12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Abu Hurairah, Sang Pengkhidmat Rasulullah Saw yang Diberkati

Abu Hurairah, Sang Pengkhidmat Rasulullah Saw yang Diberkati

Fiqhislam.com - Di kalangan sejarawan Islam, sosok Abu Hurairah dikenal sebagai seorang penghafal yang mahir. Abu Hurairah pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasulullah SAW terus menerus dan secara tetap menyertai majelisnya.

Dia dikaruniai daya ingat yang luas dan kuat. Kemampuannya ini diperkuat dengan doa dari Rasulullah SAW padanya, "Semoga pemilik bakat ini diberi keberkahan oleh Allah SWT."

onislam.net menuliskan bahwa Abu Hurairah mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya dengan menghafalkan hadits dan Alquran. Sehingga saat Rasulullah wafat, Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan hadits di tengah majelis.

Hal tersebut membuat para sahabat Rasulullah keheranan, dari mana datangnya hadits-hadits ini, kapan didengar oleh Abu Hurairah, dan diendapkannya dalam ingatan.

Kemampuan Abu Hurairah yang luar biasa dalam mengingat hadist disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama, karena ia melowongkan waktu untuk menyertai Nabi Muhammad SAW lebih banyak dari para sahabat lainnya.

Kedua, karena ia memiliki daya ingatan kuat yang telah diberi berkat oleh Rasulullah dan Allah SWT hingga semakin kuat. Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits merupakan tanggung jawabnya terhadap agama dan hidupnya.

Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya. Oleh sebab itulah ia harus memberitakan, tak suatupun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya.

Pada suatu hari Amirul Mu'minin Umar bin Khatab berkata kepada Abu Hurairah,"Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari  Rasulullah!  Bila tidak, maka akan kukembalikan  kau ke tanah Daus!" (yaitu tanah kaum dan keluarganya).

Tetapi, larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali Alquran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran.

Saat sedang dihimpunnya mushaf Alquran saat itu rentan terjadi kesimpangsiuran dan campur-baur antara konten Alquran dan hadist.

Oleh karena ini, Umar berpesan: "Sibukkanlah dirimu dengan Alquran karena dia adalah kalam Allah…". Dan katanya lagi : "Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!"

onislam.net  mencatat bahwa Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari hadits Rasulullah SAW  dan ilmunya.

Demikianlah, setiap ada kesempatan ia tetap menyampaikan hadits yang pemah didengar dan ditangkapnya. Selain sebagai penghapal hadist, Abu Hurairah hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid.
Ia tak pernah ketinggalan berjihad dan beribadah.

Di zaman Umar bin Khatthab, ia diangkat sebagai amir untuk daerah Bahrain. Padahal, Umar sebagaimana diketahui adalah seorang yang sangat keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya. [yy/republika]