pustaka.png
basmalah.png.orig


3 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 13 Juni 2021

Abdurrahman Bin Abu Bakar, Pahlawan Sampai Saat Terakhir

http://1.bp.blogspot.com/_gF9_yZQPwcU/SPplc46hrzI/AAAAAAAAAFg/XsZ487fvT9U/s400/camel2.jpg

VOA-Islam.com - Ia merupakan lukisan nyata tentang kepribadian Arab yang sesungguhnya. Sementara bapaknya adalah orang yang pertama-tama beriman dan juga “ash-Shiddiq” yang memiliki corak keimanan yang tiada taranya terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang kedua ketika mereka berada di dalam gua. Tetapi ‘Abdurrhman termasuk salah seorang yang keras laksana batu karang yang menyatu menjadi satu, bersenyawa dengan agama nenek moyangnya dan dengan berhala-berhala Quraisy. Di perang Badar, ia tampil sebagai barisan penyerang di pihak tentara musyrik. Dan di perang Uhud ia mengepalai pasukan panah yang dipersiapkan Quraisy untuk menghadapi kaum muslimin. Dan sebelum kedua pasukan itu bertempur, lebih dulu seperti biasa dimulai dengan perang tanding. ‘Abdurrahman maju ke depan dan meminta lawan dari pihak Muslimin. Maka bangkitlah bapaknya Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. maju ke muka melayani tantangan anaknya itu. Tetapi Rasulullah saw menahan sahabatnya itu dan menghalanginya melakukan perang tanding dengan putranya sendiri.

Bagi seorang Arab asli, tak ada cirri yang lebih menonjol dari kecintaannya yang teguh terhadap apa yang diyakininya. Jika ia telah meyakinin kebenaran sesuatu agama atau sebuah pendapat, maka tak ubahnya ia bagaikan tawanan yang diperbudak oleh keyakinanya itu hingga tak dapat melepaskan diri lagi. Kecuali bila ada keyakinan baru yang lebih kuat, yang memenuhi rongga akal dan jiwanya tanpa ragu-ragu sedikitpun, yang hal itu akan menggeser keyakinannya yang pertama tadi.

Demikianlah, bagaimana juga hormatnya ‘Abdurrahman kepada bapaknya, serta kepada kepercayaannya yang penuh kepada kematangan akal dan kebesaran jiwa serta budi bapaknya, namun keteguhan hatinya terhadap keyakinannya tetap berkuasa hingga tiada terpengaruh oleh keislaman bapaknya itu. Maka ia berdiri teguh dan tidak beranjak dari tempatnya, memikul tanggung jawab akidah dan keyakinannya itu, membela berhala-berhala Quraisy dan bertahan mati-matian di bawah bendera dan panji-panjinya, melawan kaum mu’minin yang telah siap mengorbankan jiwanya.

Dan orang-orang kuat semacam ini, tidak buta akan kebenaran, walaupun untuk itu diperlukan waktu yang lama. Kekerasan prinsip, cahaya kenyataan, dan ketulusan mereka, akhir kesudahannya akan membimbing mereka kepada sesuatu yang hak dan mempertemukan mereka dengan petunjuk dan kebaikan.

Dan pada suatu hari, berdentanglah saat yang telah ditetapkan oleh takdir itu, yakni saat yang menandai kelahiran baru dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Shiddiq. Pelita-pelita petunjuk telah menyuluhi dirinya, hingga mengikis habis baying-bayang kegelapan dan kepalsuan warisan jahiliyyah. Dilihatnya Allah yang Maha Tunggal lagi Esa di segala sesuatu yang terdapat di sekelilingnya dan petunjuk Allah pun berurat dan berakar pada diri dan jiwanya, hingga dia menjadi salah seorang muslim.
Secepatnya ia bangkit melakukan perjalanan jauh menemui Rasulullah saw untuk kembai ke pangkuan agama yang hak. Maka bercahayalah wajah Abu Bakar karena gembira ketika melihat putranya itu berbaiat kepada Rasulullah saw.

Di waktu kafirnya ia adalah seorang jantan maka ia sekarang memeluk Islam secara jantan pula. Tiada sesuatu harapan yang menariknya, tiada pula sesuatu ketakutan yang mendorongnya. Hal ini tiada lain hanyalah suatu keyakinan yang benar dan tepat, yang dikaruniakan oleh hidayah Allah dan taufik-Nya. Dan mulai saat itu ‘Abdurrahman pun berusah sekuat tenaga untuk menyusul ketinggalan-ketinggalannya selama ini, baik di jalan Allah maupun di jalan Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.

Di masa Rasulullah saw begitu pun di masa-masa khalifah sepeninggal beliau, ‘Abdurrahman tak ketinggalan mengambil bagian dalam peperangan dan tak pernah pula ia berpangku tangan dalam jihad yang beraneka ragam. Dalam perang Yamamah yang terkenal itu, jasanya amatlah besar. Keteguhan dan keberaniannya memiliki peranan besar dalam merebut kemenangan dari tentara Musailamah dan orang-orang murtad. Bahkan dialah yang menghabisi nyawa Mahkam bin Thufail, yang menjadi otak perencana bagi Musailamah. Dengan segala daya upaya dan kekuatannya, ia berhasil mengepung benteng terpenting yang digunakan oleh tentara murtad sebagai tempat yang strategis untuk pertahan mereka.

Tatkala Mahkam rubuh disebabkan suatu pukulan yang menetukan dari ‘Abdurrahman, sedang orang-orang di sekelilingnya lari tunggang langgang, maka terbukalah lowongan besar dan luas di benteng itu, hingga prajurit-prajurit Islam pun masuk berlompatan ke dalam benteng itu.

Di bawah naungan Islam, sifat-sifat utama ‘Abdurrahman bertambah tajam dan lebih menonjol. Kecintaan kepada keyakinannya, kemauan yang teguh untuk mengikuti apa yang dianggap hak dan benar, kebenciannya terhadap bermanis mulut dan mencari muka, semua sifat ini tetap merupakan sari hidup dan permata kepribadiannya. Tiada sedikitpun ia terpengaruh oleh suatu pancingan atau di bawah suatu tekanan, bahkan juga pada saat yang amat gawat, yakni ketika Mu’awiyah memutuskan hendak memberikan baiat sebagai kholifah bagi Yazid dengan ketajaman senjata.

Mua’awiyah mengirim surat itu kepada Marwan, gubernur di Madinah dan menyuruh membacakannya kepada kaum muslimin di masjid. Marwan melaksanakan perintah itu, tetapi belum lagi ia selesai mebacakannya, ‘Abdurrahman bin Abu Bakar pun bangkit dengan maksud hendak mengubah suasana hening yang mencekam itu menjadi banjir protes dan perlawanan keras sembri berkata, “demi Allah, rupanya bukan kebebasan memilih yang anda berikan kepada umat Nabi Muhammad saw tetapi anda hendak menjadikannya kerajaan seperti di Romawi hingga bila seorang kaisar meninggal, tampillah seorag kaisar lain sebagai penggantinya.”

Saat itu ‘Abdurrahman melihat bahaya besar yang sedang mengancam Islam, yakni bila seandainya Mu’awiyah melanjutkan rencananya itu maka ia pun akan mengubah hukum demokrasi dalam Islam tatkala rakyat dapat memilih kepala negaranya secara bebas menjadi sistim monarki, manakala rakyat akan diperintah oleh raja-raja atau kaisar-kaisar yang akan mewarisi tahta secara turun menurun.

Belum lagi ‘Abdurrahman selesai melontarkan kecaman keras ini ke muka Marwan ia telah disokong oleh segolongan Muslimin yang dipimpin oleh Husein bin ‘Ali, ‘Abdullah bin Zubair, dan ‘Abdullah bin ‘Umar. Di belakang, muncullah beberapa keadaan mendesak yang memaksa Husein, Ibnu Zubair, dan Ibnu ‘Umar berdiam diri terhadap rencana baiat yang hendak dilaksanakan Mu’awiyah dengan kekuatan senjata ini. Tetapi ‘Abdurrahman tidak putus-putus nya menyatakan baiat ini secara terus terang.

Mu’awiyah mengirim utusan untuk menyerahkan uang kepada ‘Abdurrahman sebanyak seratus ribu dirham dengan maksud hendak membujuknya. Tetapi ‘Abdurrahman harta itu jauh-jauh, lalu katanya kepada utusan Mu’awiyah, “kembalilah kepadanya dan katakana bahwa ‘Abdurrahman tak hendak menjual agamanya dengan dunia!”

Tatkala diketahuinya setelah itu bahwa Mu’awiyah sedang bersiap-siap hendak melakukan kunjungan ke Madinah, ‘Abdurrahman segera meninggalkan kota itu menuju Makkah. Dan rupanya kehendak Allah akan menghindarkan dirinya dari bencana dan akibat pendiriannya ini. Karena baru saja ia sampai di luar kota Makkah dan tinggal sebentar di sana, roh nya pun berangkat menemui Rabb nya. Orang-orsng mengusung jenazahnya di bahu-bahu mereka dan membawanya ke suatu dataran tinggi kota Makkah, lalu memakamkannya disana, yakni di bawah tanah yang telah menyaksikan masa jahiliyah nya, dan juga telah menyaksikan masa Islamnya. Yakni keislaman seorang laki-laki yang benar, berjiwa bebas, dan kesatria.

Dikutip dari : Serial Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah


Artikel Terkait

  1. Abdurrahman, Kesatria Tangguh Islam Dari Lembah Bangsa Quraisy
  2. Asma’ Binti Abu Bakar, Wanita Dengan Hati Berbalut Ikhlas
  3. Keteguhan Abu Bakar Ash-Shiddiq
  4. Kekhalifahan Abu Bakar Ash Shidiq
  5. Belajar Kepada Abu Bakar
  6. 'Aisyah Binti Abu Bakar -Rodhiallahu 'anha
  7. Abu Bakar Ash-Shiddiiq (11-13 H)