27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Belajar Dari Bapak Muhammad Natsir

Belajar Dari Bapak Muhammad Natsir

Fiqhislam.com - Banyak keteladanan yang bisa diunduh dari pribadi Mohammad Natsir. Sebagai seorang muslim, sikap dan perilaku beliau banyak menggambarkan keindahan ajaran dienullah ini. Selain keteladanan dalam dakwah dan perjuangan Islam, dari pribadi M. Natsir bangsa ini, khususnya para pejabatnya, bisa meneladani kesederhanaan dan kesahajaannnya.

Kesahajaan senantiasa ditemui pada diri Mohammad Natsir, satu di antara politisi sekaligus cendekiawan terkemuka yang pernah dimiliki Indonesia. Tiga kali menjadi menteri penerangan dan sekali menjabat perdana menteri, ternyata tak membuat Natsir silau terhadap kekayaan maupun fasilitas mewah. George McTurnan Kahin, indonesianis yang kenal dengan Natsir, pun menjadi saksi.

Penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia ini sempat terheran-heran dengan kesederhanaan seorang Natsir, hingga baju yang dikenakannya saat menjabat sebagai menteri adalah jas yang penuh tambalan. “Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan ia seorang menteri dalam pemerintahan,” tulis Kahin dalam buku bertajuk Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan yang terbit pada 1978.

Pun demikian saat pemimpin Masyumi ini baru menjabat sebagai perdana menteri sekitar September 1950, ia tinggal di sebuah gang hingga seseorang menghadiahkan sebuah rumah di Jalan Jawa (kini Jalan H.O.S. Cokroaminoto), Jakarta Pusat. Lelaki kelahiran Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908, ini juga menolak hadiah mobil Chevy Impala dari seorang cukong.

Dan boleh dibilang, Natsir adalah satu-satunya pejabat pemerintah yang pulang dari Istana dengan membonceng sepeda sopirnya, sesudah menyerahkan jabatan perdana menteri kepada Presiden Soekarno. Ketika itu, tepatnya 21 Maret 1951, Natsir berboncengan sepeda dengan sopirnya menuju rumah jabatan di Jalan Proklamasi. Setelah mampir sebentar di rumah dinasnya, Natsir yang sempat menjadi menteri kesayangan Bung Karno itu segera mengajak istri dan anaknya pindah. Mereka kembali menempati rumah pribadi yang sempit di Jalan Jawa.

Natsir memang bukan satu-satunya pemimpin di Indonesia yang tidak tergoda oleh hasrat memperkaya diri sendiri saat menjabat suatu kedudukan penting di pemerintahan. Sebut saja Haji Agus Salim dan Mohammad Hatta yang bisa disandingkan dengan Natsir. Hanya saja, boleh dikatakan, saat ini sangat sulit mencari orang seperti mereka. Bak mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Zaman pun berganti. Pemerintahan demi pemerintahan telah mewarnai lembaran sejarah republik ini. Dan boleh dikatakan saat ini jabatan sebagai pejabat negara maupun menteri didamba banyak orang. Betapa tidak, mereka yang dipilih atau ditunjuk menduduki posisi tersebut bakal mendapat gaji, tunjangan plus fasilitas yang cukup menggiurkan.

azzamudin.wordpress.com