18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Mujahidah: Aisyah binti Abu Bakar, Sang Pendamping Rasulullah

Mujahidah: Aisyah binti Abu Bakar, Sang Pendamping Rasulullah

Fiqhislam.com - Rasulullah SAW membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah RA yang telah banyak dikenal. Aisyah laksana lautan luas dalam kedalaman ilmu dan takwa.

Di kalangan wanita, dialah sosok yang banyak menghapal hadits-hadits Nabi. Dan di antara istri-istri Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang menemani beliau hijrah. Berbeda dengan istri Nabi yang lain, kedua orang tua Aisyah melakukan hijrah bersama Rasulullah.

Dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rasulullah SAW biasa memanggilnya dengan Humaira. Aisyah binti Abu Bakar berasal dari keturunan mulia suku Quraisy. Ketika ia berumur enam tahun, gadis cerdas ini dipersunting oleh manusia termulia, yakni Rasulullah SAW berdasarkan perintah Allah melalui wahyu dalam mimpinya.

Nabi SAW mengisahkan mimpi beliau kepada Aisyah, "Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata, ini adalah istrimu. Kemudian aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu, lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah."

Aisyah memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur sembilan tahun. Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah atau kenabian. Rumah kecil yang di samping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu. Sebab, hanya tikar kulit bersih, sabut, dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan) yang ada di rumah itu.

Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketaatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah SAW sangat mencintainya.

Aisyah menghibur Rasulullah SAW di kala sedih. Ia pun menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah SAW berdakwah di jalan Allah. Aisyah melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah SAW, sehingga ribuan hadits berhasil dihapalkannya. Aisyah juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan).

Selain keahliannya itu, Aisyah juga seorang wanita yang menjaga kesuciannya. Suatu ketika, sepulang dari Perang Hunain, saat mendekati kota Madinah, ia kehilangan perhiasan yang dipinjam dari Asma. Lalu dia turun untuk mencari perhiasan itu.

Rombongan Rasulullah dan para sahabatnya berangkat tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal. Aisyah menanti jemputan, dan tiba-tiba datanglah Sufyan bin Muathal seorang tentara penyapu ranjau. Melihat demikian, Sufyan turun dan mendudukkan kendaraanya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kemudian Aisyah naik kendaraan tersebut dan Sufyan menuntun kendaraan tersebut dengan berjalan kaki.

Dari kejadian ini, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya menyebarkan kabar bohong untuk memfitnah Aisyah. Fitnah itu menimbulkan goncangan dalam rumah tangga Rasulullah SAW, tapi Allah yang Maha Tahu berkehendak menyingkap berita bohong tersebut serta menyucikan beliau dalam Alquran.

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar." (QS. An-Nuur: 11).

Di antara kelebihannya, Rasulullah SAW memilih untuk dirawat di rumah Aisyah dalam sakit menjelang wafatnya. Hingga akhirnya Rasulullah wafat di pangkuan Aisyah dan dimakamkan di rumahnya tanpa meninggalkan harta sedikit pun. Ketika itu Aisyah berusia 18 tahun. Sepeninggal Rasulullah, Aisyah mengisi hari-harinya dengan mengajarkan Alquran dan hadits di balik hijab bagi kaum laki-laki pada masanya.

Dengan kesederhanaannya, Aisyah juga menghabiskan hari-harinya dengan ibadah kepada Allah, seperti berpuasa Daud. Kesederhanaan juga tampak ketika kaum Muslimin mendapatkan kekayaan dunia, dan Aisyah mendapatkan 100 ribu dirham. Saat itu Aisyah berpuasa, tetapi uang itu semua disedekahkan tanpa disisakan sedikit pun.

Pembantu wanitanya mengingatkan Aisyah. "Tentunya dengan uang itu anda bisa membeli daging satu dirham buat berbuka," kata sang pembantu.

Aisyah menjawab, "Andai kamu mengatakannya tadi, tentu kuperbuat."

Begitulah, Aisyah tidak gelisah dengan kefakiran dan tidak menyalahgunakan kekayaan demi kezuhudan.

Aisyah Kecil
Aisyah adalah putri Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Tamim bin Marrah bin Ka'ab bin Luay, yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berasal dari suku Quraisy At-Taimiyah Al-Makkiyah. Ayahnya adalah Ash-Shiddiq dan orang pertama yang memercayai Rasulullah ketika terjadi Isra' Mi'raj, saat orang-orang tidak memercayainya.

Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman. Akan tetapi, riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau Wa'id binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams. Aisyah pun digolongkan sebagai wanita pertama yang masuk Islam, sebagaimana perkataannya, "Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah menganut Islam."

Ummu Ruman memberikan dua orang anak kepada Abu Bakar, yaitu Abdurrahman dan Aisyah. Anak Iainnya, yaitu Abdullah dan Asma, berasal dan Qatlah binti Abdul Uzza, istri pertama yang dia nikahi pada masa jahiliyah.

Ketika masuk Islam, Abu Bakar menikahi Asma binti Umais yang kemudian melahirkan Muhammad, juga menikahi Habibah binti Kharijah yang melahirkan Ummu Kultsum. Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi diutus menjadi Rasul.

Ketika dakwah Islam dihambat oleh orang-orang musyrik, Aisyah melihat bahwa ayahnya menanggung beban yang sangat besar. Semasa kecil dia bermain-main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah, usianya belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwa Rasulullah membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.

Aisyah tinggal di kamar yang berdampingan dengan Masjid Nabawi. Di kamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Di hati Rasulullah, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan itu tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, "Cinta pertama yang terjadi di dalam Islam adalah cintanya Rasulullah kepada Aisyah."

Hadist yang Diriwayatkan Aisyah
Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai masalah-masalah keagamaan, baik yang dikaji dari Alquran, hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Almustadrak, Alhakim mengatakan, bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan Aisyah.

Abu Musa Al-Asy'ari mengatakan, setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah. Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Aisyah pun sering mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya.

Salah satu contoh adalah perkataan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah. Ketika itu, Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh Fadhi ibnu Abbas, bahwa barangsiapa yang masih dalam keadaan junub pada terbit fajar, maka dia dilarang berpuasa.

Ketika Abu Hurairah bertanya kepada Aisyah, Aisyah menjawab, "Rasulullah pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya." Setelah mengetahui hal itu, Abu Hurairah berkata, "Dia lebih mengetahui tentang keluarnya hadits tersebut."

republika.co.id