalnya sampai ke Pemakaman Al-Imam Syafii—sebuah kuburan yang nyaris rata dengan tanah.

Mesir nyaris diam. Awan hitam berarak-arak menyelimuti. Semua orang di Mesir tumpah ruah dalam air mata duka. Sebuah puisi sedih Imam Syahid tiba-tiba kembali diingat oleh semua anggota Ikhwan. Mereka ingat, ada sejumput senyum dalam senandung puisi itu. [yy/islampos]