12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Mengenal Ummu Fadhl, Istri Paman Rasulullah yang Pemberani

Mengenal Ummu Fadhl, Istri Paman Rasulullah yang PemberaniFiqhislam.com - Ummul Fadhal merupakan seorang mukminah yang bertakwa, ahli tobat, dan rajin qiyamulail. Ia dinikahi oleh Abbas paman Rasulullah SAW. Ummul Fadhal yang merupakan istri paman Rasulullah SAW tersebut memberikan sejumlah keturunan yang saleh antara lain Al-Fadhl, Abdullah al-faqih, Ubaidillah al-Faqih, Ma'bad, Qatsam, dan Abdurrahman.

Ummul Fadhal telah memeluk Islam sebelum peristiwa hijrah. Konon ia adalah wanita pertama yang masuk Islam sesudah Ummul Mukminin Khadijah r.a.

Ia menjalani hidup dalam Islam dengan baik, mempertahankannya dengan penuh kesabaran, dan rela menanggung siksaan yang pahit.

Abdullah, putranya, pernah menceritakan, "Aku dan ibuku termasuk wanita dan anak-anak yang lemah. Ibuku adalah junjungan kaum wanita. Rasulullah acapkali berkunjung dan singgah di rumah Ummul Fadhal beberapa saat."



Hal yang membuat Ummul Fadhal berbeda dengan para perempuan lainnya adalah keberanian yang ia miliki dalam beriman dan membela dakwah Rasulullah SAW. Ia merupakan orang yang menghabisi dan membunuh Abu Lahab, musuh Allah dan Rasul-nya.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ikrimah. Ia menceritakan bahwa Abu Rafi', budak Rasulullah menceritakan, "Aku adalah budak Abbas. Ketika lslam datang, Abbas masuk Islam secara diam-diam, begitu juga dengan Ummu Fadhal dan aku. Abbas merasa tidak kuasa menghindari ajakan kaumnya ketika mereka mengajaknya untuk ikut bersama rombongan pasukan Quraisy menghadapi kaum muslimin dalam Perang Badar. Karena itu, ia tidak mampu untuk menolak seruan itu ataupun mengabaikannya."

Adapun Abu Lahab, ia tidak ikut pergi dalam Perang Badar dan ia menunjuk al-'Ash ibn Hisyam ibn Mughirah untuk menggantikan dirinya. Demikianlah kebiasaan mereka: jika ada seseorang yang tidak pergi, ia akan mengirimkan seseorang sebagai penggantinya.

Menurut cerita Abu Rafi', saat Abu Jahal sedang duduk, orang-orang berteriak: 'Abu Sufyan ibn Hârits telah datang.'

Abu Lahab berkata: 'Ke marilah, engkau pasti membawa berita!'

Abu Sufyan duduk di dekat Abu Lahab sementara orang-orang berdiri di selilingnya.

Abu Lahab berkata: 'Wahai saudaraku, ceritakanlah apa yang terjadi dengan kaum kita!'

Abu Sufyan mengatakan: 'Demi Allah, begitu bertemu dengan kaum muslimin, kami seakan memberikan pundak-pundak kami kepada mereka. Mereka bunuh kami semaunya dan menawan kami dengan bebas. Namun, demi Allah, kami tidak menyalahkan pasukan kami atas kejadian itu. Pasalnya, ketika itu kami melihat banyak laki-laki berpakaian putih yang menunggang kuda belang di antara manusia dan bumi. Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang bisa menghadang kuda itu'.

Abu Rafi' mengatakan, "Aku mengangkat tali pahat lalu kukatakan: Demi Allah, itu adalah para malaikat.' Seketika itu Abu Lahab mengangat tangannya dan menampar wajahku hingga bengkak kemudian membantingku ke tanah. Ia duduk di atas tubuhku sambil menghajarku sementara aku adalah seorang laki-laki yang lemah.

Lalu Ummul Fadhal bangkit menuju sebatang kayu. Ia ambil kayu itu dan memukulkannya ke kepala Abu Lahab hingga terluka. Ia berkata: 'Engkau anggap ia lemah karena tuannya tidak ada?' Abu Lahab lalu berdiri dengan lemah dan gontai. Demi Allah, hanya tujuh malam setelah itu, Allah menurunkan penyakit bisul yang membunuh Abu Lahab.

Suatu riwayat menyebutkan bahwa setelah mati, Abu Lahab dibiarkan oleh anak-anaknya selama tiga hari. Jasadnya tidak dimakamkan hingga membusuk.

Kaum Quraisy merasa takut dengan penyakit bisul sebagaimana ketakutan mereka terhadap tha'un. Hal itu terus berlangsung sampai ada seorang Quraisy mengatakan kepada anak-anak Abu Lahab, "Celakalah kalian! Apakah kalian tidak merasa malu bahwa jasad ayahmu membusuk di rumahnya dan tidak kalian makamkan?"

Mereka menjawab, "Kami takut terjangkit oleh penyakitnya."

Laki-laki itu pun menyahut, "Pergilah dan aku akan membantu kalian!"

Demi Allah, mereka tidak memandikan jasad Abu Lahab selain dengan sedikit air tanpa mendekat. Setelah itu, mereka menggali liang kubur lalu mereka dorong tubuh itu dengan sebatang kayu ke dalam liang tersebut. Selanjutnya, mereka timpakan batu-batu ke dalam liang kubur hingga jasad itu tertimbun.

Demikianlah, akhir hidup setiap orang yang dengan terang-terangan memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Abu Lahab demikian jauh tersesat hingga memusuhi serta menyakiti Rasulullah dan para sahabat. Maha Benar Allah yang berfirman,

فما جراء من بفعل ذلك منكم إلا خزي في الحياة الدنيا ...

إلى أشد العذاب ومال له بغافل عما تعملون

"Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." (QS. Al-Baqarah: 85)

Dengan demikian, sejarah Islam sangat layak membanggakan Ummul Fadhal. Seorang wanita pemberani dan beriman yang berani memberi balasan kepada musuh Allah dan Rasul-Nya hingga berakhirlah kesombongannya.

Ibnu Sa'd dalam Thabaqat al-Kubra menuturkan bahwa suatu hari, Ummul Fadhal mengalami sebuah mimpi yang sangat aneh. Karena itu, ia pergi menghadap Rasulullah dan menceritakan mimpinya setelah sekian lama ia ragu untuk menceritakan mimpi tersebut.

Ummul Fadhal berkata, "Wahai Rasulullah, aku bermimpi seolah salah satu anggota tubuhmu ada di rumahku."

Rasulullah menjawab, "Engkau telah mengalami mimpi baik. Fathimah akan melahirkan seorang putra dan engkau akan menyusuinya bersama anakmu, Qatsam."

Ummul Fadhal membawa pulang kabar gembira dan agung dari Rasulullah itu. Tidak lama kemudian, Fathimah az-Zahra melahirkan Hasan ibn Ali r.a. Selanjutnya, Ummul Fadhal mengambil dan menyusui anak tersebut. Terbuktilah mimpi yang ia alami dan kabar gembira yang disampaikan Rasulullah kepadanya.

Ummul Fadhal menceritakan, "Aku datang membawa Hasan kepada Rasulullah. Beliau segera menyambut dan menciumnya. Tiba-tiba Hasan mengencingi Rasulullah maka beliau pun bersabda: 'Wahai Ummul Fadhal, peganglah cucuku karena ia telah mengencingiku.'

Aku mencubit Hasan hingga menangis dan aku katakan: 'Engkau telah menyakiti Rasulullah dengan mengencingi beliau.' Saat Hasan menangis, Rasulullah menegurku: 'Wahai Ummul Fadhal, engkau telah menyakiti putraku dan membuatnya menangis.' Selanjutnya, Rasulullah meminta air lalu memercikkannya pada bekas air kencing tersebut.

Setelah itu, beliau bersabda: 'Jika bayi laki-laki, percikanlah dan jika wanita, basuhlah'."

Dalam riwayat lain menyatakan bahwa Ummul Fadhal mengatakan kepada Rasulullah, "Lepaslah kainmu dan pakailah yang lain agar aku mencucinya." Rasulullah menjawab, "Yang dicuci hanyalah bekas kencing bayi wanita, sedangkan kencing bayi-bayi laki-laki cukup dipercikan (air)."

Salah satu di antara bentuk anugerah dan kemurahan Allah kepada Ummul Fadhal adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Zaid ibn Ali ibn Husain bahwa ia menceritakan, "Rasulullah tidak pernah meletakkan kepala beliau di pangkuan seorang wanita yang tidak halal bagi beliau sesudah menjadi nabi, kecuali Ummul Fadhal. Ia pernah menyisir dan mencari kutu di kepala beliau yang ketika itu berada dalam pangkuanya.

Suatu hari, ketika ia sedang menyisir rambut beliau, air matanya jatuh menimpa pipi Rasulullah. Beliau pun bangkit dan bertanya: 'Ada apa denganmu?'

Ummul Fadhal menjawab: 'Sesungguhnya, Allah telah memberitahukan akan kepergianmu. Karena itu, tidakkah engkau mewasiatkan orang sesudahmu jika persoalan ada pada kami atau selain kami.'

Rasulullah bersabda: 'Setelah aku tiada, kalian akan menjadi kaum yang tertindas dan lemah'."

Di samping berbagai jejak agung dalam kehidupan sahabat wanita yang mulia ini, Ummul Fadhal, ia juga banyak mendengar hadis dari Rasulullah hingga meriwayatkan hampir tiga puluh hadist dari beliau.

Beberapa di antara orang yang meriwayatkan hadist Nabi darinya adalah Abdullah ibn Abbas, putranya, Tammam, budak Ummul Fadhal, Anas ibn Malik, dan sejumlah sahabat lainnya.

Sang sahabat wanita nan mulia, Ummul Fadhal, wafat pada masa kekhalifahan Utsman ibn Affan r.a. Sepanjang hidupnya ia telah menjadi contoh soosok seorang ibu yang salehah, beriman, dan pemberani.

Jenazahnya dishalatkan oleh suaminya, Abbas, dan para sahabat yang mulia lainnya. Setelah itu, jenazahnya diiring menuju tempat peristirahatan terakhir dengan ridha dan diridhai.

Semoga Allah meridhainya, membuatnya ridha, dan menempatkannya dalam surga-Nya yang luas dan abadi. Surga yang telah dikabarkan oleh Rasulullah kepadanya saat bersabda, "Sesungguhnya mereka itu sungguh-sungguh merupakan para wanita beriman."

Kisah ini dikuti dari Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, karya Dr. Bassam Muhammad Hamami. [yy/okezone]