30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Proses Baiat Utsman bin Affan Sebagai Khalifah

Proses Baiat Utsman bin Affan Sebagai Khalifah

Fiqhislam.com - Sahabat Rasulullah Saw, Utsman bin Affan radhiyallahu anhu menjadi khalifah yang ketiga setelah wafatnya Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Kisah selengkapnya juga sudah diterangkan dalam Shahih Al-Bukhari.

Dikutip dari buku Inilah Faktanya karya Dr Utsman bin Muhammad al-Khamis, Ketika ditikam Abu Lu'luah, Umar bin Khattab menyerahkan penentuan khalifah penggantinya pada hasil permusyawarahan enam orang. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidullah, az-Zubair bin al-‘Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa‘ad bin Abu Waqqash.

Kisah permusyawarahan itu diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya. Dari sini diketahui bahwa sejarah tidaklah hilang. Sebab Bukhari telah meriwayatkan kepada dua peristiwa terbesar yang banyak diperdebatkan ini.

Imam Bukhari menyebutkan kisah yang panjang seputar terbunuhnya Khalifah Umar sampai disebutkan bahwa seseorang pernah berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, berwasiatlah, angkatlah seseorang menjadi penggantimu.”

Umar membalas, “Aku tidak menemukan orang yang lebih berhak dengan urusan ini daripada mereka, Merekalah yang diridhai Rasulullah Saw ketika beliau wafat.”

Nama-nama mereka pun disebutkan yaitu Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidullah, az-Zubair bin al-Awwam, Sa‘ad bin Abu Waqqash, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, radhiyallahu anhum.

Umar juga berkata, “Abdullah bin Umar menjadi saksi bagi kalian, dan dia tidak boleh ikut sebagai calon pengganti. Jika ternyata yang menjadi pemimpin kalian adalah Sa‘ad, maka dia memang pantas memikulnya. Jika tidak, maka siapa pun yang menjadi pemimpin di antara kalian hendaklah meminta tolong kepadanya; karena, sungguh, aku mencopotnya bukan disebabkan ketidakmampuan atau pengkhianatan."

Seusai memakamkan Umar, enam orang tadi berkumpul. ‘Abdurrahman berkata, “Wakilkanlah pilihan kalian kepada tiga orang saya.”

Az-Zubair berkata, “Aku mewakilkan pilihanku kepada Ali.” Thalhah radhiyallahu anhu berkata, “Aku mewakilkan pilihanku kepada Utsman.” Sa‘ad berkata, “Aku mewakilkan pilihanku kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf.”

Begitulah, tiga di antara mereka mengundurkan diri: Thalhah, az-Zubair, dan Sa‘ad bin Abu Waqqash, radhiyallahu anhum. Maka yang dicalonkan tinggal tiga yaitu Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, radhiyallahu anhum.

‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu anhu berkata lagi, seraya mengundurkan diri, “Siapa? di antara Kalian yang mundur, maka kita serahkan urusan ini kepada yang tersisa. Allah Azza wa Jalla pengawasnya, dan Islam sebagai hakimnya. Hendaklah orang itu melihat siapa yang terbaik di antara mereka, menurut nuraninya.” Mendengar pernyataan tersebut, Ali dan Utsman Radhiyallahu Anhuma hanya terdiam.

‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu anhu lalu bertanya: “Apakah kalian menyerahkan urusan ini kepadaku? Demi Allah, aku pasti berusaha memilih yang terbaik di antara kalian.” Mereka berdua menyetujuinya.

Kemudian ‘Abdurrahman memegang tangan salah seorang dari mereka (tangan Ali radhiyallahu anhu) seraya berkata, “Seperti diketahui, engkau mempunyai hubungan kerabat dengan Rasulullah Saw dan terlebih dahulu masuk Islam. Maka, Allah Azza wa Jalla benar-benar akan mengawasi engkau. Jika terpilih menjadi khalifah, engkau harus berbuat adil, bahkan jika aku mengangkat Utsman, engkau harus mendengar dan mentaatinya.”

‘Abdurrahman pun berbicara empat mata dengan yang satunya lagi, yaitu Utsman radhiyallahu anhu. Ia juga mengatakan kepada Utsman seperti yang dikatakannya kepada Ali. Setelah meminta keduanya berjanji untuk memenuhi permintaannya itu, ‘Abdurrahman berseru, “Angkatlah tangan engkau, wahai Utsman.”

Lantas dia membaiat Utsman, disusul oleh Ali. Alhasil, penduduk Madinah segera masuk dan membaiat khalifah terpilih ini. Demikianlah riwayat pembaiatan Utsman sebagaimana tercantum dalam Shahih Al-Bukhari. [yy/Rossi Handayani/republika]