14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Hubaib bin Zaid, Jemput Kesyahidan saat Temui Musailamah Sang Nabi Palsu

Hubaib bin Zaid, Jemput Kesyahidan saat Temui Musailamah Sang Nabi Palsu

Fiqhislam.com - Musailamah Al Kadzdzab sosok orang yang pernah mengaku menjadi nabi dan rasul.

Pada saat Rasulullah Saw mengetahui hal itu, beliau mengutus Hubaib bin Zaid salah seorang sahabat yang berusia tiga puluh tahun dan telah menerima pendidikan Alquran.

Dikutip dari buku Jangan Takut Hadapi Hidup karya Dr Aidh Abdullah Al Qarny, dia tidak mempunyai sedikitpun kekayaan kecuali sebilah pedang yang menggentarkan musuh-musuhnya.

Alquran yang dijadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan sebuah sajadah yang dia pergunakan untuk duduk bersimpuh dan sujud di keheningan malam.

Hatinya terenyuh setiap kali mendengar ayat suci Alquran. Rasulullah Saw bersabda, "Wahai manusia, aku mengutus kepada kalian orang yang menggenggam dunia, maka janganlah kalian berseberangan denganku." Mereka menjawab, "Kami mendengar sabdamu dan akan kami taati, wahai Rasulullah." Setelah itu Rasulullah Saw berkata, "Bangunlah kamu wahai Hubaib, dan temui Musailamah Al-Kadzdzab."

Lantas Hubaib meminta izin kepada ibunya. Meskipun dengan berat hati, ibunya mengizinkannya karena dia tahu bahwa anaknya diperintahkan Rasulullah Saw.

Dia juga tahu kalau ia akan berpisah dengannya dan berkumpul kembali di surga yang luasnya seluas bentangan langit dan bumi.

Setelah Hubaib sampai di tempat Musailamah, dia bertanya kepada Hubaib,

"Siapa kamu?" "Hubaib bin Zaid," Jawabnya. "Apa yang membawamu kemari?" "Aku datang ke sini dengan membawa mandat Muhammad Rasulullah Saw"

"Apakah kamu bersaksi bahwa dia adalah seorang Nabi dan Rasul?" "Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah SWT."

"Apakah kamu juga bersaksi bahwa aku juga seorang utusan?" sambung Musailamah. "Aku tidak pernah mendengar hal itu sama sekali," kata Hubaib.

"Apakah kamu bersaksi bahwa ia adalah seorang utusan?" tanya Musailamah kedua kalinya.

"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah SWT dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya," jawabnya tegas.

"Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan?" tanya Musailamah kembali. "Aku tidak pernah mendengar hal itu sama sekali," jawab Hubaib.

Lalu Musailamah berkata kepada salah seorang tentaranya, "Potong daging dari tubuhnya dan lemparkan ke tanah."

Setelah itu, Musailamah mengulangi lagi pertanyaannya, namun Hubaib tetap pada pendiriannya. Dia memberi jawaban yang sama dengan kali pertama jawaban itu ia berikan.

Lalu Musailamah menyuruh tentaranya lagi untuk memotong sebagian daging tubuhnya. Musailamah terus melakukan hal itu sampai akhirnya dia meninggal dunia dengan tubuh yang terpotong-potong dan berserakan di hadapan Musailamah. Pada saat itulah turun ayat:

يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ. ارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً‌. فَادۡخُلِىۡ فِىۡ عِبٰدِىۙ. وَادۡخُلِىۡ جَنَّتِى

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS Al Fajr ayat 27-30). [yy/republika]