21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Gandhi Muslim, Pejuang Pakistan Yang Terlupakan

KABUL – Khan Abdul Ghaffar Khan sangat dekat dengan ikon perdamaian India Mahatma Gandhi karena keduanya berbagi visi dan perjuangan, namun tak seperti temannya itu,  tokoh perjuangan non-kekerasan Pashtun melawan kekuasaan Inggris ini hampir terlupakan oleh rakyatnya.

“Ia adalah raksasa semangat manusia setinggi 195 sentimeter, itu yang membuat saya tertarik padanya,” ujar pembuat film asal Kanada, Teri McLuhan kepada Reuters pada hari Jum'at (5/2).

Ia baru-baru ini berusaha mengangkat kembali sejarah pria yang dijuluki “Gandhi Garis Depan”, dan perannya dalam kemerdekaan India.

McLuhan mendedikasikan lebih dari 20 tahun untuk tugas yang menghasilkan sebuah film pemenang penghargaan tentang ikon Muslim pasifis ini.

Lahir di Pashtun, perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan, Khan menolak berkarir di kemiliteran Inggris.

Ia memiliki kekuatan ribuan pasukannya sendiri yang disebut Khudai Khidmatgars, atau pelayan Tuhan, yang bersumpah untuk tidak melakukan kekerasan.

Mereka mengenakan pakaian warna merah untuk menunjukkan bahwa mereka bersedia menumpahkan darahnya sendiri namun tidak untuk darah orang lain.

Para pendukung Khan mengalami pemukulan, penahanan, dan bahkan pengebirian, namun mereka tetap setia pada Khan dan memegang teguh sumpahnya untuk melayani Tuhan dengan melayani kemanusiaan tanpa kekerasan.

Di akhir tahun 1920an, ia membentuk aliansi dengan Gandhi dan Kongres Nasional India hingga tahun pecah tahun 1947 ketika India dan Pakistan menjadi negara merdeka.

Khan berasal dari tradisi kesukuan yang menjunjung tinggi kehormatan dan mewajibkan kaum pria untuk mempertahankannya apa pun yang terjadi, namun ia berhasil mendefinisikan ulang arti keberanian.

“Bagi seorang pria yang lahir dalam budaya pejuang, untuk meyakini bahwa ia dapat mengalahkan sebuah kekaisaran hanya dengan kekuatan keyakinannya, dan untuk benar-benar membuat rakyatnya percaya bahwa ketika kau penuh kekerasan maka kau akan berubah menjadi antek musuh, itu benar-benar sulit,” ujar M.J Akbar, kepala editor koran India, The Asian Age.

Perpecahan antara India dan Pakistan menandai awal penurunan pengaruh politik Khan, meski tidak untuk popularitasnya.

Ia menentang kemerdekaan Pakistan, meyakini bahwa orang-orang dengan keyakinan yang berbeda harus hidup bersama.

Pasukan non-kekerasannya menyebar untuk melindungi kaum non-Muslim ketika terjadi kekerasan komunal atas perpecahan itu.

Namun pemimpin-pemimpin Pakistan mencurigainya karena pendirian yang banyak merugikannya itu.

Setiap tiga hari sekali, selama satu hari setiap kalinya, ia habiskan hidupnya di penjara, dan kebanyakan masa-masa itu bukan berada di bawah kekuasaan Inggris melainkan pemerintah Pakistan.

Ia juga dijauhkan dari media di tanah airnya yang baru dan lama kelamaan semakin terlupakan.

Pada tahun 1987 ia menjadi orang pertama yang bukan warga negara India yang menerima penghargaan Bharat Ratna, penghargaan sipil tertinggi di India.

Khan menghabiskan sebagian besar waktunya di Afghanistan, menekankan pentingnya pendidikan dan mendesak sebuah negara yang trauma oleh berpuluh-puluh tahun perang untuk meyakini non-kekerasan.

Ia dimakamkan di kota Jalalabad, Afghanistan, ketika meninggal di tahun 1988.

McLuhan berharap filmnya, yang memenangkan penghargaan Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Internasional Timur Tengah tahun lalu, dapat membantu mendobrak banyak stereotip tentang Islam dan Muslim.

“Stereotip tentang Islam tidak banyak membantu proyek saya,” ujar McLuhan.

“Cerita ini membuyarkan stereotipe yang membuat beberapa orang merasa tidak nyaman,” ujarnya.

rin/io/www.suaramedia.com