15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Mush’ab bin Umair Sahabat Yang Pertama Hijrah ke Madinah

Mush’ab bin Umair Sahabat Yang Pertama Hijrah ke Madinah

Fiqhislam.com - Untuk menggambarkan siapa Mushab bin Umair Radhiyallahu Anhu, maka dapat dibayangkan dari hadist dimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mushab bin Umair." (HR. Hakim).

Mushab bin Umair lahir pada masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Jika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), maka Mushab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 M.

Mushab bin Umair merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy. Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, Mushab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mushab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati. (al-Jabiri, 2014: 19).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mushab bin Umair." (HR. Hakim).

Mushab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.

Kemudian Mushab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.

Mushab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.

Saat datang di Madinah, Mushab tinggal di tempat Asad bin Zurarah. Di sana ia mengajrkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mushab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mushab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mushab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mushab berkata kepada Saad, Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi. Saad menjawab, Ya, yang demikian itu lebih bijak. Mushab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mushab bin Umair radhiyallahu anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya. Kemudian Saad berkata, Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam? Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat. Jawab Mushab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mushab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian? Mereka menjawab, Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya.

Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!

Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mushab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

Semoga kita bisa meneladani perjuangan Mushab dalam beragama. Aamiin. [yy/republika]