12 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 18 Oktober 2021

basmalah.png

Umar bin Khattab: Kesulitan yang Kuhadapi Telah Membuatku Semakin Dekat dengan Rabbku

Umar bin Khattab: Kesulitan yang Kuhadapi Telah Membuatku Semakin Dekat dengan RabbkuWahai lbnul Khaththab, demi Zat yang menggenggam jiwaku, tidaklah setan melihatmu menyusuri satu jalan kecuali ia akan memilih jalan yang lain selain jalanmu (agar tidak berpapasan denganmu).

Al-Faruq adalah julukan bagi Abu Hafsah atau lebih dikenal dengan Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza al-Quraisyi al-Adi.  Umar dilahirkan 13  tahun setelah tahun Gajah (40 tahun sebelum hijrah). Di masa mudanya dikenal dengan kegagahan dan kekuatannya. la memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan kaumnya, karena ia suka menjadi duta dan mediator perdamaian di zaman jahiliyah, sehingga orang Quraisy suka mengirimnya sebagai utusan jika terjadi peperangan diantara mereka, atau dengan suku yang lain.

Kelslamannya

Umar masuk Islam pada tahun keenam setelah kenabian. Khabbab bin al-Arts mengajarkan al-Qur'an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya, Said bin Zaid. Tapi, mereka dikejutkan oleh kedatangan Umar bin Khaththab yang muncul sambil menyandang pedang yang dibawanya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Islam dan Rasulullah saw. Belum sempat Khabbab membaca al-Qur'an yang tertulis diatas lembaran, ia mendengar Umar berteriak: "Beritahukanlah kepadaku di mana Muhammad?"

Khabbab mendengar perkataan Umar, ia lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan berteriak: "Wahai Umar, demi Allah, sesungguhnya aku sangat berharap bahwa Allah telah memperuntukkan dirimu (bagi Islam) dengan perantaraan doa Nabi-Nya saw, karena aku mendengar beliau saw berdoa: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu yang lebih Engkau sukai dari dua orang ini: Abul Hakam bin Hisyam ataukah Umar bin Khaththab".

Umar segera bertanya kepada Khabbab bin Arth: "Wahai Khabbab, dimanakah gerangan aku bisa menemui Muhammad?" Khabbab menjawab: "Di bukit Shafa, tepatnya di rumah Arqam bin Abi al-Arqam ". Umar kemudian berlalu menuju takdirnya yang agung.

Ketika tiba di rumah Arqam bin Abi al-Arqam, Rasulullah saw keluar menyambutnya, menggenggam pakaian dan gantungan pedangnya, dan Beliau Saw berkata: "Apakah engkau tidak akan menghentikan tindakanmu selama ini wahai Umar, hingga Allah menurunkan padamu kehinaan dan siksaan sebagaimana yang Dia turunkan pada al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah, inilah Umar bin Kbaththab, Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan Umar bin Khaththab". Seketika itu juga Umar berkata: "Aku bersaksi, sesungguhnya engkau adalah utusan Allah. "

Dengan Islamnya Umar bin Khaththab, Islam muncul dengan kuat di Makkah. Disertai Umar kaum Muslimin memasuki  Masjidil Haram, melaksanakan shalat di sekitar Ka'bah tanpa diganggu dan dihalang-halangi oleh kaum Quraisy. Karena itulah Rasulullah saw menyebutnya dengan gelar al-Faruq, karena Allah Swt telah memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. 

Ibnu Ishaq menceritakan bahwa Ibnu Umar r.a berkata, “Ketika Umar bin Khattab masuk Islam, maka dia bertanya, “Siapakah di antara orang-orang Quraiys yang paling banyak berkata-kata?” Lalu dijawab,”Jamil bin Ma’mar al Jumahi.“ Maka Umar mendatangi Jamil bin Ma’mar. Ibnu Umar melanjutkan, “Saya pun mengikutinya dari belakang, saya ingin  melihat apa yang dilakukannya. Pada saat itu saya masih kecil, tapi saya dapat mengerti sesuatu yang terjadi.” Umar ra. mendatangi Jamil dan berkata, “Wahai Jamil! Apakah kamu sudah tahu bahwa aku telah masuk Islam, dan telah mengikuti ajaran agama Muhammad saw.?”

Abdullah bin Umar berkata,”Mendengar hal itu, Jamil tidak menjawab, melainkan berdiri, lalu pergi meninggalkannya. Jamil sampai di pintu masjid. Lalu sambil berdiri Jamil berseru dengan suara keras, “Wahai kaum Quraisy, dengarlah! Umar bin Khattab telah menjadi kafir.” Orang-orang Quraisy pun berkumpul di sekeliling ka’bah.  Tiba-tiba dari belakang, Umar berkata,”Dia telah berkata bohong, saya telah masuk Islam dan telah mengucapkan dua kalimah syahadat.” Mendengar hal itu, orang-orang Quraisy menyerang Umar sampai roboh. Lalu Umar bangkit tetapi mereka segera menghajar  Umar kembali sampai roboh, mereka menginjak-injak kepala Umar.

Ketika mereka sedang memukuli Umar, tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian jubah Yaman yang indah mendatangi mereka dan berkata,”Apakah yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Kami sedang menghajar Umar karena dia telah menjadi kafir.” Orang itu berkata, “Apakah suku bani As’ad akan rela membiarkan perbuatan kalian?” Kemudian orang itu memerintahkan supaya melepaskan Umar.

Ibnu Umar melanjutkan, “Wahai ayah! Pada hari engkau masuk Islam  dan orang-orang Makkah memukulimu, maka ada seseorang datang dan memarahi mereka, kemudian merekapun membiarkan engkau, siapakah orang itu.” Umar menjawab, “Dia adalah Ash bin Wail as Sahmi.”

H. Bernard Abdul Jabbar, M.Pd
DPP Hizb Dakwah Islam

suara-islam.com