15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Syekh Izzudin Al-Qassam, nama sayap militer gerakan perlawanan Islam Hamas

Syekh Izzudin Al-Qassam, nama sayap militer gerakan perlawanan Islam Hamas

Kebanyakan orang tahu bagaimana kota Jenin, yang oleh jenderal IDF di sebut sebagai kota "rahim pembom bunuh diri," tapi sejak Syaikh Izzuddin al-Qassam syahid di sini 75 tahun yang lalu, orang Arab menyebutnya sebagai kota Jenin al-Qassam.

Ini adalah nama yang menunjukkan kebanggaan, menandakan warisan semangat tempur dari tokoh paling sangat terhormat dalam perlawanan bangsa Palestina, seorang tokoh agama dan pejuang Islam yang namanya bahkan diabadikan menjadi nama sayap militer gerakan perlawanan Islam Hamas.

Puluhan serangan termasuk beberapa serangan bom syahid paling mematikan dalam sejarah Intifadah al-Aqsha berasal dari kota Jenin al-Qassam. Tapi sekarang, saat aksi perlawanan di Tepi Barat telah menurun, Presiden Palestina Mahmud Abbas dan perdana menterinya berusaha untuk mengubah image kota ini menjadi sebuah kota berkembang dengan perdamaian. Tentunya Syaikh Al-Qassam mungkin akan kecewa di dalam kuburnya.

Mereka berusaha untuk mempromosikan nama baru kota Jenin menjadi: Kota Semangka. Dan untuk mendorong nama baru itu, otoritas Palestina (PA) telah membangun sebuah lapangan baru di pusat kota dengan patung besar semangka - dengan nama Lapangan Semangka.

Tapi ketidaknyamanan sang syaikh akan lebih besar lagi apabila ia mengetahui bahwa cucunya, Ahmad al-Qassam - yang hanya dikenal sebagai Qassam - yang pindah ke Jenin untuk melanjutkan warisan kakeknya, telah menjadi salah satu pendukung terkemuka perdamaian dengan Israel.

Mungkin sekarang adalah saat untuk mencatat suatu fakta sejarah yang menarik: Syaikh Izzuddin al-Qassam ternyata bukanlah warga Palestina. Ia dilahirkan pada tahun 1883 di Jableh, utara Suriah dan pada usia 18 tahun telah dikirim ke Kairo al-Azhar University untuk belajar.

Dia kemudian kembali ke Suriah dan menjadi relawan di tentara kekhalifahan Utsmani selama Perang Dunia Pertama, di mana ia memimpin kelompok perlawanan yang melawan pendudukan Perancis. Sebuah hukuman mati yang dikeluarkan oleh pengadilan militer Perancis memaksa dia untuk melarikan diri ke Haifa.

Beliau diangkat menjadi Imam masjid al-Istiqlal Haifa dan pada tahun 1928 mendirikan kelompok perlawanan yang melakukan serangan terhadap orang Yahudi di daerah Haifa dan lembah-lembah sekitarnya. Setelah pembunuhan Sersan Moshe Rosenfeld pada bulan November 1935, ia dan kelompoknya yang dikejar oleh tentara Inggris dan Syaikh al-Qassam syahid selama pertempuran di barat Jenin.

Ribuan warga Palestina bergabung dengan iring-iringan mengatar jenazahnya ke pemakaman. Kuburannya sejak itu telah menjadi sebuah situs ziarah bagi Arab Israel dari semua fraksi perlawanan. Tak terhitung buku yang telah ditulis tentang dirinya, masjid dan sekolah telah dinamai menurut namanya, dan bahkan ada upaya untuk memberi nama jalan Ramallah dengan namanya - namun upaya itu dihancurkan oleh Israel. Bahkan pemimpin Palestina Marwan Barghouti menamai anak sulung anaknya, dengan nama Qassam.

Pada tahun 1948, keluarga al-Qassam meninggalkan Haifa dan kembali ke Suriah. Dan Ahmad Al-Qassam lahir di sana pada tahun 1966. Pada usia 25 ia memutuskan untuk mengikuti jejak kakeknya dan bergabung dengan perlawanan terhadap Israel.

Dia diterima di Fatah dan selama perang Libanon pertama ia berjuang melawan IDF di Beirut selatan. Dua tahun kemudian Fatah mengirimnya ke Jerman Timur di mana ia belajar teknik konstruksi, kemudian bergabung dengan markas Baghdad.

Ia kemudian bergabung dengan angkatan laut Palestina, pangkalan yang berada di Yaman, Sudan dan Libya, memperoleh pangkat letnan kolonel. Pada tahun 1994 ia kembali dengan PLO ke Jalur Gaza, dan ketika ia mengakhiri dinas militernya selama 12 tahun yang lalu dia minta untuk ditransfer ke Jenin al-Qassam, di mana ia menjadi seorang pembantu gubernur.

Pada tahun 2004, ia ditangkap oleh Shin Bet dan dihukum penjara enam bulan untuk tuduhan melakukan kontak dengan agen asing. Di penjara ia dengan cepat menjadi populer dengan para tahanan lain, terutama tahanan Hamas. "Saya dihormati di penjara," katanya sambil tersenyum. "Mereka sering mengundang saya ke sel mereka untuk menceritakan kepada mereka tentang kakek saya. Banyak yang tidak tahu kakeknya adalah warga Suriah. "Mereka pikir kakek saya lahir di daerah Jenin."

Namun fakta menarik lainnya adalah Ahmad Al-Qassam lebih memilih bergabung dengan Fatah bukan dengan sayap militer Hamas Izzuddin Al-Qassam meneruskan jejak langkah perlawanan kakeknya.

Menurut Ahmad yang penting tujuan berbagai faksi Palestina adalah untuk membebaskan tanah Palestina dari tangan asing. Dan kakeknya adalah simbol perjuangan itu. "Kakek saya adalah bapak Jihad Palestina, sebuah simbol perlawanan bukan hanya untuk bangsa Palestina tetapi untuk semua orang Arab," tegasnya. "Saya menyukai Fatah karena ideologinya, tetapi kita semua berjuang untuk tujuan yang sama."

Ketika ditanya apakah ia mendukung perdamaian dengan Israel, ia menyatakan, "Saya mendukung gagasan dua negara berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina." Dia kemudian berhenti, dan menambahkan, "Saya mendukung semua tuntutan dari Abu Mazen (Mahmud Abbas), termasuk hak kembali warga Palestina yang terusir.

Ketika ditanya apakah ia Suriah atau Palestina, ia ragu-ragu untuk keduanya. "Saya memiliki identitas ganda, Suriah dan Palestina, tapi pada akhirnya saya adalah orang Arab," katanya."Sebagai nasionalis Arab, saya mendukung gagasan untuk menciptakan satu negara Arab besar Palestina. Dia mencoba untuk menjelaskan posisinya, tapi akhirnya menyatakan, "Palestina adalah negara saya, saya merasa Palestina dalam segala hal. Ayah dan ibu saya lahir di Haifa."

Dia tetap memelihara kontak dengan keluarganya di Suriah melalui telepon dan Internet, terutama dengan saudaranya Izzuddin. Dua tahun yang lalu ia mengunjungi mereka selama sebulan dan ingin untuk kembali, tapi "Israel tidak mengizinkan saya untuk meninggalkan wilayah Jenin."

Keluarganya di Suriah memiliki berbagai kenang-kenangan tentang kakeknya. "Kami masih memiliki kunci rumah di Haifa," katanya. "Kami juga masih menyimpan kafiyeh kakek saya yang bernoda darah dan Al-Qur'an yang ada dalam sakunya ketika ia terbunuh."

Walaupun seseorang keturunan orang Sholeh, keturunan mujahid akan tetapi tidak selalu keturunan tersebut seperti apa yang dibayangkan orang.

Dan Ahmad Al-Qassam satu contoh nyata, kakeknya yang seorang ulama dan pejuang Islam, bapak para mujahidin Palestina yang menginginkan Yahudi 'minggat' semua dari bumi Palestina.

Namun, cucunya sendiri lebih memilih jalan 'damai' dengan Yahudi dan mendukung solusi dua negara. Solusi yang rancu. Karena pada dasarnya Yahudi yang menjajah tanah Palestina dan mendirikan negara Zionis di atas wilayah Palestina.

fq/ynet/eramuslim.com