12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Zaid bin Tsabit, Sang Penerjemah Rasulullah

Zaid bin Tsabit, Sang Penerjemah Rasulullah

Fiqhislam.com - Kehebatan anak-anak di sekitar Rasulullah صلى الله عليه وسلم patut kita jadikan teladan. Selain Mu'adz dan Mu'awwidz radhiyallahu 'anhuma --dua anak pemberani yang berhasil melumpuhkan Abu Jahal di Perang Badar--, ada sosok anak lain yang tak kalah hebatnya. Berikut kisahnya dihimpun dari berbagai sumber.

Dia adalah Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu. Anak keturunan Bani Khazraj ini dikenal sebagai penerjemah Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkat kecerdasannya yang luar biasa. Ketika berusia berusia 11 tahun, Zaid bin Tsabit dikabarkan telah menghafal beberapa surah Al-Qur'an.

Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendengar berita ada seorang anak di Madinah yang cerdas dan hafal surat-surat Al-Qur'an, beliau langsung memanggilnya untuk kemudian diuji oleh beliau. Rasulullah mengagumi kecerdasan yang dimiliki Zaid dan memintanya mempelajari bahasa Ibrani. Tidak butuh waktu lama, Zaid pun mampu menguasainya. Berkat kecerdasan itu, Zaid bin Tsabit diangkat sebagai sekretaris Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Zaid tak hanya tampil sebagai penerjemah, ia juga menjadi penulis wahyu. Bila wahyu turun, Rasulullah صلى الله عليه وسلم langsung memanggil Zaid, lalu dibacakan kepadanya dan disuruh menuliskannya. Alhasil, dia menjadi orang pertama tempat umat Islam bertanya tentang Al-Qur'an setelah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم kembali ke rahmat Allah.

Tak cuma cerdas, Zaid bin Tsabit juga dikenal sebagai anak pemberani karena pernah bergabung dalam pasukan muslim membantu Nabi صلى الله عليه وسلم pada Perang Badar dan Uhud. Namun, karena posturnya yang masih kecil, Nabi melarangnya ikut berperang. Zaid barulah diizinkan Rasulullah membela kaum muslimin saat Perang Khandaq.

Setelah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم wafat, kaum muslimin yang dipimpin Khalifah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu kala itu dibuat sibuk melawan orang-orang murtad. Ketika Perang Yamamah melawan Musailamah Al-Kadzdzab si nabi palsu, banyak hafidz (penghafal Al-Qur’an) yang wafat sehingga menjadi kekhawatiran bagi Khalifah Abu Bakar. Zaid bin Tsabit diperintahkan mengumpulkan mushaf (lembaran ayat-ayat Al-Qur'an) untuk dibukukan.

Zaid pun memegang amanah dan tanggung jawab besar. Ia mengecek dan menelaah hingga ayat-ayat Al-Qur'an tersusun dan terbagi-bagi berdasarkan surat masing-masing. Zaid berkata, "Demi Allah! Kalau sekiranya kalian bebankan aku untuk memindahkan bukit dari tempatnya, tentu hal itu lebih ringan daripada kalian perintahkan aku untuk membukukan Al-Qur'an."

Ia juga mengatakan: "Aku meneliti Al-Qur'an, mengumpulkannya dari daun-daun lontar dan hafalan-hafalan orang." Berkat taufik dari Allah, ia berhasil menjalankan amanah besar tersebut.

Zaid bin Tsabit juga meriwayatkan 92 hadis yang lima disepakati bersama oleh Iman Al-Bukhari dan Imam Muslim. Zaid bin Tsabit diakui sebagai ulama di Madinah yang keahliannya meliputi bidang fiqih, fatwa dan faraidh (waris).

Zaid bin Tsabit wafat pada tahun 45 Hijriyah di masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu 'anhu. Putranya, Kharijah bin Zaid, menjadi seorang tabi'in besar dan salah satu di antara tujuh ulama fiqih Madinah pada masanya. Wallahu A'lam. [yy/sindonews]