17 Safar 1443  |  Sabtu 25 September 2021

basmalah.png

Fakhitah binti Abi Thalib, Saksi Sejarah Perjalanan Isra Mi'raj Nabi Saw

Fakhitah binti Abi Thalib, Saksi Sejarah Perjalanan Isra Mi'raj Nabi Saw

Fiqhislam.com - Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim adalah sepupu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Namanya memang tidak sepopuler para muslimah di masa awal Islam. Ia dikenal sebagai Ummu Hani, dan memiliki kedudukan sendiri di mata Rasulullah.

Ummu Hani’ adalah sosok penting dalam sejarah Islam. Dari rumahnya, di bawah atap yang menjadi langit keluarganya, sebuah kemukjizatan pernah terjadi. Kediamannya yang penuh berkah menjadi saksi peristiwa Isra Mi’raj.

Kala itu, ketika Ummul Mukminin Khadijah wafat, Rasulullah merasa begitu sedih. Dalam keadaan itu, beliau sering menemukan penghiburan di rumah Umm Hani’. Keluarganya mendukung dan menghiburnya saat beliau sedang berkabut duka.

Begitu pula ketika Nabi Muhammad SAW datang ke rumah Umm Hani’, melakukan sholat malam lalu tidur di sana. Malam itu, rumah Ummu Hani’ dikunjungi malaikat paling mulia , Jibril ‘alaihissalam, untuk menjemput Nabi Muhammad SAW. Dari sanalah peristiwa Isra Mi’raj bermula. Perjalanan satu malam menuju Yerusalem dan Sidratul Muntaha dimulai. Saat fajar tiba, Nabi pun kembali ke tempat yang sama. Kemudian Nabi SAW mengabarkan Ummu Hani’ tentang perjalanannya. Ia pun mengimani sabdanya.

Periwayat Hadits

Dalam kitab Hadits Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Riyadhush Shalihin, beberapa kali terlintas nama Fakhitah atau Ummu Hani’. Ia juga sebagai periwayat Hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf. .

Diriwayatkan, sebelum masa kerasulan, Rasulullah pernah melamar Fakhitah. Namun Abu Thalib menolak tawaran itu. Dan menerima pinangan Hubayra bin Abi Wahb. Karena bani Makhzum, klan Hubayra, pernah menikahkan putri mereka dengan salah seorang dari kabilah Abu Thalib. Sehingga untuk menjaga hubungan baik, kabilah Abu Thalib membalas perlakuan itu. Nilai inilah yang berlaku dalam tradisi Arab kala itu.

Akhirnya Fakhitah menikah dengan Hubayra. Pasangan ini tinggal di Makkah dan dikaruniai empat orang anak. Yang tertua bernama Hani’. Karena itu Fakhitah dikenal dengan Ummu Hani’ (ibunya Hani’). Namun sayang, sang suami enggan memeluk Islam. Saat Fathu Makkah, ia lari keluar Mekah. Enggan memeluk Islam.

Ummu Hani’ pernah menemui Rasulullah di hari penalukkan Kota Makkah. Ia menceritakan, “Aku pergi menemui Rasulullah pada tahun penaklukkan Kota Mekah. Saat itu beliau sedang mandi. Dan putrinya Fatimah menutupinya (dengan tabir). Kuucapkan salam. Beliau (di balik tabir) bertanya, ‘Siapa itu?’ ‘Aku, Ummu Hani’ binti Abi Thalib’, jawabku. ‘Marhaban Ummu Hani’, sambut beliau.

Usai mandi beliau menunaikan salat 8 rakaat dengan berbalut satu pakaian. Setelah shalat, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saudaraku –Ali bin Abi Thalib-, ingin membunuh seseorang yang aku lindungi, Fulan bin Hubayra’. Rasulullah bersabda, ‘Sungguh kami melindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani’’. ‘Jika demikian jelas masalahnya’, jawab Ummu Hani’. (HR.Bukhari).

Hadits-Hadits yang Diriwayatkan

Dari Abdurrahmaan bin Abi Laila. Ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan salat Dhuha kecuali Ummu Hani’. Sungguh ia pernah mengatakan, “Sesungguhnya Nabi SAW pernah masuk ke rumahnya pada hari Fathu Makkah, lalu beliau mandi dan melakukan shalat delapan rakaat. Aku tidak pernah melihat shalat yang lebih ringan daripada itu, namun beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR.Bukhari).

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ قَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخِذِي غَنَمًا يَا أُمَّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا تَرُوحُ بِخَيْرٍ وَتَغْدُو بِخَيْرٍ

Dari Ummu Hani’. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Peliharalah kambing wahai Ummi Hani’, karena ia pergi dengan kebaikan dan kembali dengan kebaikan.” (HR. Ahmad).

Dan masih banyak Hadits-Hadits lain yang beliau riwayatkan. Untuk usianya, tidak ada sumber yang dapat dijadikan rujukan tentang kapan wafatnya Ummu Hani’. Kabar yang disepakati tentang usianya adalah Ummu Hani’ hidup hingga lebih dari 50 H. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]