pustaka.png
basmalah.png.orig


11 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 21 Juni 2021

Syekh Adil Kalbani, Imam Berkulit Hitam Pertama Masjid Agung Saudi

Fiqhislam.com - Syeikh Adil Kalbani adalah imam kulit hitam pertama di Masjid Agung di Mekah. Dengan suaranya yang bariton saat menyitir Al-Quran, ia memberikan contoh tentang kesetaraan dalam Islam. "Individu yang berkualitas, tanpa melihat warna kulit, asal negara, punya kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin," ujar Kalbani.

Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul-Aziz memilih Kalbani (69) untuk memimpin jutaan jamaah muslim di Masjid Agung.

"Raja mencoba memberitahu setiap orang bahwa ia ingin memerintah negeri ini sebagai satu bangsa, tanpa rasisme dan pemisahan," jelas Kalbani.

Pria ini dilahirkan di Riyadh pada 1940 dan putra dari seorang imigran miskin di Uni Emirat Arab.

Setelah menyelesaikan sekolah tinggi, ia bekerja di maskapai Saudi Arabian Airlines dan malam harinya kuliah di King Saud University di bidang agama dan menghapal Al-Quran.

Pada 1984, ia lulus ujian pemerintah untuk menjadi seorang imam dan bekerja di sebuah masjid di bandara Riyadh. Empat tahun kemudian, ia meraih posisi sebagai imam Masjid King Khalid yang terkenal di Riyadh.

Lalu, pada September lalu ia mendapat telepon dari pengelola Masjid Agung yang memberi kabar bahwa raja telah memilihnya. Sejak itu, imam muslim kulit hitam ini dijuluki sebagai 'Obama Saudi'.

Menurut Kalbani, Islam memperlakukan semua orang secara sama, tanpa melihat warna kulit atau ras.

"Dalam sejarah Islam, banyak orang kulit hitam yang terkenal. Ini berbeda dengan dunia Barat," katanya. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW memiliki banyak sahabat kulit hitam.

Islam mengajarkan kesetaraan untuk semua orang. Dalam Islam disebutkan bahwa bagi Allah, setiap orang dari berbagai ras memiliki martabat dan dihormati.

Pada prakteknya, Nabi Muhammad SAW memiliki sahabat dekat, Salman dari Persia, Suhaib dari Roma, dan Bilal dari Etiopia yang semuanya kulit hitam. Dua dari sahabat beliau, Salman dan Bilal, adalah mantan budak yang dimerdekakan setelah masuk Islam. Bilal dipilih Rasul sebagai muazin pertama, sebuah posisi yang didambakan banyak orang.

"Ada sementara orang di negeri ini yang menginginkan agar setiap orang menjadi peniru saja. Ini bukan pola pikir saya. Anda dapat belajar dari seseorang yang melontarkan kritikan agar bisa memberikan sudut pandang yang berbeda," imbuhnya.

Ketika mengenang saat pertama kali memimpin jutaan jamaah muslim di Masjid Agung pada Ramadhan lalu, Kalbani mengingat beban berat di pundaknya.
"Untuk mengaji di hadapan ribuan orang, bukan masalah buat saya, tapi di tempat ini, tempat tersuci, sangat berbeda. Di sini ada raja, presiden, dan orang biasa, dipimpin Anda sebagai imam shalat. Anda merasa mendapat kehormatan dan takut pada Allah," tambahnya. [iol/www.hidayatullah.com]