27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Sa'ad bin Muadz, Tak Gentar Hadapi Kematian

Sa'ad bin Muadz, Tak Gentar Hadapi Kematian

Fiqhislam.com - Para sahabat Nabi Muhammad SAW merupakan generasi terbaik dalam sejarah Islam. Mereka dengan setia dan tulus ikhlas mengawal dakwah Rasulullah SAW. Bahkan, mayoritasnya turut berjihad di sisi beliau demi melawan penindasan yang dilakukan kaum musyrikin.

Salah seorang sahabat yang mulia adalah Saad bin Muadz. Lelaki yang berasal dari sebuah kabilah yang terhormat di Madinah—dahulunya bernama Yastrib. Ia memeluk Islam kira-kira satu tahun sebelum hijrahnya Nabi SAW dari Makkah ke kota bertanah subur itu. Tatkala mengucapkan dua kalimat syahadat untuk pertama kalinya, sosok berjulukan Abu Amr itu baru berusia 31 tahun.

Cerita tentang keislamannya bermula sejak Nabi SAW mengutus Mushab bin Umair untuk berdakwah di Yastrib. Diutusnya Mushab berdasarkan permintaan sekelompok penduduk Yastrib sendiri. Sebelumnya, mereka di sela-sela waktu umrah telah menemui Rasulullah SAW dan berbaiat langsung kepada beliau.

Suatu hari, Mushab dengan diiringi sejumlah tokoh pemuda Yastrib menemui Saad. “Bagaimana kiranya kalau engkau duduk untuk mendengarkan? Jika engkau suka dengan perkara yang kusampaikan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi,” kata juru dakwah Nabi SAW itu.

“Baiklah, yang seperti itu lebih bijaksana,” jawab Saad.

Mushab kemudian menjelaskan tentang iman dan Islam, serta sejumlah hal mengenai tauhid dan hari kiamat. Beberapa surah dalam Alquran pun dibacakannya. Ternyata, lelaki itu sangat tersentuh keindahan firman Allah SWT.

“Apa yang harus kulakukan untuk memeluk Islam?” tanya Saad.

Mushab lalu memintanya untuk mandi dan membersihkan pakaiannya. Bila sudah siap, Saad akan dibimbing untuk melafalkan ikrar, “asyhaduan laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.” Usai mengucapkan kalimat tersebut, Saad kembali kepada kaumnya, Bani Abdu Asyhal, dengan wajah berbinar.

Setelah mengabarkan keputusannya, nyaris seluruh kabilah tersebut mengikuti jejaknya untuk memeluk Islam. Semua kecuali Ushairim, yang baru menjadi Muslim ketika menjelang Perang Uhud. Rekan Saad itu lantas syahid. Nabi SAW bersabda tentangnya, “Dia beramal sedikit, tetapi mendapatkan ganjaran yang sangat banyak.”

Saad pun pada akhirnya meninggalkan dunia yang fana ini sebagai seorang syuhada.

Kisahnya berawal dari momen Perang Khandaq atau Perang Ahzab. Waktu itu, Kota Madinah dikepung para musuh Allah, yakni kaum musyrikin Quraisy dan sekutunya.

Umat Islam bahkan tidak hanya menghadapi musuh dari luar parit, tetapi juga dalam kota. Sebab, kaum munafik yang bermufakat dengan suku-suku Yahudi yang bermuka dua terus mencari celah untuk melemahkan pertahanan Muslimin.

Dengan penuh disiplin dan keberanian, Saad menjalankan tugasnya, berjaga-jaga di dekat parit yang mengelilingi Madinah. Tiba-tiba, ratusan anak panah yang berasal dari pihak musuh menghujani perkemahan pasukannya.

Saad dapat menghalaunya untuk sesaat, tetapi kemudian tangannya tertancap panah, tepat pada bagian urat nadinya. Setelah situasi kondusif, sejumlah orang menggotongnya ke tempat yang lebih aman.

Rasulullah SAW memerintahkan agar Saad dibawa ke masjid. Di samping rumah ibadah itu, kemah didirikan untuknya sebagai tempat perawatan. Selama beberapa jam, mujahid itu masih bisa bertahan, tetapi kondisinya terus melemah. Bahkan, kesadarannya nyaris hilang.

Pada saat itulah, Saad terdengar berdoa dengan suara yang lirih, “Ya Allah, jika dari peperangan dengan musuh-musuh-Mu ini Engkau masih perkenankan kesempatan untukku, maka panjangkanlah usiaku untuk menghadapinya. Sebab, tak ada golongan yang lebih ingin kuhadapi selain kaum yang telah menganiaya Rasul-Mu, mendustakan dan mengusir beliau. Seandainya Engkau telah mengakhiri perang antara kami dan mereka, maka jadikanlah kiranya musibah yang menimpaku ini sebagai jalan untuk syahid.”

Dari hari ke hari, luka yang diderita Saad semakin parah. Kaum Muslimin merasakan, inilah detik-detik kepergiannya untuk selamanya. Rasulullah SAW mengunjunginya. Beliau bahkan meletakkan kepala Saad di pangkuannya, kemudian bermunajat, “Ya Allah, Saad telah berjihad di jalan-Mu, membenarkan Rasul-Mu, dan memenuhi kewajibannya. Maka, terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh.”

Mendengar doa yang dipanjatkan Nabi SAW itu, dada Saad seolah-olah disirami air sejuk. Ia pun tersenyum. Dengan susah-payah ia mengangkat kelopak matanya, mengarahkan pandangan agar dapat melihat untuk terakhir kalinya wajah Rasulullah SAW. Tidak ada manusia yang lebih dicintainya selain beliau.

Dengan kekuatan yang tersisa, Saad berkata, “Keselamatan atasmu, wahai Rasulullah. Saksikanlah bahwa aku beriman bahwa Anda, utusan Allah.”

“Kebahagiaan atasmu, wahai Abu Amr,” jawab Nabi SAW.

Saad bin Muadz pun mengebuskan napas terakhirnya. Sahabat ini wafat di pangkuan Rasulullah SAW. Waktu itu, usianya mencapai 37 tahun. Jenazahnya dikebumikan di kompleks Permakaman Baqi, Madinah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kelima hijriah.

Seperti diriwayatkan Bukhari-Muslim, Nabi SAW bersabda mengenai kepergian sahabat dari golongan Anshar itu, “Arsy (singgasana) Allah ar-Rahmaan bergetar karena wafatnya Saad bin Muadz.”

Abu Sa’id al-Khudri memberikan kesaksian, “Aku adalah salah seorang yang menggali makam untuk jenazah Saad. Sungguh, setiap kami menggali satu lapisan tanah, maka tercium wangi kesturi dari tanah kuburannya itu.” [yy/republika]

Oleh Hasanul Rizqa