fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


10 Ramadhan 1442  |  Kamis 22 April 2021

Hujjatul Islam: Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Ulama Kontemporer Terbaik

Hujjatul Islam: Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Ulama Kontemporer TerbaikFiqhislam.com - Tafsir Al-Maraghi merupakan salah satu tafsir Alquran kontemporer. Nama Al-Maraghi diambil dari nama belakang penulisnya, Ahmad Musthafa Al-Maraghi.

Tafsir ini merupakan hasil dari jerih payah dan keuletan sang penulis selama kurang lebih 10 tahun, dari tahun 1940-1950 M.

Nama lengkapnya adalah Ahmad Musthafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im Al-Maraghi. Kadang-kadang nama tersebut diperpanjang dengan kata Beik, sehingga menjadi Ahmad Musthafa Al-Maraghi Beik.

Ia berasal dari keluarga yang sangat tekun dalam mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan dan peradilan secara turun-temurun, sehingga keluarga mereka dikenal sebagai keluarga hakim.

Al-Maraghi lahir di Kota Maraghah, sebuah kota kabupaten di tepi barat sungai Nil, sekitar 70 kilometer di sebelah selatan kota Kairo, pada tahun 1300 H/1883 M. Nama Kota kelahirannya inilah yang kemudian melekat dan menjadi nisbah (nama belakang) bagi dirinya, bukan keluarganya. Ini berarti nama Al-Maraghi bukan monopoli bagi dirinya dan keluarganya.

Ia mempunyai delapan orang saudara. Lima di antaranya laki-laki, yaitu Muhammad Musthafa Al-Maraghi (pernah menjadi Imam Besar Al-Azhar), Abdul Aziz Al-Maraghi, Abdullah Musthafa Al-Maraghi, dan Abdul Wafa’ Musthafa Al-Maraghi. Hal ini perlu diperjelas sebab seringkali terjadi salah kaprah tentang siapa sebenarnya penulis Tafsir Al-Maraghi di antara kelima putra Musthafa itu.

Keslahkaprahan ini terjadi karena Muhammad Musthafa Al-Maraghi juga terkenal sebagai seorang mufassir. Sebagai mufassir, Muhammad Musthafa juga melahirkan sejumlah karya tafsir, hanya saja ia tidak meninggalkan karya tafsir Alquran secara menyeluruh.

Ia hanya berhasil menulis tafsir beberapa bagian Alquran, seperti surah Al-Hujurat dan lain-lain. Dengan demikian, jelaslah yang dimaksud di sini sebagai penulis Tafsir Al-Maraghi adalah Ahmad Musthafa Al-Maraghi, adik kandung dari Muhammad Musthafa Al-Maraghi.

Masa kanak-kanaknya dilalui dalam lingkungan keluarga yang religius. Pendidikan dasarnya ia tempuh pada sebuah Madrasah di desanya, tempat di mana ia mempelajari Alquran, memperbaiki bacaan, dan menghafal ayat-ayatnya. Sehingga sebelum menginjak usia 13 tahun ia sudah menghafal seluruh ayat Alquran. Di samping itu, ia juga mempelajari ilmu tajwid dan dasar-dasar ilmu agama yang lain.

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya tahun 1314 H/1897 M, atas persetujuan orang tuanya, Al-Maraghi melanjutkan pendidikannya ke Universitas Al-Azhar di Kairo. Ia juga mengikuti kuliah di Universitas Darul Ulum Kairo. Ia berhasil menamatkan studinya di kedua Universitas ini pada saat bersamaan, tahun 1909 M.

Di kedua Universitas tersebut, Al-Maraghi mendapatkan bimbingan langsung dari tokoh-tokoh ternama dan ahli di bidangnya masing-masing pada waktu itu. Mereka antara lain Syekh Muhammad Abduh, Syekh Muhammad Bukhait Al-Muthi’i, Ahmad Rifa’i Al-Fayumi, dan lain-lain. Para tokoh inilah yang menjadi narasumber bagi Al-Maraghi, sehingga ia tumbuh menjadi sosok intelektual Muslim yang menguasai hampir seluruh cabang ilmu agama.

Setelah menamatkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar dan Darul Ulum, Al-Marghi terjun ke masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan pengajaran.

Dia mengabdi sebagai guru di beberapa madrasah dengan mengajarkan beberapa cabang ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya. Beberapa tahun kemudian, ia diangkat sebagai Direktur Madrasah Mu’allimin di Fayum, sebuah kota setingkat kabupaten yang terletak 300 kilometer sebelah barat daya Kota Kairo.

Dan, pada tahun 1916, ia diminta sebagai dosen utusan untuk mengajar di Fakultas Filial Universitas Al-Azhar di Qurthum, Sudan, selama empat tahun.

Pada tahun 1920, setelah tugasnya di Sudan berakhir, ia kembali ke Mesir dan langsung diangkat sebagai dosen Bahasa Arab di Universitas Darul Ulum serta dosen Ilmu Balaghah dan Kebudayaan pada Fakultas Bahasa Arab di Universitas Al-Azhar.

Pada rentang waktu yang sama, Al-Maraghi juga menjadi guru di beberapa madrasah, di antaranya Ma’had Tarbiyah Mu’allimah, dan dipercaya memimpin Madrasah Utsman Basya di Kairo. Karena jasanya di salah satu madrasah tersebut, Al-Maraghi dianugerahi penghargaan oleh Raja Mesir, Faruq, pada tahun 1361 H.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya di Mesir, Al-Maraghi tinggal di daerah Hilwan, sebuah kota yang terletak sekitar 25 kilometer sebelah selatan Kota Kairo. Ia menetap di sana sampai akhir hayatnya. Ia wafat pada usia 69 tahun (1371 H/1952 M). Untuk mengenang jasa dan pengabdiannya, namanya kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan yang ada di kota tersebut.

Al-Maraghi adalah ulama kontemporer terbaik yang pernah dimiliki oleh dunia Islam. Selama hidup, ia telah mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan agama. Banyak hal yang telah ia lakukan.

Selain mengajar di beberapa lembaga pendidikan yang telah disebutkan, ia juga mewariskan kepada umat ini karya ilmiyah. Salah satu di antaranya adalah Tafsir Al-Maraghi, sebuah kitab tafsir yang beredar dan dikenal di seluruh dunia Islam sampai saat ini. Karya-karyanya yang lainnya adalah Al-Hisbat fi al-Islam, Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, 'Ulum al-Balaghah, Muqaddimat at-Tafsir, Buhuts wa A-ra' fi Funun al-Balaghah, dan Ad-Diyanat wa al-Akhlaq.

Tafsir Al-Maraghi pertama kali diterbitkan pada tahun 1951 di Kairo. Pada terbitan yang pertama ini, Tafsir Al-Maraghi terdiri atas 30 juz atau dengan kata lain sesuai dengan pembagian juz Alquran.

Kemudian, pada penerbitan yang kedua terdiri dari 10 jilid, di mana setiap jilid berisi 3 juz, dan juga pernah diterbitkan ke dalam 15 Jilid, di mana setiap jilid berisi 2 juz. Kebanyakan yang beredar di Indonesia adalah Tafsir Al-Maraghi yang diterbitkan dalam 10 jilid.

Dengan segala kesibukannya, Al-Maraghi menulis karya monumentalnya ini selama kurang lebih 10 tahun. Karena komitmen dan disiplin waktu yang ketat, Al-Maraghi mampu menyelesaikan penulisan tafsir ini tanpa mengganggu aktivitas primernya sebagai seorang dosen dan pengajar.

Menurut salah satu referensi, ketika Al-Maraghi menulis tafsirnya ini, ia hanya membutuhkan waktu istirahat selama 4 jam, sedangkan 20 jam yang tersisa digunakan untuk mengajar dan menulis.

Penulisan tafsir ini tidak terlepas dari rasa tanggungjawab dan tuntutan ilmiah Al-Maraghi sebagai salah seorang ulama tafsir yang melihat begitu banyak problema dalam masyarakat kontemporer yang membutuhkan pemecahan. Ia merasa terpanggil untuk menawarkan berbagai solusi alternatif berdasarkan makna-makna yang terkandung dalam nash-nash Alquran.

Karena alasan ini pulalah tafsir ini tampil dengan gaya modern, yaitu disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang sudah maju dan modern, seperti dituturkan oleh Al-Maraghi sendiri dalam pembukaan tafsirnya ini.

Dari sisi metodologi, Al-Maraghi bisa disebut telah mengembangkan metode baru. Bagi sebagian pengamat tafsir, Al-Maraghi adalah mufassir yang pertama kali memperkenalkan metode tafsir yang memisahkan antara "uraian global" dan "uraian rincian".

Sehingga penjelasan ayat-ayat di dalamnya dibagi menjadi dua kategori, yaitu ma’na ijma-li dan ma’na tahlili. Kemudian, dari segi sumber yang digunakan selain menggunakan ayat dan atsar (riwayat), Al-Maraghi juga menggunakan ra’yi (nalar) sebagai sumber dalam menafsirkan ayat-ayat.

Namun perlu diketahui, penafsirannya yang bersumber dari riwayat (relatif) terpelihara dari riwayat yang lemah (dha'if) dan susah diterima akal atau tidak didukung oleh bukti-bukti secara ilmiah. Hal ini diungkapkan oleh Al-Maraghi sendiri pada mukadimah tafsirnya.

Al-Maraghi sangat menyadari kebutuhan kontemporer. Dalam konteks kekinian, merupakan keniscayaan bagi mufassir untuk melibatkan dua sumber penafsiran, aql dan naql. Karena memang hampir tidak mungkin menyusun tafsir kontemporer dengan hanya mengandalkan riwayat semata, selain karena jumlah riwayat (naql) yang cukup terbatas juga karena kasus-kasus yang muncul membutuhkan penjelasan yang semakin komprehensif, seiring dengan perkembangan problematika sosial, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang berkembang pesat.

Sebaliknya, melakukan penafsiran dengan mengandalkan akal semata juga tidak mungkin, karena dikhawatirkan rentan terhadap penyimpangan-penyimpangan, sehingga tafsir itu justru tidak dapat diterima.

Namun tidak dapat dipungkiri, Tafsir Al-Maraghi sangat dipengaruhi oleh tafsir-tafsir yang ada sebelumnya, terutama Tafsir Al-Manar. Hal ini wajar karena dua penulis tafsir tersebut, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, adalah guru yang paling banyak memberikan bimbingan kepada Al-Maraghi di bidang tafsir.

Bahkan, sebagian orang berpendapat bahwa Tafsir Al-Maraghi adalah penyempurnaan terhadap Tafsir Al-Manar yang sudah ada sebelumnya. Metode yang digunakan juga dipandang sebagai pengembangan dari metode yang digunakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

republika.co.id