fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Abu Ubaidah Ibn Jarrah, Penjaga Amanah Umat

Abu Ubaidah Ibn Jarrah, Penjaga Amanah Umat

Fiqhislam.com - Sekilas perawakannya tampak biasa saja, tinggi kurus, berwajah sempit, berjanggut tipis, dengan kedua gigi depan yang ompong. Tapi, dialah sahabat yang pertama kali mendapat julukan Amirul Umara. Rasulullah berkata tentang sahabat mulia ini, "Sesungguhnya, setiap umat memiliki penjaga amanah dan penjaga amanah umat ini adalah Abu Ubaidah Ibn Jarrah."

Amir ibn Abdullah ibn Abu Ubaidah Ibn Jarrah masuk Islam melalui Abu Bakar pada masa-masa awal Islam sebelum Rasulullah memasuki Darul Arqam. Ia juga turut hijrah ke Habasyah, kemudian menyertai Rasulullah dalam Perang Uhud, Perang Badar, dan berbagai peristiwa lain.

Amanah Abu Ubaidah terhadap apa yang telah menjadi tanggung jawabnya merupakan ciri yang paling menonjol. Dalam Perang Uhud, ia bisa merasakan bahwa ambisi kaum Quraisy bukanlah mencapai kemenangan perang, tetapi membunuh Rasulullah.

Karena itu, ia memutuskan untuk berperang tidak jauh dari Rasulullah. Pun ketika kondisi peperangan menggiringnya menjauh, matanya tak pernah lepas mengawasi Muhammad. Setiap kali melihat bahaya mendekat, Abu Ubaidah akan melesat dari posisinya untuk menyelamatkan utusan Allah itu.

Sampai suatu ketika, Abu Ubaidah dikepung oleh beberapa orang prajurit. Ia seolah kehilangan akal saat melihat anak panah melesat ke arah Rasulullah, kemudian tepat mengenai beliau. Ia tebaskan pedang sekuat tenaga kepada orang yang mengepungnya hingga mereka kocar-kacir.

Akhirnya, ia bisa menghampiri Rasulullah untuk mengetahui keadaan beliau. Abu Ubaidah melihat dua perisai yang dikenakan di kepala Rasulullah menancap di pipi beliau.

Ia segera mendekat lalu menggigit salah satu perisai dan mencabutnya dari pipi beliau. Tanggallah satu gigi Abu Ubaidah. Selanjutnya, ia cabut perisai kedua dan tanggallah giginya satu lagi. Karena itu, Abu Ubaidah menjadi orang yang ompong gigi depannya.

Rasulullah begitu mencintai sahabat satu ini. Pada hari ketika delegasi Najran dari Yaman datang menghadap beliau untuk menyatakan Islam, mereka meminta Rasul untuk mengirimkan seseorang yang mampu mengajarkan Islam pada mereka. Rasul menjawab, "Aku akan mengirimkan bersama kalian seorang laki-laki tepercaya, benar-benar tepercaya, benar-benar tepercaya, benar-benar tepercaya."

Para sahabat mendengar pujian itu dan berharap dirinyalah yang akan dipilih oleh Rasulullah. Sampai-sampai Umar bin Khattab mengatakan, "Aku tidak pernah menginginkan untuk menjadi pemimpin seperti keinginanku pada hari itu, dengan harapan akulah orang yang dimaksud."

Selepas shalat duhur, Rasul mencari-cari orang yang beliau maksud. Umar berusaha meninggikan tubuhnya, namun Rasul tetap mencari-cari sampai menemukan Abu Ubaidah. Lalu beliau berkata, "Pergilah bersama mereka. Buatlah keputusan di antara mereka dengan benar ketika mereka berselisih pendapat."

Abu Ubaidah hidup bersama Rasulullah sebagai sahabat yang tepercaya, demikian pula sepeninggal beliau. Ia menyertai masa-masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Abu Ubaidah menjadi Amirul Umara di Syam, serta memimpin pasukan yang begitu banyak dan kuat.

Tatkala sahabat mulia ini hendak meninggal, Umar bin Khattab berkata, "Andai Abu Ubaidah masih hidup, pastilah aku mengangkatnya sebagai khalifah. Jika Tuhanku menanyakan hal itu padaku, aku akan menjawab, "Aku telah mengangkat orang kepercayaan Allah dan Rasul-Nya." [yy/republika]