22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Rubayyi binti Muawwidz, Mujahidah Cerdas Kebanggaan Rasulullah

Rubayyi binti Muawwidz, Mujahidah Cerdas Kebanggaan Rasulullah

Fiqhislam.com -  Ar-Rubayyi' binti Mu'awwidz adalah shahabiyat yang hidup dalam naungan Islam. Hidupnya didedikasikan di medan perang untuk melindungi Rasulullah Shallaallahu alaihi wa sallam. Selain keberaniannya sebagai Mujahidah, Ar-Rubayyi juga dikenal karena kecerdasannya.

Karena kecerdasan dan wawasan yang luas, ia dipercaya sebagai referensi hukum, sirah Nabi, dan juga berbagai hadis. Banyak hadis diriwayatkan Ar-Rubayyi. Salah satu hadisnya yang meriwayatkan secara detail bagaimana cara wudhu Rasulullah SAW .

Bagaimana sosok Ar-Rubayyi sebenarnya? Ia tumbuh besar dari sebuah pohon yang buahnya mudah dipetik dan rasanya manis. Ia adalah anak dari Mu'awwidz bin Aftra', satu dari para pembesar pasukan Badar yang telah mendapat jaminan surga.

Keluarga Afra' mempunyai dedikasi tinggi dalam Perang Badar . Mereka meninggalkan jejak penuh berkah dalam perang ini.Adalah Abu Walid (Utbah bin Rabi'ah) bersama dengan saudaranya yang bernama Syaibah, juga putranya Al-Walid bin Utbah tampil mewakili barisan pasukan kaum musyrikin. Mereka menantang kaum muslimin. Karena itu, majulah tiga pemuda Anshar menyambut tantangannya itu, yakni tiga bersaudara yang terdiri dari Mu'awwidz, Mu'adz dan Auf. Semuanya adalah putra-putra Afra'.

Dari jiwa keberanian dan mujahid inilah darah Ar-Rubayyi lahir. Seperti keturunannya, keberanian yang dimiliki Ar-Rubayyi’ menjadikannya sebagai sosok yang gandrung dengan perjalanan jihad Rasulullah dan para shahabatnya. Pengalamannya dengan amalan puncak dalam Islam ini (baca: jihad) dimulai ketika ayahnya berpartisipasi dalam Perang Badar .

Ar-Rubayyi’ berangkat bersama Rasulullah SAW untuk mengikuti berbagai peperangan dengan tujuan agar mendapatkan pahala dan balasan yang telah disediakan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk para mujahidin. Dia ikut berkontribusi dalam jihad dengan melayani pengobatan para mujahidin, serta menyiapkan perlengkapan logistik mereka. Ar-Rubayyi’ adalah wanita mulia yang memiliki keberanian dalam perlawanan terhadap kebatilan dan kemusyrikan.

Ibnu Katsir berkata mengenai Ar-Rubayyi’,

“Dia berangkat bersama Rasulullah SAW untuk mengikuti berbagai peperangan guna mengobati para mujahidin yang terluka dan memberi minuman bagi mereka yang kehausan.”

Al-Bukhari mentakhrij dari Ar-Rubayyi’ bahwa dia berkata, “Kami ikut peperangan bersama Rasulullah SAW untuk membantu, memberikan minum, dan mengobati mujahidin yang terluka, serta membawa pulang mujahidin yang gugur ke Madinah.”

Rubayyi' pun dikenal sebagai mujahidah kebanggaan Rasulullah SAW. Sosoknya tak kenal takut dan selalu maju ke medan perang bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Diriwayatkan ketika Rubayyi’ mengambil minyak wangi dari Asma’ binti Makhrabah, ibu Abu Jahal. Lalu Asma menanyakan nasab Rubayyi’. Lantas dia pun menyebutkan silsilah nasabnya. Kemudian Asma’ berkata, “Engkau adalah anak perempuan dari seorang pembunuh tuannya (Abu Jahal).”

Mendengar jawaban Ar-Rubayyi, Asma naik pitam namun tidak berani melawan keberaniannya, Asma hanya menimpali, “Demi Allah, aku tidak akan menjual sesuatu kepadamu untuk selama-lamanya.” Rubayyi merasa senang membuat Asma murka dengan berkata, “Haram bagiku untuk membeli sedikit saja dari minyak wangimu.”

Di berbagai peperangan, Ar-Rubayyi selalu berangkat bersama Rasulullah SAW . Tujuannya agar mendapatkan pahala dan balasan yang telah dijanjikan Allah.

Ar-Rubayyi’ masuk Islam di Madinah ketika Rasulullah tiba di sana sebagai seorang muhajir (orang yang berhijrah). Saat itu dia masih berusia sangat muda. Ar-Rubayyi’ merupakan salah seorang shahabiyat yang mendapat perhatian dari Nabi Muhammad, dan cukup dekat dengan beliau. Kedekatan tersebut menorehkan kedudukan dan kehormatan mulia Ar-Rubayyi’ di sisi Rasulullah.

Diceritakan bahwa Rasulullah mengunjungi Ar-Rubayyi’ pada pagi hari setelah malam pengantinnya, sebagai wujud silaturrahim kepadanya. Hal itu terjadi setelah Perang Badar. Dan dalam kunjungan itu, beliau juga menyempatkan diri untuk memberikan petunjuk kepada para wanita, demi kebaikan dunia dan akhirat.

Bahkan tidak sedikit teks sejarah yang menyebutkan kemuliaan dan kehormatan kedudukan Ar-Rubayyi’ di sisi Rasulullah SAW . Musa bin Harun Al-Hammal mengatakan, “Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz telah mendampingi Nabi SAW, dan dia memiliki kehormatan yang tinggi.” Kemudian Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Rasulullah mendatangi Ar-Rubayyi’ di hari pernikahannya, lalu duduk di atas kasurnya, ini menunjukkan kesempurnaan kebahagiannya.”

Begitu dekatnya Ar-Rubayyi’ dengan Rasulullah SAW , bahkan beliau biasa makan di rumahnya, menerima hadiahnya, dan menghormatinya. Dalam hal ini, Ar-Rubayyi’ memiliki cerita yang sungguh indah. Diriwayatkan mengenai Ar-Rubayyi’ bahwa suatu ketika dia mendatangi Rasulullah dengan membawa sepiring kurma dan sepinggan anggur. Seketika beliau menggantinya dengan emas atau perhiasan, seraya bersabda kepada Ar-Rubayyi’, “Berhiaslah dengan ini!”.

Begitulah Rasulullah menunjukkan kedermawanan yang berpadu dengan kelembutan dan kemurahan kepada Ar-Rubayyi’. Dalam lembaran-lembaran tentang kehidupannya, kita akan mendapatkan riwayat tentang kunjungan Rasulullah SAW lainnya.

Periwayat Hadis

Sebagai periwayat hadis, Ar-Rubayyi mengisahkan secara detail bagaimana cara wudhu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ketika Rasulullah berkunjung ke rumah Ar-Rubayyi, Rasulullah tengah melaksanakan wudhu, kemudian bersabda kepada Rubayyi, “Tuangkan air wudhu untukku.” Selanjutnya Ar- Rubayyi menceritakan cara wudhu Rasulullah, “Lalu beliau membasuh kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali.” Masih banyak dari hadis yang diriwayatkan olehnya.

Saking intensnya berinteraksi dengan Rasulullah SAW , tak heran jika Ar-Rubayyi’ terampil menyebutkan sifat-sifat Rasulullah SAW dengan cara dan diksi yang indah. Diriwayatkan Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir, “Kukatakan kepada Ar-Rubayyi’ binti Mua’wwidz bin Afra, ‘Sebutkan ciri-ciri Rasulullah untukku!’ Ar-Rubayyi’ menjawab, ‘Wahai anakku, engkau melihatnya laksana matahari terbit’.”

Ar-Rubayyi’ meriwayatkan hadis dari Rasulullah sebanyak 21 buah hadis. Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadis dari Ar-Rubayyi. Kedua imam ini bersepakat pada sebuah hadis darinya. Bahkan beberapa shahabat dan tabiin datang kepada Ar-Rubayyi’ untuk mendapatkan hadis. Sejumlah tabiin terkemuka juga meriwayatkan hadis darinya, sebut saja Khalid bin Dzakwan, Sulaiman bin Yasar, Abu Ubaidah bin Ammar bin Yasir, dan lainnya.

Satu riwayat menyebutkan Rubayyi binti Mu’awwidz bin Afra wafat pada tahun 37 Hijriah. Namun, riwayat lain menegaskan, ia wafat pada tahun 45 Hijriah, tepat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sepeninggalan Ar-Rubayyi, beliau banyak memberikan teladan bagi Muslimah dalam hal kebaikan, ketaqwaan, keilmuan, dan semangat perjuangan di jalan Allah. Wallahu A'lam. [yy/sindonews]