21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Ketika Suhail bin Amr Terpesona dengan Ajaran Islam

Ketika Suhail bin Amr Terpesona dengan Ajaran Islam

Fiqhislam.com - Ketika kaum Quraisy memulai putus asa menghadapi kaum Muslimin, munculah pemikiran untuk menempuh jalur perundingan. Suhail bin Amr ditugaskan kaum Quraisy.

Kaum Muslimin melihat Suhail datang dan mengenal siapa dia. Maka maklumlah mereka bahwa orang-orang Quraisy akhirnya berusaha untuk berdamai dan mencapai saling pengertian, dengan alasan bahwa yang mereka utus itu ialah Suhail bin Amr.

Suhail duduk berhadapan muka dengan Rasulullah, dan terjadilah perundingan yang berlangsung lama di antara mereka, yang berakhir dengan tercapainya perdamaian.

Dalam perundingan ini Suhail berusaha hendak mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk Quraisy. Disokong pula oleh toleransi luhur dan mulia dari Nabi SAW yang mendasari berhasilnya perdamaian tersebut.

Sementara itu, waktu terus berjalan hingga tibalah tahun kedelapan Hijriyah. Rasulullah bersama kaum Muslimin berangkat untuk membebaskan Makkah. Quraisy melangar perjanjian dan ikrar mereka dengan Nabi SAW sehingga orang-orang Muhajirin pun kembali ke kampung halaman mereka.

Bersama mereka ikut pula orang-orang Anshari. Kembalilah pula Islam secara keseluruhannya, mengibarkan panji-panji kemenangannya di angkasa luas. Dan Kota Makkah pun membukakan semua pintunya. Sementara orang-orang musyrik terpaku dalam kebingungannya.

Rasulullah yang amat pengasih ternyata tidak hendak membiarkan mereka meringkuk demikian lama di bawah tekanan perasaan yang amat pahit dan getir ini. Dengan dada yang lapang dan sikap lemah lembut, dihadapkan wajahnya kepada mereka, “Wahai segenap kaum Quraisy,” kata beliau. “Apakah menurut sangkaan kalian, yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Mendengar itu tampillah musuh Islam kemarin, Suhail bin Amr, memberikan jawaban, “Harapan yang baik. Anda adalah saudara kami yang mulia, dan putra saudara kami yang mulia!”

Sebuah senyuman yang bagaikan cahaya, tersungging di kedua bibir Rasulullah kekasih Allah itu, “Pergilah, kalian bebas!”

Ucapan yang keluar dari mulut Rasulullah itu tidaklah akan diterima begitu saja oleh orang yang masih mempunyai perasaan, kecuali dengan hati yang telah menjadi peleburan dan perpaduan antara rasa malu, ketundukan dan penyesalan.

Pada saat itu juga, suasana yang penuh dengan keagungan dan kebesaran ini telah membangkitkan semua kesadaran Suhail bin Amr, menyebabkannya menyerahkan dirinya kepada Allah Rabbul Alamin.

Dan keislamannya itu, bukanlah keislaman seorang laki-laki yang menderita kekalahan lalu menyerahkan dirinya kepada takdir di saat itu juga.

Keislaman Suhail yang terpikat dan terpesona oleh kebesaran Nabi Muhammad SAW dan kebesaran agama yang diikuti ajaran-ajarannya oleh Nabi Muhammad, dan yang dipikulnya bendera dan panji-panjinya dengan rasa cinta yang mendalam.

Orang-orang yang masuk Islam di hari pembebasan Kota Makkah itu disebut “thulaqa” artinya orang-orang yang dibebaskan dari segala hukum yang berlaku bagi orang yang kalah perang, karena mereka mendapat amnesti dan ampunan dari Rasulullah. Dengan kesadaran sendiri mereka pindah dari kemusyrikan ke agama tauhid.

Agama Islam telah menempa Suhail dengan ideologi baru. Semua kelebihan dan keahliannya selama ini menambah kokoh imannya. Sehingga orang-orang melukiskan sifatnya dalam beberapa kalimat, “Pemaaf, pemurah, banyak shalat, shaum dan bersedekah serta membaca Alquran dan menangis disebabkan takut kepada Allah.”

Demikianlah kebesaran Suhail. Walaupun ia menganut Islam di hari pembebasan dan bukan sebelumnya, tetapi kita lihat dalam keislaman dan keimanannya itu mencapai kebenaran tertinggi, sedemikian tinggi hingga dapat menguasai keseluruhan dirinya dan merubahnya menjadi seorang abid dan zahid, dan seorang mujahid yang mati-matian berkorban di jalan Allah. [yy/ihram]