fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Ummu Kultsum binti Uqbah, Berhijrah Demi Iman

Ummu Kultsum binti Uqbah, Berhijrah Demi Iman

Fiqhislam.com - Kata hijrah beberapa tahun terakhir menjadi kata yang sangat populer di Indonesia. Banyak para selebriti dan masyarakat yang tak malu-malu lagi mengatakan berhijrah dan semakin memperdalam keyakinannya . Tentang hijrah ini, ada salah satu contoh terbaik dari seorang sahabiyah (sahabat perempuan Rasulullah) yakni Ummu Kultsum binti Uqbah.

Ummu Kultsum adalah putri Uqbah bin Muith serta ibunya bernama Urwa binti Quraisy. Ummu Kultsum masih kerabat dari Utsman bin Affan dari pihak Ibu. Ia adalah seorang perempuan yang berhijrah demi iman yang dia pegang teguh.

Alkisah, ayahnya pernah diajak masuk Islam oleh Rasulullah dalam sebuah acara. Saat itu juga Uqbah bersedia masuk Islam. Hanya saja, salah seorang sahabatnya menghasut dia untuk keluar dari Islam. Hingga ia berani menghina dan menyakiti Rasulullah. Atas kejahatannya, Allah membalas Uqbah dalam Perang Badar hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Tak sama dengan sang ayah, anak dari Uqbah, Ummu Kultsum mengimani Rasulullah. Di antara kalangan wanita Quraisy, tidak ada seorang pun yang memiliki keberanian seperti dirinya. Ia adalah wanita yang sangat pemberani, kuat, dan tegas. Walaupun kerapkali Ummu Kultsum mendapat tekanan dan siksaan dari keluarganya, karena memilih Islam.

Ummu Kultsum memeluk Islam ketika berada di Makkah. Namun merahasiakannya hingga Rasulullah hijrah ke Madinah. Ummu Kultsum berangkat ke Madinah setelah peristiwa Perjanjian Hudaibiyah dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan, ia sama sekali tak mengetahui rute perjalanan.

Sampai ketika ada seorang laki-laki membuntutinya. Ummu Kultsum bertanya, laki-laki itu berasal dari Kaza’ah. Jawaban dari laki-laki tersebut membuatnya sedikit lega, karena Kaza’ah termasuk wilayah kekuasaan Rasulullah.

Laki-laki tersebut membantu Ummu Kultsum dengan menaiki unta yang dibawa lelaki itu. Sepanjang perjalanan, keduanya tidak pernah berbicara hingga tiba di Madinah, laki-laki itu sangat menjaga jarak dengan Ummu Kultsum.

Sampai di Madinah, Ummu Kultsum bertemu dengan Ummu Salamah, salah seorang dari istri Rasulullah. Ummu Salamah mengabarkan kedatangan Ummu Kultsum kepada Rasulullah yang disambut baik. Dalam kesempatan tersebut, Ummu Kultsum meminta agar Rasulullah tidak mengembalikannya pada keluarganya di Makkah. Ia yakin keluarganya akan menyiksa dan mengahalangi keinginannya memeluk Islam.

Karena kejadian tersebut, maka turunlah wahyu Allah, Surat Al-Mumtahanah ayat 10, yang artinya, “Hai, orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu wanita yang beriman, maka hendaklah kami uji (keimanan) mereka…”

Kemudian Rasulullah menguji Ummu Kultsum dan wanita sesudahnya, “Tidaklah kalian keluar, kecali karena cinta Allah dan Rasul-Nya serta Islam, bukan karena cinta suami dan harta.” Apabila mereka mengatakan itu, maka mereka tidak dikembalikan ke keluarganya. Ummu Kultsum berhijrah karena cintanya kepada Allah dan Rasulullah.

Ibnu Sa’ad pun berkata, “Dia adalah wanita yang pertama kali hijrah setelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Tidak ada seorang pun wanita Quraisy yang lari dari kedua orang tuanya dalam keadaan Islam dan berhijrah kepada Allah dan Rasulnya, kecuali Ummu Kultsum. Dia keluar dari Kota Makkah seorang diri.

Kemudian, dengan ditemani seorang laki-laki bani Khuza'ah, ia tiba di Madinah pada tahun terjadinya gencatan senjata antara kaum Muslimin dan kafir Quraisy. Dia dikejar oleh dua orang saudaranya. Kedua saudaranya itu tiba pada hari kedua setelah kedatangan Ummu Kultsum ke Madinah. Keduanya berkata, "Hai Muhammad, kami menuntut syarat maka penuhilah syarat itu.

Sampai akhirnya, Ummu Kultsum memilih tetap di Madinah bersama Rasulullah dan kaum Muslimin lainnya. Ummu Kultsum telah meriwayatkan 10 hadis. Hadis darinya diriwayatkan kembali oleh Hamid bin Abdurrahman bin Auf, anaknya. Serta toko lain yaitu Hamid bin Nafi.

Salah satu hadis yang Ummu Kultsum riwayatkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah dianggap sebagai sebuah kedustaan apa yang ditunjukan untuk mendamaikan pertikaian antarumat manusia. Apa yang dilakukan untuk tujuan tersebut merupakan tindakan sangat terpuji”. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]