19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Mujahidah: Ummu Syarik, Kiprah Dakwah Sang Mujahidah

Mujahidah: Ummu Syarik, Kiprah Dakwah Sang MujahidahFiqhislam.com - Cahaya iman mulai menerangi kalbunya sejak Rasulullah SAW menyampaikan risalah Islam di Makkah. Ia begitu bersimpati terhadap kebenaran ajaran Islam yang disebarkan Nabi Muhammad SAW.

Keimanannya yang semakin membaja membuat Ummu Syarik Al-Quraiysiyyah membaktikan hidupnya untuk mengibarkan panji-panji kalimat Syahadat.

Ummu Syarik bernama asli Ghaziyah binti Jabir bin Hakim. Ia adalah wanita dari Quraisy yang berasal dari Bani Amir bin Lu’ai. Sejarah mencatat, sang mujahidah pernah menjadi istri Abu Al-Akr Ad-Dausi. Ia berjasa  dalam menyebarkan agama Islam di kalangan wanita-wanita Quraisy.

Secara sembunyi-sembunyi, Ummu Syarik berdakwah dan mengajak wanita-wanita Quraisy. Tanpa kenal lelah, ia berdakwah dan mendorong para wanita Quraisy agar memeluk agama Islam. Padahal, risiko yang akan dihadapinya begitu berat. Namun, ia rela mempertaruhkan nyawanya demi dakwah dan kebenaran.

Ancaman siksaan dan intimidasi terhadap keselamatan jiwa dan harta tak membuat  Ummu Syarik mundur dari medan dakwah. Baginya, iman bukanlah sekedar kalimat yang diucapkan lisan, tetapi pada hakikatnya iman memiliki konsekuensi, amanah yang mengandung kesabaran.

Kekuatan imannya pun sempat diuji. Allah SWT mengujinya  dengan berbagai fitnah. Gerak dakwah Ummu Syarik akhirnya tercium penduduk Makkah. Ia lalu ditangkap kafir Quraisy. Lalu mereka berkata, "Kalaulah bukan karena kaummu, kami akan berbuat sesuka hati kepadamu. Akan tetapi kami akan menyerahkan kamu kepada mereka."

Ummu Syarik mengisahkan penangkapan yang dilakukan penduduk Makkah atas dirinya. "Maka datanglah keluarga Abu Al-Akr, yakni keluarga suamiku, kepadaku. Kemudian berkata, ‘Jangan-jangan engkau telah masuk kepada agamanya (Muhammmad)?'

Aku menjawab, "Demi Allah, aku telah masuk agama Muhammad.”

Mereka lalu berkata, "Demi Allah kami akan menyiksamu dengan siksaan yang berat."

"Kemudian mereka membawaku dari rumah kami, kami berada di Dzul Khalashah (terletak di San’a) mereka ingin membawaku ke sebuah tempat dengan mengendarai seekor unta yang lemah, yakni kendaraan yang paling jelek dan kasar."

Mereka kemudian memberikan Ummu Syarik makanan dan madu, namun tidak memberiknya setetes air pun. Hingga manakala tengah hari dan matahari telah terasa panas, mereka menurunkan dan memukuli Ummu Syarik, dan meninggalkannya di tengah teriknya matahari.

"Sehingga hampir-hampir hilang akalku, pendengaranku dan penglihatanku. Mereka melakukannya selama tiga hari," tutur Ummu Syarik.

Pada hari ketiga, mereka berkata kepadanya, “Tinggalkan agama yang telah kau pegang!’’

Ummu Syarik membalas, "Aku sudah tidak lagi dapat mendengar perkataan kalian, kecuali satu kata demi satu kata," sembari memberikan isyarat dengan telunjuknya kelangit sebagai isyarat tauhid.

Ummu Syarik melanjutkan, "Demi Allah, tatkala aku berada dalam keadaan seperti itu ketika sudah berat aku rasakan, tiba-tiba aku mendapatkan dinginnya ember yang berisi air di atas dadaku. Maka aku segera mengambilnya dan meminumnya sekali teguk."

"Kemudian ember tersebut terangkat dan aku melihat ternyata ember tersebut menggantung antara langit dan bumi dan aku tidak mampu mengambilnya. Kemudian ember tersebut menjulur kepadaku untuk kedua kalinya maka aku minum darinya kemudian terangkat lagi."

"Aku melihat ember tersebut berada di antara langit dan bumi. Kemudian ember tersebut menjulur kepadaku untuk ketiga kalinya, maka aku minum darinya hingga kenyang dan aku guyurkan ke kepala, wajah dan bajuku."

Kemudian mereka keluar dan melihatku seraya berkata, "Dari mana engkau mendapatkan air itu, wahai musuh Allah?"

Ummu Syarik menjawab, "Sesungguhnya musuh Allah adalah selain diriku yang memusuhi agama-Nya. Adapun pertanyaan kalian dari mana air itu, maka itu adalah dari sisi Allah yang direzekikan kepadaku."

Mereka segera pergi menengok ember mereka dan mereka dapatkan bahwa ember tersebut masih tertutup rapat dan belum terbuka. Maka mereka berkata, "Kami bersaksi bahwa Rabb-mu adalah Rabb kami.  Dan kami bersaksi bahwa yang telah memberikan rezeki kepadamu di tempat ini setelah kami menyiksamu adalah Dia yang mensyariatkan Islam."

Maka masuk Islamlah mereka dan semuanya berhijrah bersama Rasulullah SAW. Ummu Syarik  telah mengukir sebaik-baik contoh dalam berdakwah ke jalan Allah. Keteguhan hatinya dalam memperjuangkan iman dan akidahnya di saat menghadapi cobaan layak diteladani.

republika.co.id