FIQHISLAM - PUSTAKA MUSLIM

Sahabat Nabi Muhammad dari Kalangan Non-Arab

Sahabat Nabi Muhammad dari Kalangan Non-ArabFiqhislam.com - Pada saat Islam mulai berkembang di Makkah, berbagai gangguan kafir Quraisy kepada pemeluk Islam datang silih berganti.

antiasa dipenuhi hidayah Allah. Mereka tak takut dengan ancaman kafir Quraisy kendati harus menyerahkan nyawanya demi mempertahankan akidah dan keimanan kepada Allah.

Selain sahabat-sahabat Rasulullah yang berasal dari bangsa Arab, terdapat pula sejumlah sahabat yang berasal dari non-Arab (Ajam). Dalam buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, disebutkan ada tiga orang sahabat yang berasal dari kalangan non-Arab.



Bilal bin Rabah

Nama lengkapnya adalah Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Ia berpostur tubuh tinggi, kurus, warna kulitnya hitam, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat.

Ibunya adalah sahaya milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mereka. Setelah mendengar Islam, ia menemui Nabi SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam.

Umayyah bin Khalaf pernah menyiksanya dan menjemurnya di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Di perutnya, diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk menyeretnya di antara perbukitan Makkah. Saat diseret, Bilal selalu mengucapkan ''Ahad'' dan menolak untuk mengingkari Allah.

Abu Bakar lalu memerdekakannya. Saat itu, Umar bin Khattab berujar, ''Abu Bakar adalah seorang pemimpin (sayyid) kami dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin (sayyid) kami.''

Ia adalah muazin pertama dalam Islam sewaktu di Madinah karena ia memiliki suara yang cukup bagus. Pada saat pembebasan Kota Makkah, Rasulullah menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan di belakang Ka'bah. Azan itu adalah azan yang pertama dikumandangkan di Makkah.

Suatu hari, pada waktu Subuh, Rasulullah berkata kepada Bilal, ''Hai, Bilal, ceritakanlah kepadaku mengenai amalan yang menurutmu paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam. Sesungguhnya, aku pernah mendengar suara jalanmu di hadapanku di surga.'' Bilal menjawab, ''Aku tidak pernah mengerjakan amalan yang menurutku besar pahalanya, tapi aku tidak wudhu pada waktu malam dan siang, melainkan aku menunaikan shalat yang diwajibkan bagiku untuk mengerjakannya.''

Salman Al Farizi

Nama lengkapnya adalah Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani dari Isfahan (Persia). Namun, ia lebih dikenal dengan nama Salman Al-Farisi. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah dan digelari dengan Salman Al-Khair.

Salman adalah sosok sahabat yang terkenal memiliki ide-ide brilian, memiliki tubuh yang kuat, dan pandai dalam ilmu-ilmu syariat. Ia pernah menjadi penjaga api di kuil tempat pemujaan orang-orang Persia.

Sebelum Islam datang, Salman memeluk agama Nasrani karena ia terpikat dengan model sembahyang mereka. Atas saran seorang uskup yang ditemuinya di Mosul, Salman pergi menemui Rasulullah yang saat itu sudah hijrah ke Madinah.

Sang uskup mengabarkan kedatangan seorang nabi akhir zaman. Ia berpesan agar Salman mengikuti nabi tersebut dan nabi itu akan hijrah ke sebuah daerah yang banyak ditumbuhi pohon kurma dan daerahnya diapit dua bidang tanah yang berbatu hitam. Nabi itu tidak mau makan dari sedekah dan terdapat tanda kenabian di pundaknya.

Saat berjumpa dengan Nabi SAW, Salman melihat semua ciri-ciri tersebut. Maka, ia pun mengikrarkan diri masuk Islam.

Setelah masuk Islam, Salman rajin melaksanakan ibadah kepada Allah dan senantiasa mengiringi perjuangan Nabi SAW. Ia ikut serta dalam perang Khandaq (parit). Salman-lah orang yang mengusulkan untuk menggali parit berdasarkan pengalamannya dalam peperangan di Persia. Orang-orang Arab takjub dengan usulan Salman untuk menggali parit tersebut.

Nabi bersabda, ''Surga merindukan tiga orang, yakni Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, dan Salman Al-Farisi.''

Shuhaib Ar-Rumi
 
Nama lengkapnya adalah Shuhaib bin Sinan bin Malik dan populer dengan nama Shuhaib Ar-Rumi. Ia dilahirkan di Mosul tahun 32 sebelum hijrah. Ayahnya adalah seorang gubernur wilayah Al-Ablah pada masa pemerintahan Kisra.

Ketika wilayah kekuasaan ayahnya diserbu oleh tentara Romawi, Shuhaib yang saat itu masih anak-anak ditawan bersama penduduk Al-Ablah. Ia pun dibawa pihak musuh berkelana ke berbagai daerah hingga akhirnya dibeli oleh Abdullah bin Jad'an yang berasal dari Makkah.

Ia masuk Islam bersama Ammar bin Yasir. Ia termasuk salah satu di antara tujuh orang yang menampakkan keislamannya di hadapan publik Makkah secara terang-terangan. Rasulullah mempersaudarakannya dengan Harits bin Shummah.

Ia dahulunya sangat miskin. Namun, setelah berusaha terus-menerus, akhirnya ia menjadi sukses. Orang-orang kafir Quraisy pernah mengatakan, ''Dulu, Anda adalah seorang fakir miskin yang datang kepada kami. Kemudian, harta Anda menjadi berlimpah dan Anda menjadi seorang pedagang sukses di tengah-tengah kami. Sekarang, Anda pergi ke Madinah dengan membawa semua harta kekayaan yang Anda miliki.''

Tentang ketiga sahabat ini, Nabi SAW pernah mengatakan, ''Aku adalah sabiq (orang yang paling dahulu masuk Islam dari) bangsa Arab, Shuhaib adalah sabiq bangsa Romawi, Salman adalah sabiq bangsa Persia, dan Bilal adalah sabiq bangsa Habasyah.'' [yy/republika]

 

Disarankan meggunakan Chrome/Firefox browser
Download hanya digunakan pada browser eksternal