fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Al-Mustanshir Billah II, Menyambung Kekosongan Khilafah

Al-Mustanshir Billah II, Menyambung Kekosongan KhilafahNamanya adalah Ahmad, Abu Al-Qasim bin Azh-Zhahir Biamrillah. Dalam sejarah, ia dikenal dengan Al-Musta'shim Billah. Ia sekaligus paman dari Khalifah Al-Musta’shim Billah.

Menurut Syekh Quthbuddin sebagaimana dikutip Imam As-Suyuthi, Al-Mustanshir dipenjara di Baghdad. Ketika pasukan Tartar menguasai kota itu, dia dilepaskan dan melarikan diri. Dia berjalan ke perbatasan Irak dan dan tinggal di sana. Namun menurut Joesoef Sou’yb, ketika pembantaian terjadi, ia sedang berada di luar Baghdad, sehingga ia selamat dari maut.

Tatkala Azh-Zhahir Baybars menobatkan diri sebagai sultan, Al-Mustanshir datang bersama sepuluh orang dari Bani Muharisy. Sultan yang disertai para hakim segera keluar menyambut kedatangannya. Timbul rumor di Kairo tentang siapa sebenarnya dia. Akhirnya ia menegaskan di depan hakim agung, Tajuddin bin Al-A’azz. Setelah itu, Al-Mustanshir dilantik sebagai khalifah (1261-1262 M).

Yang pertama kali membaiatnya sebagai khalifah adalah Sultan Azh-Zhahir sendiri, disusul Hakim Tajuddin, lalu Syekh Al-Izz bin Abdus Salam dan disusul pejabat lain secara bergilir sesuai dengan kedudukan masing-masing. Pembaiatan itu berlangsung pada Rajab 660 H.

Dia diberi gelar sama dengan gelar saudaranya,  yakni Al-Mustanshir Billah. Penduduk menyambut gembira pelantikannya sebagai khalifah. Setiap Jumat, dia keluar untuk melakukan shalat. Dia sendiri yang naik mimbar dan berkhutbah di tengah manusia dengan menyebutkan keutamaan Bani Abbas. Tidak lupa dia juga selalu mendoakan sultan dan kaum Muslimin secara keseluruhan. Setelah itu dia menjadi imam shalat Jumat.

Al-Mustanshir berencana mengangkat sultan dalam sebuah upacara yang resmi dan menuliskan pengangkatannya secara formal. Setelah itu didirikanlah perkemahan di kota Kairo. Pada Senin 4 Sya’ban, Al-Mustanshir Billah II dan sultan datang ke kemah itu. Hadir dalam kesempatan itu para pejabat tinggi, para hakim, dan menteri. Saat itulah khalifah mengenakan pakaian kebesaran untuk sultan dengan tangannya sendiri dan dia kalungkan tanda kehormatan baginya.

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Tak seorang pun yang menjadi khalifah setelah anak saudaranya kecuali dia (Al-Mustanshir Billah II) dan Al-Muqtafi.”

Sedangkan penguasa di Halb, Syamsuddin Aqusy juga mendirikan khilafah dan bergelar Al-Hakim Biamrillah. Dia juga didoakan di mimbar-mimbar dan namanya ditulis pada uang dirham.

Khalifah Al-Mustanshir Billah II berhasil menaklukkan Al-Haditsah, lalu Hita. Saat itulah datang pasukan Tartar. Kedua pasukan itu pun segera terlibat dalam pertempuran sengit. Sebagian kaum Muslimin terbunuh dalam peperangan tersebut. Sedangkan Khalifah Al-Mustanshir sendiri dihukum pancung. Ada juga yang mengatakan dia selamat dalam peperangan itu dan melarikan diri. Penduduk negeri itu tidak memberitahukan ke mana khalifah melarikan diri.

Peristiwa ini terjadi pada 3 Muharram 661 H. Dengan demikian, ia menjabat sebagai khalifah hanya dalam jangka waktu kurang dari enam bulan. Setelah itu Al-Hakim Biamrillah menjadi khalifah yang sebelumnya telah dilantik pada masa hidupnya di Halb.

cr01/republika.co.id

Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni