fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Muhammad Ma Jian, Intelektual Muslim Modern China

Muhammad Ma Jian, Intelektual Muslim Modern China

Fiqhislam.com - Negara Cina memiliki banyak cendekiawan muslim modern yang berperan besar dalam pergulatan bangsa ini di awal abad ke-19. Salah satu nama intelektual Cina Modern yang dikenal karena  perjuangannya adalah Muhammad Ma Jian.

Lahir dari keluarga petani muslim di Desa kecil Shadian kawasan Gejiu, Provinsi Yunan pada 1906, Muhammad Ma Jian menjalani proses panjang memperdalam Islam hingga studi ke Timur Tengah.

Muhammad Ma Jian merupakan sarjana intelektual muslim yang berperan besar menerjemahkan Alquran secara baik dan benar ke bahasa Mandarin pada era 1950an. Ma Jian dibesarkan di kawasan Honghe Hani yang memang sebagian besar penduduknya beragama Islam.

Pada usia enam tahun, ia mengenyam pendidikan dasar dan menengah di Kunming Ibukota provinsi Yunan hingga ia berusia 19 tahun.  Pada 1926 di usianya yang ke 20 tahun, ia mulai memperdalam kajian ilmu agama dengan belajar kepada Hu Songhan, salah satu imam komunitas muslim Tongxin di provinsi Ningxia.

Ma Jian belajar Alquran dan berbagai ilmu agama selama lebih dari dua tahun. Pada 1928 ia melanjutkan pendidikan tingginya di salah satu Sekolah Tinggi Islam khusus di Shang Hai yang mengkhususkan pada pembelajaran bahasa Arab dan kajian Islam klasik.

Semangat Ma Jian belajar Islam tidak berhenti sampai di situ, pada 1931 ia kemudian memutuskan untuk belajar langsung agama Islam ke Universitas Al Azhar, Kairo.

Pada saat itu, bisa dibilang ia adalah salah satu dari segelintir muslim asli Cina yang memilih belajar agama di universitas Islam tertua tersebut. Selama Ma Jian mengenyam pendidikan tinggi di Al Azhar berbagai karya ilmiah telah ia hasilkan mengkaji perbandingan berbagai pemikiran tradisional masyarakat Cina dengan Islam.

Muhammad Ma Jian menulis buku dalam bahasa Arab tentang Islam di Tiongkok, mengkaji perbandingan pemikiran Konfusius dan Islam, serta mengkaji kepercayaan dan mitos-mitos masyarakat Tiongkok dalam buku berbahasa Arab.

Ketika ia kembali ke Tiongkok usai menamatkan pendidikan di Al Azhar pada 1939, semakin giat menghasilkan karya tulis dan buku tentang keislaman. Ia memulai dengan membuat dan menyempurnakan Kamus Bahasa Arab-Mandarin yang kemudian menjadi dasar baginya membuat Alquran terjemahan berbahasa Mandarin.

Kepakarannya dalam bahasa Arab dan keislaman membuat Ma Jian menjadi salah satu pengajar utama bahasa Arab dan Islam di Universitas Beijing. Pada 1946, Ma Jian secara resmi diangkat menjadi profesor di bidang bahasa Arab dan studi Islam Universitas Beijing.

Salah satu karya fenomenalnya adalah kitab suci Alquran dengan terjemahan bahasa Mandarin yang menjadi pegangan dalam setiap studinya. Alquran terjemahan Mandarin karyanya pun kini telah menjadi rujukan resmi lembaga akademi dan perguruan tinggi.

Pada tahun 1981, penerbit kembali menerbitkan Alquran versi Mandarin terjemahan Muhammad Ma Jian. Alquran terjemahan Mandarin Ma Jian ini juga menjadi versi resmi yang diterbitkan oleh percetakan Alquran terbesar di Madinah, Raja Fahd Al-Qur'an Printing Press hingga kini.

Selain menerjemahkan teks Alquran dan kitab klasik Islam ke dalam bahasa Mandarin, Muhammad Ma Jian juga berjasa menerjemahkan sejumlah besar karya ilmiah China klasik ke dalam bahasa Arab sebagai rujukan pembelajaran.

Ma Jian juga banyak memperbaiki literatur kajian Islam yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang telah berkembang di berbagai lembaga akademik di Cina saat itu.

Ia juga menerjemahkan berbagai buku Islam kontemporer yang telah menjadi kajian banyak para pemikir dunia Islam dan barat saat itu, seperti ‘Sejarah Filsafat Islam’ dan banyak buku kajian Islam dari para orientalis yang kemudian ia sempurnakan bahasa menjadi lebih baik.

Selain berkarir di bidang akademik, Muhammad Ma Jian juga mendapat posisi cukup baik di perpolitikan yang dipimpin partai Komunis pimpinan Mao Zedong saat itu.

Ia sempat terpilih menjadi anggota dari Konferensi Konsultatif Politik Cina (CPCC) pada tahun 1949. Hal itu dikarenakan kemampuan bahasa Arab yang tinggi juga membuatnya sering dipakai sebagai penerjemah bagi pemimpin Komunis Tiongkok saat itu termasuk Mao Zedong, Zhou Enlai, dan Liu Shaoqi.

Ma Jian pun terus mendapatkan posisi strategis baik di akademik Universitas Beijing dan dunia politik sebagai wakil dari CPCC, hingga akhir hayatnya pada 1978. Sepeninggal Muhammad Ma Jian, karya Alquran terjemahannya tetap diterbitkan hingga kini.

Ia telah mengabdikan lebih dari 10 tahun sejak 1957 sampai 1965 untuk terus menyempurnakan terjemahan Alquran Mandarinnya hingga dianggap memiliki terjemahan sangat baik dan akurat.

Selain itu, Muhammad Ma Jian juga dikenal membuka era baru pengajaran bahasa Arab kembali di Cina. Karena selama berabad-abad setelah Islam masuk ke Semenanjung Cina, pengajaran bahasa Arab sangat tertutup dan hanya dikhususkan pada kelompok muslim saja.

Berkat Ma Jian, bahasa Arab kembali mendapatkan promosi baik, banyak pelajar dan perguruan tinggi non muslim membuka pengajaran bahasa Arab dan mulai mengenal literatur Arab termasuk melakukan kajian terhadap kitab suci Alquran. [yy/republika]