fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Thufail bin Amru: Wajahnya Memancarkan Kemuliaan

Kisah seorang sahabat yang jarang terdengar dan dikisahkan  dengan kemuliaan Allah telah diberi petunjuk untuk mendapatkan apa yang dicita citakan.  Mengislamkan kaumnya, dengan bukti dan tanda di kening yang selalu memancarkan sinar sebagai janji Rasulullah kepadanya.

Dia   Ath- Thufail bin Amru Ad-Dausi,  berasal dari kabilah Daus Zahran, termasuk keturunan bangsawan.  Dia seorang penyair  yang lihai  berbicara, orator  ulung, dan piawai dalam mempengaruhi orang. Cepat dalam berpikir sigap dalam bertindak.

Dia telah sampai di Makkah bertemu dengan orang¬-orang kafir Quraisy. 
Mereka berkata, “Jangan engkau dekati dia, karena dia adalah tukang sihir, penyair, dukun dan orang gila. Berhati¬-hatilah, jangan engkau dengarkan omongannya."  Ath- Thufail menuturkan, “Demi Allah! Mereka tetap menakut-nakutiku sehingga aku mengambil kapas, lalu kusumbatkan ke telingaku." 

Dia bercerita, suatu hari ia masuk ke Masjidil Haram, sedangkan kapas masih tetap berada di telinganya. “Aku tidak mendengar apapun."  Dia lalu melihat wajah Rasulullah Saw seraya berkata, "Setelah aku melihat wajahnya, aku tahu bahwa wajahnya bukan wajah seorang pendusta."  

Ath-Thufail berkata, "Aku mendengar beliau Saw membaca, tetapi aku tidak mendengar, karena di telingaku ada kapasnya. Lalu ia melepas kapas tersebut dan inilah langkah pertama yang dilakukannya. Rasulullah mulai membaca ayat-ayat Al Qur'an. Setelah ia mendengar perkataan tersebut, terjadi sesuatu pada dirinya. Apakah orang  kafir jika memiliki akal mampu mendengar,mampu berpikir dan mampu bertindak atau mereka lupa dan pura pura tidak tahu.

Siapakah yang mampu mendengar kalimat,
"Qaaf, demi Al Qur 'an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya), bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, “lni adalah suatu yang amat ajaib’. " (Qs. Qaaf (50): 1-2) 

"Siapakah kamu?” tanya Thufail. “Aku adalah utusan Allah," jawab beliau. "Siapakah yang mengutusmu?" Tanya Thufail lagi. "Allah," jawab Rasul.  Ath- Thufail bertanya lagi, "Kepada apa kamu berdakwah?" Lalu beliau memberitahukan dan membacakan kepadanya beberapa ayat.

Secara spontan Thufailpun  pun berkata, bersyahadat, masuk Islam. Maka Rasulullah SAW menyuruhnya untuk kembali ke kabilahnya dan mendakwahi mereka.  Thufail pun kembali sebagai seorang juru dakwah.  Namun kabilahnya tetap kafIr. Perbuatan zina telah menguasai mereka. Maka Thufail menemui Rasulullah Saw  : ”Berdoalah untuk kebinasaan mereka, wahai Rasulullah!"

Tetapi Nabi Muhammad SAW bersikap sebagaimana difirmankan oleh Allah,
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Qs. Al Qalam (68): 4)   "Lalu Rasulullah membaca Qs. Ali 'Imran (3): 159)   dan Qs. At - Taubah (9): 128)

Lalu Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya, hendak berdoa untuk kebaikan mereka. Rasulullah Saw bersabda, "Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah (petunjuk tersebut) kepada mereka. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah kepada mereka. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah kepada mereka."

Thufail  meminta kepada Rasul Saw supaya menjadikan untuknya suatu bukti.  Rasulullah berdoa untuknya, maka tampaklah cahaya di dahinya yang dapat bersinar di malam hari. Tapi karena takut disangka penyakit, ia meminta Rasulullah memindahkan sinarnya ke tongkatnya. Maka dipindahkanlah cahaya itu ke tongkat. Jika ia mengangkat tongkatnya, bersinarlah bukit¬-bukit Zahran.

Kepada kabilahnya, yang  telah bersiap-siap, sebagaimana doa Rasulullah SAW.  Thufail berkata, "Aku menyeru kalian kepada kalimat 'Laa ilaaha illallah Muhammadur-Rasulullah' (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah)." Kemudian ia memperlihatkan bukti kepada mereka.  Semua orang pun  masuk Islam,  dengan berbondong-bondong. 

Thufail dan rombongan besarnya ikut pertempuran Aramram setelah hijrah ke Madinah.  Selanjutnya, Ath- Thufail terus-menerus berdakwah dan berjihad,  hingga ia mati syahid dalam perang Yamamah.

Oleh Bernard Abdul Jabbar | suara-islam.com