10 Safar 1443  |  Sabtu 18 September 2021

basmalah.png

Abu Bakar al-Najjad, Merintis Tradisi Berceramah

Ceramah lekat dengan tradisi Islam. Dan, kegiatan berceramah ini bermula dari pemikiran kaum tradisionalis. Dengan pemahaman tentang agama, mereka berupaya untuk menyampaikan dan menularkannya kepada orang lain, terutama kepada para muridnya. Secara umum, seni berceramah yang berkembang di dunia Islam terbagi dalam dua jenis, yaitu khotbah dan wa’zh.

Khotbah dilakukan oleh seorang khatib pada hari Jumat. Sang khatib yang dipilih khalifah umumnya berdiri di atas mimbar.

Sedangkan, wa’zh disampaikan oleh seorang ulama yang otonom, yaitu seorang ahli hukum Islam atau fakih, sufi, penghafal Alquran, atau seorang ahli hadis. Dengan demikian, wa’izh atau orang yang melakukan wa’zh tak diangkat oleh penguasa layaknya seorang khatib.

Wa’zh disampaikan dalam sebuah masjid, surau, ataupun madrasah. Selain berisi tentang pengetahuan agama, wa’zh juga berisi nasihat ataupun teguran terhadap pejabat pemerintah. Nasihat atau teguran itu disampaikan secara terbuka di hadapan massa.

Khotbah atau wa’zh merupakan bagian dari bentuk ceramah yang paling penting. Selain kedua hal itu, ada pula yang disebut dengan qashash (kisah) dan tazkir (peringatan). Menurut kebiasaan, qashash atau ceramah umum disampaikan di jalan-jalan perkotaan.

Para penyampai cerita itu dipanggil dengan sebutan qashsh. Sedangkan, mereka yang menyampaikan ceramah, dengan tujuan memberikan peringatan kepada masyarakat, disebut mudzakkir atau pemberi peringatan.

Seorang penulis sekaligus ahli dalam seni berceramah bernama Ibn al-Jawzi. Ia membahas perbedaan antara qashsh dan mudzakkir. Pembahasan tersebut ia uraikan dalam bukunya yang berjudul Kitab al-Qushshash wa al-Mudzakkirin (Buku tentang Juru Kisah dan Pemberi Peringatan).

Menurut al-Jawzi, seorang qashsh memiliki tugas mengisahkan tentang kisah-kisah sejarah pada masa lampau. Lalu, menafsirkan kisah sejarah tersebut dan menceritakannya kepada masyarakat umum. Beda pula tugas yang diemban mudzakkir.
Al-Jawzi mengungkapkan, seorang mudzakkir bertugas mengingatkan orang-orang atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadanya. Mudzakkir juga mengingat mereka agar tak mengingkari segala anugerah yang diperolehnya selama ini.

Singkat kata, ujar al-Jawzi, tujuan mudzakkir adalah mendorong audiensnya meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Kemunculan tradisi berceramah sendiri bisa dilihat dari sejumlah aktivitas kelompok tradisionalis.

Misalnya, aktivitas ceramah yang dilakukan Barbahari yang lahir pada 941 Masehi. Ia dikenal sebagai pelopor dalam pengembangan seni berceramah. Salah satu karya Barbahari yang masih bertahan hingga saat ini adalah Syarh Kitab al-Sunnah (Uraian Seputar Kitab al-Sunnah).

Karya tersebut berisi tentang uraian secara terperinci atas karya Ahmad ibn Hanbal mengenai akidah. Di dalamnya juga berisi kritik dan penentangan Barbahari terhadap gerakan politk keagamaan yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.

Nama lain yang sering disebut dalam pengembangan seni berceramah adalah Abu Bakar al-Najjad yang hidup pada 961 Masehi. Di Masjid al-Manshur, ia memiliki dua kelompok studi. Satu sebagai kelompok pengajaran fikih, sedangkan satunya lagi untuk pengajaran hadis.

Al-Najjad juga dikenal sebagai penghimpun musnad dari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad Ibn Hanbal. Ada sebuah karya yang ia tulis menjadi bahan perdebatan sengit di antara para ahli fikih. Ia menulis risalah untuk membuktikan bahwa Alquran bukan makhluk.

Melalui tulisannya itu, al-Najjad ingin meluruskan pandangan sejumlah kalangan yang saat itu meyakini bahwa Alquran adalah makhluk. Ada pula ulama besar yang memiliki peran dalam pengembangan seni berceramah ini, yaitu Abu al-Husayn ibn Sam’un.

Ibn Sam’un hidup pada 912 hingga 997 Masehi. Ceramah yang ia lakukan sering dikumpulkan. Sayangnya, saat ini hanya tersisa sejumlah penggalan khotbahnya. Ceramahnya banyak mengundang massa sebab isinya sangat menarik.

Pada suatu masa, pertentangan antara Sunni dan Syiah telah mendorong Abud al-Dawlah, penguasa dari Dinasti Buwaih, berniat menghentikan ulama berceramah. Ia meyakini, upaya ini akan mampu menyulut pertentangan yang ada.

Namun, Ibn Sam’un bersikeras menyampaikan ceramah. Akhirnya, ia pun dipanggil ke istana. Bahkan, dengan keteguhan hatinya, ia malah melakukan ceramah di depan para petinggi istana. Dan, ia akan tetap melakukan ceramahnya walaupun ada larangan.

Langkah cerdas Ibn Sam’un yang dilakukan dalam berceramah telah membuat bangunan seni berceramah kokoh. Bahkan, seni berceramah menjadi kajian dalam halaqah yang dilakukan di masjid-masjid ataupun madrasah.

Nama Ibn Aqil adalah yang muncul kemudian. Ia merupakan ahli fikih dan menjadi figur yang kian membuat seni berceramah berkembang. Ia menyatakan pula, seni berceramah merupakan sebuah bidang yang penting dipelajari.

Ia mengembangkan bidang ini bersama gurunya yang bernama Abu Thahur ibn al-Allaf yang hidup pada 1050 Masehi dan merupakan salah satu murid Ibn Sam’un. Dalam perkembangannya, Ibn Aqil memberikan pengaruh besar pada Ibn al-Jawzi, seorang penceramah dan penulis.

Ini terbukti dalam uraian karya al-Jawzi saat membahas karya-karya Ibn Aqil. Ia melakukannya secara terperinci. Namun, secara langsung, al-Jawzi belajar tentang seni berceramah dari sahabat dekat Ibn Aqil, yaitu  al-Zaghuni.

Mendiang George Abraham Makdisi, pakar dunia Arab dan Islam, mengungkapkan, tradisi berceramah–dapat dikatakan–berkembang melalui proses pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses itu berlangsung mulai abad ke-10 hingga abad ke-12.

Seni berceramah mengalami puncak perkembangan dalam kajian ilmu-ilmu humaniora pada abad ke-11 yang digerakkan Ibn Aqil dan pada abad ke-12 dimotori oleh Ibn al-Jawzi. Pada masa itu, para penceramah mendapatkan jabatan yang tinggi di istana-istana para khalifah.

Pada mulanya, seni berceramah ini memang memiliki tujuan untuk menyebarkan ajaran agama dan untuk menghambat pidato sekuler yang banyak muncul di istana-istana raja. Selain, itu ceramah juga banyak digunakan untuk melontarkan kritik atas kehidupan mewah para raja.

Ibn al-Jawzi, dalam karyanya tentang seni berceramah, menuliskan sejumlah penceramah. Di antaranya adalah 16 nama sahabat Nabi Muhammad SAW, termasuk empat khalifah pertama setelah wafatnya Nabi SAW. Selain itu, dia menyebutkan sejumlah penceramah ulung dari berbagai wilayah. Misalnya, para penceramah dari Makkah, Madinah, Yaman, Kufah, Basrah, Rayy, dan Balkh.

Pengembangan Ceramah Melalui Madrasah
Tak hanya ulama yang memiliki peran dalam mengembangkan seni berceramah. Namun, sejumlah institusi pendidikan pun ikut berperan. Di antaranya, Madrasah Nizamiyah, yang ada di Baghdad, Irak. Madrasah ini berkembang pada abad ke-11.

Saat itu, banyak cendekiawan yang memiliki kemampuan berceramah dari wilayah di luar Irak bertandang ke Baghdad. Mereka tinggal di sana, baik dalam jangka waktu yang pendek atau panjang. Mereka diberi kehormatan untuk mengajarkan ilmunya di Madrasah Nizamiyah.

Kehormatan tersebut diberikan langsung oleh Nizham al-Muluk, yang merupakan pendiri madrasah tersebut. Keturunan Nizham juga melakukan langkah yang sama. Salah seorang yang berkecimpung di Madrasah Nizamiyah adalah Abu Husyn al-Abbadi, yang berasal dari Marw.

Al-Abbadi bahkan pernah menduduki jabatan akademis di Nizamiyah, yaitu sebagai guru besar dalam mata kuliah seni berceramah. Sebuah catatan mengungkapkan, pada November hingga Desember 1092, al-Abbadi berkunjung ke Baghdad.

Kemudian, al-Abbadi melanjutkan perjalananya menuju Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Pada tahun berikutnya, ia kembali lagi ke Baghdad dan diangkat menjadi pengajar tamu untuk mata kuliah seni berceramah. Hingga, ia pun menjadi guru besar di sana.

Di sana, al-Abbadi juga bertemu dengan ilmuwan besar al-Ghazali, yang menjadi kepala guru besar di Nizamiyah. Kemampuan al-Abbadi berceramah juga melahirkan rasa takjub dari seorang pengembara dari Spanyol, Ibnu Jubair.

Dalam karyanya yang berjudul Perjalanan, Ibnu Jubair, mengisahkan banyaknya orang yang berkerumun untuk mendengarkan ceramah al-Abbadi. Selain Nizamiyah, ada pula Tajiyah, di mana madrasah ini juga memiliki penceramah ternama, yaitu Abu al-Futuh al-Ghazali.

Selain mengajar di Tajiyah, al-Futuh juga mengajar bidang studi ceramah di ribath atau padepokan sufi di Bahruz. Dia juga pernah diundang untuk menyampaikan ceramah di istana Sultan Mahmud dari Bani Seljuk dan memperoleh honor sebanyak 1.000 dinar.

Dalam melakukan kegiatannya, ceramah al-Abbadi maupun al-Futuh, tak pernah melahirkan pertentangan. Terkadang, ada ceramah yang melahirkan pertentangan karena apa yang disampaikan mendapatkan bantahan dari mereka yang menolak isi ceramah atau kelompok yang berbeda aliran.

Putra pertama al-Abbadi, yaitu Abu Manshur al-Abbadi, pernah memicu pertentangan. Ini terjadi saat ia yang berasal dari kelompok Asyariyah, bersikeras melakukan ceramah di Masjid Al-Manshur, yang merupakan tempat berkumpulnya kaum tradisionalis.

 

rpb/www.suaramedia.com

Ceramah lekat dengan tradisi Islam. Dan, kegiatan berceramah ini bermula dari pemikiran kaum tradisionalis. Dengan pemahaman tentang agama, mereka berupaya untuk menyampaikan dan menularkannya kepada orang lain, terutama kepada para muridnya. Secara umum, seni berceramah yang berkembang di dunia Islam terbagi dalam dua jenis, yaitu khotbah dan wa’zh.