14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Ali Ibn Abu Thalib, Pintu Ilmu Rasulullah Saw

DIKISAHKAN pada suatu ketika Fathimah Binti Asad, sedang dalam keadaan hamil. Meski begitu istri Abu Thalib ini masih ikut bertawaf di sekitar Ka’bah. Karena keletihan yang dialaminya, Fathimah duduk di depan pintu Ka’bah seraya berdoa kepada Tuhan pemilik Ka`bah agar selalu diberi kekuatan. Tiba-tiba tembok Ka’bah tersebut bergetar dan terbukAlah dindingnya. Seketika itu Fathimah Binti Asad masuk ke dalam. Tak beberapa lama, Fathimah merasakan bayi yang dikandungnya keluar dan lahirlah seorang bayi laki-laki tampan, Jumat 13 Rajab. Dialah Ali Ibn Abi Thalib.

Sejak kecil, ketika Abu Thalib tak mampu menanggung biaya hidup karena masa paceklik, Ali diasuh dan berada dalam didikan Rasulullah Saw. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ali sendiri perihal masa pemIbnaan Rasulullah Saw yang terdapat dalam Nahjul Balaghah, “Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai Imam Hasan Asykari kemana pun Imam Hasan Asykari pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari karakternya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah”.

Setelah Rasulullah Saw mengumumkan tentang kenabiannya, Ali meski masih remaja langsung menerima dan mengimaninya; sehingga tercatat sebagai orang yang masuk Islam pertama dari kaum laki-laki dan pemuda Makkah. Apapun yang dikerjakan dan diajarkan Rasulullah Saw kepadanya, selalu diamalkan dan ditirunya. Sehingga Ali tidak pernah terkotori dengan kesyirikan atau tercemari karakter tercela, hina dan jahat serta tidak ternodai kemaksiatan.

Sejak masa kecil Ali berani menggunakan kepalantangannya untuk mengusir anak-anak kecil serta para gelandangan yang diperintah kaum kafir Quraisy untuk mengganggu dan melempari Rasulullah Saw.

Keberaniannya yang tidak tertandingi ini dipuji Rasulullah Saw, “Tiada pemuda sehebat Ali”. Mengenai kecerdasannya dalam keilmuan dan masalah agama, Nabi Muhammad Saw menjulukinya sebagai pintu ilmu. Rasulullah Saw bersabda, “Ana madinatul ilmi wa Aliyyin babuha. Faman aradal madinata wal hikmata fal yatiha min babiha—Aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya. Barangsiapa yang menghendaki kota dan hikmah, hendaknya ia mendatangi dari pintunya”.

Ali merupakan orang yang paling dekat hubungan kekeluargannya dengan Nabi Muhammad SAW. Ali bukan hanya sepupu, tapi juga kader Islam pertama sekaligus suami dari Fathimah Az-zahra, putri Rasulullah SAW.

Ali juga selalu tampil menjadi orang yang terkemuka. Hampir semua perang yang terjadi di masa Rasulullah SAW tidak terlewatkannya. Dalam peristiwa perang Khandak menjadi saksi nyata keberaniannya saat memerangi Amar Ibn Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, jagoan Arab itu terbelah menjadi dua. Juga dalam perang Khaibar. Saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Begitulah keperkasaan Ali dalam menghadapi musuh Islam dan membela Allah dan Rasul-Nya. Meski dikenal sebagai kesatria tangguh, Ali dalam hidupnya tak lepas dari derita. Yang paling dirasakan berat adalah saat ditinggalkan wafat oleh Rasulullah Saw dan istrinya, Fathimah Az-Zahra.

Beberapa tahun kemudian Ali Ibn Abu Thalib ini menikah dengan beberapa wanita. Jika dihitung, anaknya dari istri-istrinya mencapai 36 orang (18 laki-laki dan 18 perempuan), termasuk Hasan dan Husain.

 

Oleh AHMAD SAHIDIN

Penulis adalah alumni IAIN Bandung

[www.ahmadsahidin.wordpress.com]