12 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 18 Oktober 2021

basmalah.png

Sepupu Nabi Saw Abu Sufyan bin Harits, 20 Tahun Memerangi Islam

Sepupu Nabi Saw Abu Sufyan bin Harits, 20 Tahun Memerangi Islam

Fiqhislam.com - Dia adalah Abu Sufyan bin Harits. Bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah. Selama 20 tahun lebih ia memerangi Islam dan umat Islam. Sepupu Nabi Muhammad SAW ini kafir tulen. Kendati demikian, dia menutup perjalanan hidupnya dengan husnul khatimah . Insya Allah.

Ya, waktu tidak kurang dari 20 tahun hidup Ibnul Harits dilalui dalam kesesatan: memusuhi dan memerangi Islam. Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi SAW sampai dekat hari pembebasan Mekkah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi. Juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.

Dia memiliki suadara tiga orang: yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah. Ketiganya telah lebih dulu masuk Islam. Abu Sufyan adalah saudara sepupu Nabi. Putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu, ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.

Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya putranya Ja'far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah:

"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul'alamin...!"

Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar.

Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekkah dengan maksud hendak membebaskannya. Melihat itu ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya.

Ia pantas bingung, soalnya sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.

Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan sahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti.

Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, lalu menjatuhkan diri di hadapan Rasulullah. Melihat itu, Rasulullah SAW memalingkan mukanya. Abu Sufyan tak putus asa. Ia mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.

Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya, Ja'far, berseru: "Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah . Lalu ia menghampiri Nabi SAW seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah".

Rasulullah pun menjawab: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!".

Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya:"Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini".

Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: "Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula...!"

Demikianlah hanya sekejap saja. Rasulullah bersabda: "Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah." Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas.

Selama 20 tahun Abu Sufyan bin Harits --bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah-- memerangi Islam dan umat Islam. Sepupu Nabi Muhammad SAW ini sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar , yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy.

Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.

Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Ouraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.

Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya. "Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana," ucap Abu Lahab.

Abu Sufyan bin Harits menjawab, "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka.

Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy. Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun!"

Yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin dalam perang Badar.

Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?.

Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti. Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul'alamin.

Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lalu dan mengejar ketinggalannya selama ini.

Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekkah ia selalu ikut bersama Rasulullah SAW. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.

Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya berseru: "Hai manusia ... ! Saya ini Nabi dan tidak dusta. Saya adalah putra Abdul Mutthalib!"

Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir sahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan putranya Ja'far.

Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah SAW, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.

Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan mutlak.

Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling. Kiranya didapatinya seorang mukmin sedang memegang erat-erat tali kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.

Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: "Siapa ini? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits!" [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]