11 Rabiul-Awal 1443  |  Minggu 17 Oktober 2021

basmalah.png

Ummu Sinan Al-Aslamiyah: Tekad Kuat untuk Menggapai Kemuliaan Akhirat

Ummu Sinan Al-Aslamiyah: Tekad Kuat untuk Menggapai Kemuliaan Akhirat


Fiqhislam.com - Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Quraisy, Anshar, Juhainah, Aslam, Asyja’, dan Ghifar adalah para budak. Mereka tidak memiliki tuan lain selain Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat lainnya Nabi Muhammad bersabda, “Aslam dibaguskan oleh Allah, Ghifar diampuni oleh Allah. Aku tidak mengatakan hal itu, tetapi Allah SWT mengatakannya.

Aslam adalah salah satu kabilah yang paling dicintai Rasulullah, karena para anggota kabilah tersebut memeluk Islam dengan ketaatan dan ketundukan yang total. Salah seorang dari mereka yang beruntung mendapatkan keutamaan Allah adalah Ummu Sinan Al-Aslamiyah, seorang shahabiyah yang mengikuti berbagai peristiwa bersama Rasulullah, baik dalam keadaan aman maupun ketika sedang berjihad. Dia juga berbaiat kepada beliau dan meriwayatkan hadits dari beliau.

Ummu Sinan selalu berupaya untuk mematuhi segala perintah Rasulullah, sehingga Allah membuatnya sangat berkecukupan pada Perang Khaibar. Dia berupaya menyiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh untuk berjihad, sebagai salah seorang mujahidah dari kalangan istri-istri para sahabat.

Berangkat dengan Berkah dari Allah

Ummu Sinan Al-Aslamiyah memiliki kisah yang indah berkenaan dengan jihad dan pertempuran. Dia memiliki wawasan mumpuni berkenaan dengan peran wanita ketika berada di tengah-tengah barisan para mujahidin. Salah satu perannya adalah pemberi minum untuk prajurit yang terluka dan mengobati mereka yang cedera. Bahkan, Ummu Sinan memiliki ketrampilan dalam menunggang kuda dan seni peperangan.

Ketika panggilan jihad berkumandang, maka seketika Ummu Sinan bertekad untuk ikut berangkat memberikan bantuan semampunya. Dia menuturkan, “Ketika Rasulullah hendak berangkat ke Khaibar, maka aku menghadap kepada beliau dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku hendak berangkat bersama engkau sekarang ini. Aku hendak membawakan kantung air minum, mengobati yang sakit atau terluka. Jika tidak, maka aku bersedia menjadi pengawas kafilah.”

Rasulullah bersabda, “Berangkatlah engkau dengan berkah dari Allah. Engkau memiliki para sahabat yang telah berbaiat kepadaku dan aku mengizinkan mereka semuanya, dari kaummu dan dari luar kaummu. Jika engkau suka, maka tetaplah bersama kaummu. Jika engkau suka, maka bersamalah dengan kami.” Aku mengatakan, “Bersama engkau wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau bersama Ummu Salamah, istriku.”

Berkat peran dan kontribusinya dalam jihad, tak jarang Ummu Sinan diberi bagian yang banyak dari harta rampasan perang. Ummu Sinan menceritakan, “Ketika penaklukan Khaibar, Rasulullah mengucurkan sebagian harta rampasan perang. Beliau memberiku untaian kalung berwarna merah dan perhiasan dari perak yang didapat dari harta rampasan perang. Beliau juga memberiku kain beludru dan selimut dari Yaman serta kuali dari kuningan. Ketika itu beberapa sahabat terluka dan aku mengobati mereka dengan obat yang berasal dari keluargaku, kemudian mereka menjadi sembuh. Setelah itu aku pulang bersama Ummu Salamah. Ketika hampir masuk Kota Madinah, dan ketika itu aku mengendarai unta milik Nabi, Ummu Salamah berkata kepadaku, “Unta yang engkau tunggangi adalah milikmu, Rasulullah telah memberikannya kepadamu.”

Bersiap untuk Perang Tabuk

Perang Tabuk terjadi pada Rajab tahun ke-9 Hijriah. Dalam perang tersebut Rasulullah menginstruksikan sebuah serbuan yang ditujukan kepada Kerajaan Romawi. Rasulullah menyeru dan mengimbau kaum muslimin untuk berjihad dan mengeluarkan sedekah untuk biaya peperangan. Maka berdatanganlah kamu laki-laki membawa sedekah yang sangat besar jumlahnya. Mereka berlomba-lomba untuk menafkahkan harta dan mengeluarkan sedekah semampu mereka.

Adapun kaum wanita, mereka mengirimkan apa yang mereka sanggup kirimkan. Mereka pun memiliki kontribusi yang sangat besar dengan kedermawanan dan kemurahan hati mereka. Tak terkecuali Ummu Sinan. Dia termasuk donatur Perang Tabuk yang ambil bagian dalam berinfak, sebagaimana para wanita yang lain.

Bahkan Ummu Sinan menceritakan, “Aku menyaksikan kain terbentang di hadapan Rasulullah di rumah Aisyah, Ummul Mukminin. Di atas kain tersebut terdapat gelang, gelang untuk bawah bahu, gelang kaki, anting-anting, cincin, dan para wanita pembantu yang dikirimkan untuk membantu para anggota pasukan tentara mempersiapkan segala perlengkapannya.”

Meriwayatkan Hadits Mulia

Keutamaan lainnya yang ada pada diri Ummu Sinan adalah upayanya dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah dan menghafalnya.

Inilah sekelumit tentang sirah shahabiyah yang mulia, mujahidah, dan pecinta akhirat. Ummu Sinan tak segan untuk meninggalkan urusan duniawi dan bertekad kuat menggapai kemuliaan di akhirat. Dia termasuk wanita yang namanya diabadikan sejarah Islam dan beruntung dengan berbagai anugerah serta keutamaan pada dirinya. Semoga Allah ridha kepadanya. [ganna pryadha/voa-islam.com]

VOA-islam - Ganna Pryadha