pustaka.png
basmalah.png


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Ummu Aiman, Ibu Setelah Ibu Kandung Rasulullah

Ummu Aiman, Ibu Setelah Ibu Kandung Rasulullah

Fiqhislam.com - Barkah binti Tsa'labah adalah sahabiyah yang hidup di lingkungan keluarga Rasulullah SAW. Ia adalah pendatang dari Habsy.

Ia datang ke Makkah mengikuti ayahanda Rasulullah SAW, Abdullah bin Abdul Muthalib. Barkah sudah berada di rumah Nabi SAW semenjak Beliau SAW masih kecil. Ia membantu mengasuh Rasulullah saat ibunda Nabi SAW wafat. Meski pengasuhan Rasulullah SAW berpindah ke kakek dan pamannya, Barkah selalu setia menemani.

Saat Rasulullah SAW menikah dengan Khadijah, Barkah mendapat kado istimewa. Nabi SAW memerdekakan Barkah. Meski sudah bebas, Barkah tetap ingin membantu keluarga Rasulullah.

Nabi sangat menghormati sosok Barkah. Bahkan, ia sudah dianggap ibu oleh Rasulullah. Berkali-kali Nabi SAW selalu mengatakan, "Barkah adalah bagian dari keluargaku." Dalam kesempatan lain Rasulullah berujar, "Wanita ini adalah anggota keluargaku yang masih tersisa."

Rasulullah SAW juga pernah berkata, "Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku (wafat)." Nabi SAW menikahkan Barkah dengan Ubaid bin Amru. Mereka dikaruniai anak bernama Aiman. Semenjak itu, Barkah lebih dikenal dengan panggilan Ummu Aiman.

Kebersamaan Ummu Aiman dengan sang suami tak sampai sehidup semati. Setelah suaminya wafat, Rasulullah mengatakan kepada setiap orang, "Barang siapa yang ingin menikah dengan ahli surga maka nikahilah Ummu Aiman."

Mendengar pengumuman Nabi SAW itu, Zaid bin Haritsah bersedia menikahi Ummu Aiman. Mereka lantas dikaruniai seorang putra bernama Usamah bin Zaid, pemuda yang menjadi panglima pasukan Rasulullah.

Barkah termasuk golongan orang yang awal masuk Islam. Ia mengikuti dua kali hijrah, ke Habasyah dan Madinah. Ia juga sahabiyah yang total dalam membela agama Allah. Beberapa jihad yang digaungkan Rasulullah ia ikuti. Barkah terlibat sebagai juru rawat dan penyedia minuman kaum Muslimin saat perang Uhud, Khaibar, dan Hunain. Anak-nya, Ai man, gugur sebagai syuhada saat melindungi Nabi SAW yang terdesak di Perang Uhud.

Ada suatu kisah tentang kesungguhan Barkah dalam beramal. Ia pernah mengalami rasa dahaga yang sangat saat melakukan hijrah. Saat itu ia sedang melakukan puasa. Kemudian turun rintikan air dari langit. Ia pun meminum sepercik air tersebut. Seketika dahaganya hilang. Sejak itu, Barkah tidak merasakan lagi dahaga meskipun sedang puasa di tengah terik yang sangat panas.

Ummu Aiman pula yang pernah men-jadi objek candaan Nabi SAW karena kedekatan keduanya. Suatu ketika Ummu Aiman mendatangi Rasulullah dan berkata, "Ya Rasulullah, bawalah aku." Rasulullah menjawab, "Aku akan membawamu di atas anak unta." Barkah berkata, "Anak unta tidak sanggup menahan bebanku."

Rasulullah berkata, "Aku tak mengatakan anak unta itu kecil, anak unta tak mungkin lahir dari ibu yang bukan unta."

Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar RA mengajak Umar bin Khattab RA untuk mengunjungi Barkah. Hal ini mereka lakukan guna menyambung silaturahim dan meneladani apa yang selalu Rasulullah SAW lakukan. Semasa hidup, Nabi SAW rutin mengunjungi dan menanyakan keadaan Barkah.

Saat Abu Bakar dan Umar sampai di depan rumah Barkah, mereka mendengar tangisan dari dalam. Mereka pun bertanya sebab apa gerangan tuan rumah tak hen ti meneteskan air mata. "Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah ada ciptaan Allah yang lebih baik dari Rasul?"tanya mereka berdua.

Barkah menjawab, "Sungguh, demi Allah, aku telah mengetahui jika Rasulullah SAW pasti meninggal dunia, namun aku menangis bukan sebab itu. Tetapi, karena wahyu tidak akan turun lagi kepada kita." Mendengar jawaban Barkah itu, Abu Bakar dan Umar pun ikut menangis bersama Barkah.

Saat Abu Bakar RA wafat, Barkah begitu bersedih. Saat Umar bin Khatab RA wafat, Barkah berujar, "Hari inilah yang sebenarnya dinamakan Islam." Maksudnya adalah Islam didapat dengan pengorbanan bahkan hingga nyawa. Barkah wafat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan RA. [yy/republika]