20 Safar 1443  |  Selasa 28 September 2021

basmalah.png

Umar bin Khattab, Nyaris Membunuh Nabi dan Nyaris Menjadi Nabi

Umar bin Khattab, Nyaris Membunuh Nabi dan Nyaris Menjadi Nabi

NYARIS MEMBUNUH NABI
Umar bin Khaththab adalah sosok yang pernah mengecap masa jahiliyah. Ia sempat mengecap minuman keras, ia pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup, pernah menghajar habis-habisan budaknya hingga sempoyongan hanya karena ketahuan masuk Islam, bahkan ia pun pernah memakan Tuhan berhala sembahannya yang terbuat dari tepung roti.

Puncaknya, ia termasuk salah seorang yang berambisi membunuh Nabi Muhammad saw.:

 

Pada suatu hari, orang-orang kafir Quraisy bermusyawarah untuk menentukan siapakah di antara mereka yang bersedia membunuh Rasulullah. Umar segera menyahut: "Saya siap melakukannya!" Semua orang Quraisy yang hadir di pertemuan itu berkata: "Ya, memang engkaulah yang pantas melakukannya!"

Sambil menghunuskan pedang, Umar segera melangkah menuju kediaman Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam. Dalam perjalanan dia berpapasan dengan salah seorang dari Kabilah Zuhrah, yang bernama Sa'ad bin Abi Waqqas. Sa'ad bertanya kepada Umar, "
Umar, engkau akan pergi ke mana?"

"Saya akan membunuh Muhammad!" Jawab Umar.


Ini adalah sebuah momen paling menentukan dalam hidup Umar. Ternyata jalan yang harus ditempuh Umar untuk membunuh Rasulullah saw. tidak semulus apa yang ia kira. Selama dalam perjalanan membunuh Rasulullah tersebut, Umar tersendat oleh tiga ganjalan. Ganjalan pertama, ia terkejut dengan Islamnya Sa'ad bin Abi Waqqash:
 

Sa'ad bin Abi Waqqash berkata: "Jika demikian, Banu Hasyim, Banu Zuhrah dan Banu Abdi Manaf tidak akan berdiam diri atas perbuatanmu itu. Mereka pasti akan menuntut balas."

Mendengar ancaman seperti itu, Umar terkejut, lalu berkata: "
Oh, nampaknya kamu pun telah meninggalkan agama nenek moyang kita. Kalau demikian, saya akan membunuhmu terlebih dahulu!" Sa'ad berkata: "Ya, saya memang telah masuk Islam.". Umar pun segera mencabut pedangnya untuk menebas Sa'ad.


Sesaat sebelum Umar menebaskan pedangnya pada Sa'ad, Umar lagi-lagi mendapat batu ganjalan di mana ia harus menerima kenyataan bahwa adik perempuannya pun ternyata telah menjadi Muslimah. Inilah ganjalan kedua bagi Umar:
 

Sebelum bertarung dengan Umar, Sa'ad sempat berkata: "Lebih baik engkau mengurus keluargamu dulu, saudara perempuanmu dan suaminya juga telah memeluk Islam."

Tak terbayangkan kemarahan Umar ketika mendengar berita ini. la pun segera meninggalkan Sa'ad dan pergi menuju rumah saudara perempuannya. Ketika itu, di rumah saudara perempuan Umar ada sahabat Khabbab al-Arrat. Dengan menutup pintu dan jendela, suami istri itu membaca ayat-ayat al-Quran. Umar mengetuk-ngetuk pintu sambil berteriak supaya dibukakan pintu. Mendengar suara Umar, Khabbab segera bersembunyi.


Karena tergesa-gesanya, maka mushaf al-Quran yang sedang mereka baca itu tertinggal. Ketika pintu dibukakan oleh saudara perempuan Umar. Umar memukul wajah saudara perempuannya itu sambil berkata: "Pengkhianat! Kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu!" Tanpa menghiraukan wajah saudara perempuannya yang berdarah, Umar masuk ke dalam rumah dan bertanya: "Apakah yang sedang kamu lakukan, dan siapakah orang yang suaranya aku dengar dari luar?"

"
Kami hanya berbincang-bincang." jawab iparnya. Umar bertanya lagi: "Apakah kamu juga telah meninggalkan agama nenek moyangmu dan memeluk agama baru itu?" Iparnya menjawab: "Bagaimana jika agama baru itu lebih baik dari agama dahulu?"

Jawaban ini menyebabkan Umar marah dan memukul iparnya serta menarik-narik janggutnya sehingga wajahnya berlumuran darah. Saudara perempuannya segera melerai, namun ia pun dipukulnya sehingga wajahnya berdarah. Sambil menangis, saudara perempuannya berkata: "
Wahai Umar! Kami dipukul hanya karena memeluk Islam. Kami bersumpah akan mati sebagai orang Islam. Terserah padamu, kamu mau melakukan apa saja terhadap kami."


Belum sempat Umar menyelesaikan dua urusannya terhadap Sa'ad dan adik perempuannya, Umar kembali menemui ganjalan ketiga. Kali ini Umar bertemu dengan sesuatu yang belum pernah ia temui selama hidupnya, bukan sosok manusia melainkan hanya beberapa lembaran tulisan. Pada ganjalan ketiga inilah justru Umar berada di titik puncak pertemuannya dengan hidayah:
 

Ketika kemarahannya mulai mereda, Umar merasa malu dengan perbuatannya terhadap saudara perempuannya itu. Tiba-tiba ia melihat mushaf-mushaf al-Quran yang ditinggalkan oleh Khabbab tadi, lalu berkata: "Bagus, sekarang katakan, apa lembaran-lembaran ini". "Kamu tidak suci, dan orang yang tidak suci tidak boleh menyentuh lembaran-lembaran ini" jawab saudara perempuannya.

Pada awalnya Umar belum siap untuk bersuci, namun akhirnya ia bersedia untuk mandi dan berwudhu, kemudian membaca mushaf-mushaf al-Quran itu, surat yang dibacanya adalah surat Thaha. Umar membaca surat itu dari awal hingga akhir.

 

Ternyata ganjalan yang ketiga bukanlah manusia, tetapi sebuah lembaran-lembaran tulisan yang bagi Umar lebih dari sekadar tulisan. Lembaran-lembaran tulisan surat Thaha telah memutar haluan akal Umar 360 derajat:
 

Kemudian Umar berkata: "Baiklah, sekarang antarkan aku menemui Muhammad." Mendengar kata-kata Umar itu, Khabbab segera keluar dari persembunyiannya sambil berkata: "Wahai Umar, ada kabar gembira untukmu. Tadi malam Rasulullah berdoa kepada Allah: 'Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau dengan Abu Jahal. Terserah kepada-Mu, siapa yang Engkau kehendaki'. Sepertinya Allah telah memilihmu untuk memenuhi permintaan Nabi".

Setelah peristiwa itu, Umar segera dipertemukan dengan Rasulullah pada hari Jumat subuh, dan memeluk Islam saat itu juga.


Sungguh luar biasa Allah Ta'ala dalam "berdakwah" kepada mahluk-Nya, sekalipun sebenarnya sangat mudah bagi Allah SWT. untuk memusnahkan Umar, tapi Allah Ta'ala mendengar doanya Rasulullah saw. yang darinya hanya dengan tiga ganjalan saja, Umar pun masuk Islam.
 

NYARIS MENJADI NABI

Umar jahiliyah dengan Umar Islam sangat berbeda jauh seperti jauhnya Timur dan Barat. Bahkan puncak perbedaannya adalah pujian Rasulullah saw. atas potensi ahlak Umar yang menunjukkan di atas rata-rata yang ditunjukkan dengan ungkapan "Nyaris Menjadi Nabi" pada hadits berikut ini:
 

"Seandainya ada Nabi sesudahku maka dia adalah Umar bin Khaththab" [H.R. Tirmidzi dan Ahmad dalam musnadnya dan dalam kitab Fadhail ash-Shahabah 1:246]


Biasanya tanda-tanda seseorang yang akan ditunjuk sebagai Nabi utusan Allah, terlihat sejak kecil atau sejak dalam kandungan. Tanda-tanda kenabian ini tidak ditemukan dalam sosok Umar bin Khaththab bila dilihat dari sosok kelamnya di jaman jahiliyah. Sehingga ungkapan "Umar nyaris menjadi Nabi" bukanlah ditujukan kepada sosok kelamnya di masa lalu, karena memang Nabi Muhammad saw. adalah Nabi terakhir yang diutus Allah untuk manusia. Ungkapan tersebut lebih ditujukan sebagai simbolis dari ketinggian ahlak dan ibadahnya Umar bin Khaththab.

AL-QUR'AN TELAH MEMBUAT UMAR TAK BERKUTIK
Dengan al-Qur'an Umar terbuka hatinya menuju kebenaran untuk masuk Islam, dan dengan al-Qur'an pula Umar dibuat tidak berkutik.

Labinah, budak Umar yang masuk Islam lebih dulu dari Umar, pernah merasakan siksaan pukulan Umar hanya karena Labinah diketahui telah masuk Islam. Sebut pula adik Umar, Fatimah binti Khaththab dan suaminya, pernah pula merasakan tamparan keras Umar.

Nyaris tidak ada yang bisa menghalangi Umar untuk meluapkan kemarahannya, kecuali hanya satu, al-Qur'an, ya benar, sekeras-kerasnya Umar ternyata telah dibuat tidak berkutik dengan al-Qur'an. Tunduknya Umar yang garang dan tegas terhadap al-Qur'an dimulai saat kisahnya masuk Islam yang tersentak, terdiam, dan terpaku saat dirinya dihadapkan dengan untaian surat Thaahaa.

 

Suatu hari Bilal bin Rabah bertanya kepada Aslam al-'Adawi (Abu Khalid), salah seorang pelayan Umar: "Wahai Aslam, seberapada dekat engkau mengenal Umar?" Mendengar pertanyaan itu, yang terbersit dalam benak Aslam adalah dahsyatnya marah Umar: "Sangat dekat. Namun jika Umar marah, itu akan menjadi perkara yang besar". Bilal menyahut: "Wahai Aslam, jika aku sedang bersama Umar, kemudian ia marah, maka aku bacakan kepadanya ayat-ayat al-Qur'an. Seketika itu juga reda kemarahan Umar".

Malik ad-Dar menceritakan pengalamannya, suatu ketika Umar berteriak membentak kepada Malik dan hendak melemparnya dengan batu, seketika itu juga Malik berkata kepada Umar: "
Ingatlah Allah". Mendengar hal itu, Umar langsung membuang batunya seraya berkata: "Sungguh engkau telah mengingatkanku pada keagungan Allah".

Abdullah bin Umar bersaksi: "
Setiap kali ayahku (Umar) marah, lalu disebutkan nama Allah di sampingnya, atau dibacakan ayat-ayat suci, marahnya langsung reda".

 

"Barang siapa takut kepada Allah, tidak akan bergejolak kemarahannya. Barang siapa bertakwa kepada Allah, tidak akan bergejolak kemarahannya. Barang siapa bertakwa kepada Allah, apa yang ia kehendaki tidak akan sia-sia."
- Petuah Umar bin Khaththab -


Begitu tunduknya Umar dengan al-Qur'an telah membuat dirinya dianugerahi menjadi asbab turunnya beberapa ayat al-Qur'an yang membenarkan perkataan Umar, di antaranya:
 

  • Usulan Umar untuk menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat sholat dan kemudian turunlah firman Allah yang bersesuaian dengan usulan Umar tersebut [Q.S. al-Baqarah 2:125]
     
  • Usulan Umar tentang penggunaan hijab (tirai penghalang) pada istri-istri Nabi, turunlah firman Allah yang bersesuaian dengan usulan Umar tersebut [Q.S. al-Ahzab 33:53]
     
  • Peringatan Umar kepada kecemburuan beberapa istri Nabi dan turunlah firman Allah yang membenarkan peringatan Umar tersebut [Q.S. at-Tahrim 66:5]
     
  • Turunnya firman Allah yang menghalalkan mencampuri istri di malam-malam bulan Ramadhan setelah Umar menceritakan telah menggauli istrinya di malam hari di bulan Ramadhan kepada Rasulullah [Q.S. al-Baqarah 2:187]
     
  • Turunnya firman Allah yang membenarkan usulan Umar untuk lebih memilih mengeksekusi tawanan perang Badar yang tergolong sangat jahat ketimbang mengambil tebusan dari mereka [Q.S. al-Anfaal 8:67]
     
  • Umar pernah mengingatkan Rasulullah untuk tidak menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubay karena ia termasuk orang-orang yang munafik, turunlah firman Allah yang membenarkan peringatan Umar tersebut [Q.S. at-Taubah 9:84]

 

SI TEGAS NAN GARANG YANG MUDAH MENANGIS
Ali bin Abi Thalib pernah menuturkan bahwa pernah suatu hari Umar berkhutbah Jum'at dan ketika ia sampai pada membaca ayat: Ketika langit dibelah... hingga Jiwa pun mengetahui apa yang dihadapkan kepadanya [Q.S. at-Takwir 81:1-14], Umar tiba-tiba terhenti dan menangis karenanya.

Ubaid bin Umair pernah menyaksikan saat Umar tengah mengimami shalat shubuh, Umar tiba-tiba menangis saat membaca ayat
Dan kedua matanya menjadi putih karena kedukaan, dan dia pun sangat berduka [Q.S. Yusuf 12:84].


Itu adalah sepenggal kisah betapa Umar adalah sosok yang lembut. Umar bukanlah orang keras, tetapi ia adalah orang yang tegas, dan ketegasan itu berbeda dengan kekerasan. Keras berarti tidak lembut, sedangkan tegas bisa jadi adalah sebuah kelembutan sebagaimana orang tua yang memarahi anaknya yang berbuat nakal.

Begitupun dengan Umar, sikap tegas Umar terhadap kaum muslimin adalah sikap tegasnya layaknya orang tua kepada anak-anaknya seperti kisah saat Umar bertindak keras terhadap seorang laki-laki yang mendzalimi seekor unta:

 

Musayyab bin Darim pada suatu hari menyaksikan Umar pernah memukuli seorang laki-laki seraya membentaknya setelah Umar melihat laki-laki tersebut telah membebani seekor unta melebihi kemampuannya. Umar lalu mengobati unta tersebut hingga sembuh. Umar lalu berkata: "Sesungguhnya aku takut dimintai pertanggungjawaban kelak atas sesuatu hal".


Bukti lain dari kelembutan seorang Umar adalah saat ia berpapasan dengan seorang rahib tua yang zuhud:
 

Imran bin al-Juni pernah menceritakan bahwa suatu hari Umar pernah berpapasan dengan seorang rahib tua yang lusuh karena hidupnya yang zuhud. Seketika itu juga saat melihat rahib tua itu hidup dengan kesederhanaan dan keprihatinan, Umar meneteskan air matanya seraya berkata: "Aku kasihan kepadanya, sudah sengsara karena hidup zuhud di dunia, ia pun harus hidup sengsara di akhirat".


MENANGIS DAN TERTAWA DALAM SATU WAKTU
Mungkin belum pernah ada seorang sahabat Nabi yang bisa tertawa dan menangis dalam satu waktu kecuali Umar bin Khaththab, dan karena perilaku ini pula yang mampu menghibur Rasulullah saw. hingga tertawa karenanya.

Ketika ditanya mengapa Umar menangis saat itu, ia mengungkapkan yang menyebabkan ia menangis adalah teringat akan perilaku jahiliyah dulu yang sempat mengubur anak-anak perempuannya. Ia sangat menyesali perbuatan jahiliyahnya tersebut seraya berkhayal sekiranya mereka masih hidup saat itu, mungkin anak-anak perempuannya akan memberikan banyak cucu-cucu generasi penerus Umar.

Ketika ditanya mengapa Umar tertawa saat itu, Umar pun kembali menjelaskan bahwa perilaku jahiliyahnya pula yang menyebabkan dirinya tertawa. Ia mengungkapkan bahwa di masa jahiliyahnya dulu, Umar terbiasa membuat patung-patung sembahan berhala terkadang dari gandum atau manisan. Namun tatkala Umar dilanda lapar atau muslim paceklik, Umar pun terpaksa mempreteli patung berhala sembahannya kemudian Umar pun memakannya.

Mendengar kelakuan Umar yang memakan tuhan berhala sembahannya, Rasulullah saw. tertawa seraya berkata: "Di mana akal sehat kalian pada saat itu?" Umar menjawab: "Akal kami memang tinggi seperti gunung hanya saja pada saat itu Yang Menciptakan Alam telah menyesatkan kami".


SETAN PUN SEGAN DENGAN GARANGNYA UMAR
Rasulullah saw. pernah menganugerahkan Umar dengan gelar "al-Faruq" yaitu pembeda yang haq dan yang batil. Gelar ini tentunya sangat membuat kesal para setan karena telah semakin mempersulit celah setan untuk menjerumuskan Umar.

 

"Sesungguhnya Allah ta’ala menjadikan al-haq pada lisan dan hati Umar"
[H.R. Tirmidzi dan Ahmad]


Jikalau saja Rasulullah saw. pernah mengikat jin Ifrit di tiang masjid, maka beda halnya dengan Umar. Rasulullah saw. kagum dengan Umar karena telah membuat setan sangat enggan bertemu dengannya:
 

Rasulullah saw. bersabda: "Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, kamu tidak akan menjumpai setan berjalan pada suatu jalan melainkan ia berjalan di jalan selain jalanmu (Umar bin Khaththab)". [H.R. Bukhari dan Muslim]

Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya aku melihat setan-setan jenis manusia dan jin berlarian dari Umar". [H.R. Tirmidzi]
MENGHUNI SURGA SEBELUM MELIHAT SURGA

Umar termasuk dalam jajaran sahabat Nabi yang diberitakan akan menjadi calon penghuni surga. Berita masa depan ini tentunya merupakan hadiah atas perjuangan keras keimanannya dan ketakwaannya kepada Allah SWT. serta kecintaannya yang begitu mendalam kepada Rasulullah saw.
 

Dari Sa’id bin Zaid, ia berkata: Aku bersaksi atas nama Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, aku mendengar bahwa beliau bersabda: "(Sepuluh sahabat yang masuk surga adalah): (1) Abu Bakar (ash-Shiddiq); (2) Umar bin al-Khaththab; (3) Utsman (bin ‘Affan); (4) Ali (bin Abi Thalib); (5) Thalhah (bin 'Ubaidillah); (6) al-Zubair (bin al-'Awwam); (7) Abdurrahman bin 'Auf; (8) Sa'ad (bin Abi Waqqash); (9) Sa'id (bin Zaid); dan (10) Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah". [H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad]


MANUSIA BIASA YANG TIDAK BIASA AHLAKNYA

  • Umar memang layak digelari al-Faruq, selama menjadi Khalifah, ia sangat berhati-hati dalam memilah-milah mana hak rakyat mana hak untuknya (itupun seringkali lebih banyak Umar sedekahkan). Begitu hati-hatinya Umar hingga ia tak segan untuk menindak keluarganya yang ketahuan menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Suatu ketika anaknya Umar yang bernama Abdullah membeli unta kecil kurus 4 dirham, dititipkannya di peternakan negara, setelah gemuk, dijual ke pasar dengan harga 15 dirham. Umar kebetulan lewat dan mengetahui tentang penjualan ternak Abdullah tersebut, Umar kemudian mengambil uang 15 dirham itu dan memberikan kembali 4 dirham kepada Abdullah dengan alasan Abdullah telah menggunakan fasilitas negara yang bukan haknya dan Abdullah dianggap tidak banyak mengeluarkan tenaga untuk menggemukkan ternak tersebut. Umar pun pernah memuntahkan susu unta yang sudah diminumnya setelah ia baru tahu kalau ternyata susu tersebut berasal dari unta untuk sedekah kepada fakir miskin.
     
  • Setelah Umar yakin bahwa ia tidak mengambil sedikit pun dari hak rakyat, maka apa yang akan dilakukan Umar selanjutnya adalah meyakinkan dirinya bahwa semua amanah yang telah dipercayakan kepadanya, tidak ada yang dikhianatinya. Suatu hari Ali bin Abi Thalib melihat Khalifah Umar bergegas pergi dengan menunggang untanya. Ketika Ali menanyakan apa gerangan yang sedang terjadi, Umar menjawab: "Seekor unta telah terlepas dari gerombolan unta-unta yang akan disedekahkan kepada fakir miskin. Demi Dzat yang mengutus Muhammad sebagai Nabi, jika saja seekor unta tersasar hingga ke tepi sungai Eufrat (Irak), Umar akan dimintai pertanggungjawabannya di hari kiamat kelak". Padahal saat itu Umar sebenarnya bisa saja memerintahkan kepada para ajudannya untuk mencari unta tersebut.
     
  • Umar sedikit sekali meluangkan waktu untuk tidur istirahatnya karena setiap kali matanya terkantuk di saat itu pula Umar merasa khawatir tidurnya akan menyianyiakan dirinya: "Sungguh celaka ucapanku, sungguh celaka prasangkaku. Jika aku tidur siang hari maka aku akan menyia-nyiakan amanahku. Jika aku tidur malam hari, maka aku akan menyiakan-nyiakan kesempatanku dengan Tuhanku. Bagaimana aku bisa tidur di kedua waktu ini?". Ini pengakuan Umar kepada Mu'awiyah bin Khudaij saat ia mengunjungi Umar di saat dzuhur.
     
  • Kisah kepeduliannya sebagai Khalifah kepada rakyat kecil sangat terkenal begitu melegenda hingga hari ini. Aslam pernah menyaksikan sendiri bagaimana Umar memanggul sendiri sekarung makanan dari Baitul Mal untuk seorang perempuan dan anak-anaknya. Saat Aslam menawarkan diri untuk memanggulkan untuknya, Umar malah berkata: "Apakah kamu akan memanggul dosaku juga di akhirat kelak?!". Tak hanya memanggul sendiri karung makanan, Umar pun bahkan memasakkannya untuk perempuan dan anak-anaknya tersebut. Bahkan Aslam menyaksikan sendiri perempuan tersebut tidak tahu bahwa yang memanggul dan memasakkan makanan untuknya adalah seorang Khalifah Umar, karena pada saat itu si perempuan tersebut menceritakan kekecewaannya terhadap Umar di hadapan Umar sendiri.
     
  • Idolanya adalah Rasulullah saw. disusul kemudian Abu Bakar, oleh karena itu Umar sangat berhasrat untuk bisa mengikuti jejak kedua orang mulia tersebut. Salah satu yang ia teladani dari idolanya adalah sikap zuhudnya. Siapa pun yang bertemu Umar pasti tidak akan menyangka bahwa ia adalah seorang Khalifah karena pakaian kebesaran yang dikenakannya tidak sehebat para Kaisar Persia dan Romawi melainkan pakaian lusuh bahkan ada yang melihatnya terdapat 4-12 tambalan pada pakaiannya. Lalu apa pendapat Umar dengan pakaian zuhudnya: "Tidakkah kalian mengingat hari-hari hidup bersama Rasulullah dan Abu Bakar?! Penuh kesahajaan dan hidup prihatin?! Demi Allah, aku akan mengikuti jalan hidup keduanya, mudah-mudahan dengan begitu aku pun dapat menemukan ketenangan yang mereka dapatkan dari zuhudnya mereka". Sementara Kaisar Persia dan Romawi menenteng tongkat dan mahkota berlian, sedangkan Umar ke manapun ia pergi ia selalu menenteng sekantong gandum, kurma, air putih, dan tikar lusuh.
     
  • Begitu pun apabila ia mendapati suatu hadiah harta benda, Umar dikenal sangat takut hadiah harta harta itu justru akan membuatnya terperosok ke dalam neraka. Suatu hari Umar mendapat kiriman dari panglima Sa'ad bin Abi Waqqash berupa harta rampasan perang yang diperoleh pasukan muslimin saat mengalahkan bala tentara Persia dalam peperangan Qadisiyyah. Umar menatap sejenak harta-harta milik Kaisar Persia berupa pedangnya, sepatunya, busana kebesarannya, dan mahkota kebesarannya, dan tiba-tiba Umar menangis bersyukur ia bukanlah Kaisar Persia yang mencintai dunia yang hidup dengan bergelimang harta. Dalam tetesan air matanya, Umar berdoa kepada Allah: "Ya Allah, sungguh Engkau telah menjauhkan semua ini dari Rasul-Mu, sedangkan ia lebih Engkau cintai dari diriku ini. Engkau jauhkan pula semuanya ini dari Abu Bakar, sedangkan ia lebih Engkau cintai dari diriku ini. Oleh karena itu, Ya Allah, jika Engkau menghendaki semuanya ini diberikan kepadaku, maka sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar segala apa yang Engkau berikan kepadaku itu tidak menjadikannya memuliakan aku". Umar mungkin menjadi teringat akan firman Allah Ta'ala:

    "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan". [Q.S. Huud 11:15-16]

     
  • Lebih nikmat untuk mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepadanya, itulah prinsip pribadinya yang membuatnya merasakan nikmat saat ia lebih memilih untuk tidak mengeluh. Anas bin Malik memberi kesaksian pengalamannya saat melakukan perjalanan bersama Umar: "Suatu waktu aku pergi pergi haji bersama Umar bin Khaththab. Selama perjalanan pulang-pergi dari Madinah ke Mekah, Umar tidak pernah mendirikan tenda untuk dirinya. Ia hanya berteduh di bawah pohon".


INGIN SELALU DEKAT DENGAN ORANG YANG PERNAH DIBENCI
Di saat-saat menjelang wafatnya, Umar memanggil anaknya, Abdullah, dan memintanya agar menemui Ummul Mukminin, Aisyah, hanya untuk meminta ijin dan restunya agar bila Umar wafat, Umar ingin agar Aisyah memperkenankan jasad dirinya disemayamkan di dekat Rasulullah saw. dan Abu Bakar.

Setelah akhirnya mendengar kabar Aisyah merestui dan sangat senang dengan permintaan Umar tersebut, dalam pangkuan Abdullah, Umar berkata: "Alhamdulillah... Sesungguhnya tidak ada perkara yang lebih penting daripada kabar itu".

Begitulah Umar yang di masa kelamnya sangat membenci Nabi Muhammad saw. hingga berambisi untuk membunuh Nabi. Tapi di masa Islamnya sudah menjadi cita-cita Umar untuk merindukan meninggal dunia di samping Nabi Muhammad saw.

Kalau saja Umar yang pernah punya masa kelam jahiliyah bisa menjadi seorang muslim yang ahlak dan ibadahnya nyaris membuatnya menjadi Nabi, maka bagaimana dengan kita yang kehidupan di masa lalu masih lebih baik dari Umar? Tentunya kita harus lebih baik dari apa yang telah diupayakan dan dilakukan dari seorang Umar bin Khaththab, bukankah begitu?

 

Sumber dokter-hanny.blogspot.com

Pustaka:

  • Disarikan dari buku "Kisah Hidup Umar bin Khattab" karya Dr. Musthafa Murad, guru besar Universitas al-Azhar Kairo Mesir.
  • "Syarah Hadits ke-1 Arbain An-Nawawi" - www.markazassunnah.com
  • "Menangis dan Tertawanya Umar bin Khattab" - H. Usep Komu H.M. - Pikiran Rakyat
  • "Memupuk Cinta Kepada Rasulullah saw." - Al Bashiroh - pesantren.or.id

 

Artikel Terkait