fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


10 Ramadhan 1442  |  Kamis 22 April 2021

8 Keunggulan Umar, Jadi Alasan Sebagai Teladan

8 Keunggulan Umar, Jadi Alasan Sebagai Teladan

Fiqhislam.com - Umar bin Khaththab merupakan salah satu sahabat Nabi yang sangat taat dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Padahal, jika kita tengok sejarah, Umar ini termasuk orang yang sangat menentang terhadap Nabi. Ia juga terkenal dengan keganasan dan keberingasannya. Tapi, lihatlah ia ketika telah masuk Islam. Ia rela mengabdikan diri, baik itu jiwa, raga bahkan harta, hanya untuk membela Islam.

Oleh karena itu, kita patut untuk meneladani Umar sebagai contoh yang baik bagi diri kita. Berikut ada delapan alasan, mengapa kita harus meneladani Umar. Niscaya mata Anda akan terbelalak! Betapa tidak? Ternyata Umar bukan saja tegas dank eras, tapi juga bijak dan kaya.

Pertama, Umar diteguhkan oleh Nabi. Suatu ketika, Nabi pernah berpesan, “Ikutilah dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.” Pernah pula Nabi berpesan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar.” Bahkan sewaktu Umar melakukan ijtihad, terdapatlah 15 kesesuaian antara ijtihad Umar dengan wahyu al-Quran. Inilah keistimewaan khususnya.

Kedua, Umar dikaruniai keunggulan tersendiri. Umar sebagai khalifah kedua memerintahkan dalm waktu yang jauh lebih lama daripada Abu Bakar, khalifah pertama. Hebatnya lagi, di zaman Umar, hamper tidak ada perselisihan pendapat di antara umat. Berbeda dengan di zaman Utsman bin Affan, khalifah ketiga. Memang, masing-masing khalifah dikaruniai keunggulan tersendiri.

Ketiga, Umar adalah khalifah terbesar menurut Michael Hart di bukunya 100 Tokoh Paling Berengaruh dalam Sejarah. Makanya, Michael Hart, setelah meletakkan Nabi pada posisi ke-1, ia langsung meletakkan Umar pada posisi ke-51, jauh di atas Julius Caesar dan Charlemagne. Terbukti, hanya dalam waktu 10 tahun, Umar berhasil memukul mundur Romawi dan Persia (dua adidaya saat itu), serta mengambil alih Syiria, Irak, Iran, Palestina, Turki, Mesir dan Afrika Utara.

Keempat, Umar memiliki toleransi beragama. Kala pasukan Muslim berhasil menaklukan Yerussalem, Uskup Sophronius enggan menyerahkan kunci Yerussalem. Sang Uskup hanya mau menyerahkannya kepada Umar secara pribadi. Rupa-rupanya mereka masih trauma dengan direbutnya Yerussalem oleh pasukan Persia yang diiringi dengan pengrusakan, pemerkosaan, dan penistaan di tempat-tempat suci. Sebagai penakluk, sebenarnya Umar tidak harus menuruti kemauan Sang Uskup. Namun, Umar maklum.

Maka, datanglah Umar ditemani seorang pengawal. Mereka berdua bergantian menunggangi seekor kuda. Ketika bertemu, Sang Uskup dan pembesar-pembesar gereja berpakaian serba berkilau, sementara ia berpakaian biasa-biasa saja, terbuat dari bahan yang kasar dan murah. Tepat di depan Gereja Makam Suci Yesus, Sang Uskup menyerahkan kunci itu kepadanya. Kelak Sang Uskup mengaku, “Saya tidak menyesal menyerahkan kunci kota suci ini, karena saya telah menyerahkannya kepada umat yang unggul.”

Masih soal toleransi. Umar juga pernah menegur keras bawahannya –Amr bin Ash- yang telah menggusur tanah seorang Yahudi tua. Yang mana, di atas tanah itu dibangun sebuah masjid. Akibat teguran keras itu, Amr bin Ash terpaksa membongkar sebagian masjid dan mengembalikan tanah tadi kepada si Yahudi tua.

Kelima, Umar membolehkan untuk kekuatan apabila memang diperlukan. Sewaktu Umar melewat ke negeri Syam, ia disambut Muawiyah dengan arak-arakan yang megah dan gagah. Kontan saja Umar menegurnya. Maka Muawiyah pun menjelaskan, “Daerah ini banyak mata-mata. Kami harus menunjukkan kemuliaan pemimpin kami, sehingga membuat mereka gentar.” Siasat ini diterima oleh Umar bahkan dianggapnya siasat yang cemerlang dan gemilang.

Umar membolehkan untuk kekuatan apabila memang diperlukan. Sewaktu Umar melewat ke negeri Syam, ia disambut Muawiyah dengan arak-arakan yang megah dan gagah. Kontan saja Umar menegurnya. Maka Muawiyah pun menjelaskan, “Daerah ini banyak mata-mata. Kami harus menunjukkan kemuliaan pemimpin kami, sehingga membuat mereka gentar.” Siasat ini diterima oleh Umar bahkan dianggapnya siasat yang cemerlang dan gemilang.

Keenam, Umar menjadikan kerja sebagai bentuk ibadah tertinggi. Ia pernah berpetuah, “Aku tetapkan kalian tiga berpergian: berhaji, berjuang di jalan Allah, dan berunta demi mencari sebagian karunia Allah.” Bahkan ia menganggap syahid seseorang yang meninggal dalam perjalanan terakhir. Untuk lebih jelasnya, pastikan simak riwayat berikut.

Sekali waktu, Umar menanyakan nafkah seseorang yang tekun beribadah di masjid. Orang itu menjelaskan, “Aku memiliki saudara yang mencari kayu. Lalu dia mendatangiku dan mencukupiku.” Lantas ditanggapi Umar, “Berarti saudara engkau lebih beribadah daripada engkau.” Di zaman Nabi hal serupa pernah terjadi. Saat sekelompok orang membiayai haji seseorang, maka Nabi menilai sekelompok orang itu lebih baik daripada orang dibiayai tersebut.

Lain waktu Umar bertanya kepada seseorang yang sudah lanjut usia, “Apa yang menghalagi engkau untuk menanami tanah engkau?” Maka dijawablah, “Aku ini sudah tua renta. Mungki saja aku meninggal besok.” Lantas apa tanggapan Umar? Langsung saja ia menyuruh orang itu untuk menanam, bahkan ia sempat menemani menanam.

Masih soal kerja, Umar pun sering menasihati, “Cukupilah diri engkau, niscaya akan lebih terpelihara agama engkau dan lebih mulia diri engkau.” Bukan cuma menasihati, Umar juga melakukan apa yang ia nasihatkan. Misalnya saja, begitu selesai shalat shubuh, ia selalu bergegas menuju kebunnya di Juruf. Ia berusaha mencukupi dirinya.

Terkait ini Nabi pun pernah berwasiat, “Di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat. Ia hanya dapat dihapus dengan berususah payah mencari nafkah.” Wasiat yang lain, “Allah menyukai hamba yang berkarya dan terampil. Sesiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka ia serupa dengan seorang pejuang di jalan Allah.” Sekali lagi, kerja adalah bentuk ibadah yang tertinggi.

Ketujuh, Umar memaknai produksi dan konsumsi secara tepat. Di satu sisi, ia menggalakkan produksi yang sebesar-besarnya, agar dapat memakmurkan orang sebanyak-banyaknya. Salah satu buktinya, ia mengutamakan pembangunan pasar dan masjid di daerah-daerah taklukan. Ia juga mengizinkan Utsman bin Abul Ash mengelola lahan tidur. Di sisi lainnya, ia menggalakkan konsumsi yang sehemat-hematnya. Ini terlihat dari kesederhanaan makanan dan pakaiannya sehari-hari.

Kedelapan, Umar mengajak pekerja untuk memiliki pendapatan tambahan. Kurang lebih nasihatnya begini, “Jika keluar gaji, maka sebagian belikan kambing. Demikian pula gaji selanjutnya. Jadikan itu harta pokok.” Inti dari nasihat ini, hendaklah pekerja memiliki asset produktif yang bisa mencetak uang terus menerus. Umar juga mengajak orang-orang untuk berdagang. Nasihatnya, “Berdagang itu merupakan sepertiga harta.” Ia sendiri memiliki 70.000 properti senilai triliunan rupiah.

Jelaslah sudah, Umar bukan saja keras dan tegas, tapi juga bijak dan kaya. Amat layak untuk diteladani. 

yy/islampos
Sumber: Percepatan Rezeki dalam 40 Hari dengan Otak Kanan
Karya: Ippho ‘Right’ Santosa
Penerbit: PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia