9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Ummu Sinan Al Aslamiyah Berjuang Tegakkan Islam

Ummu Sinan Al Aslamiyah Berjuang Tegakkan Islam

Fiqhislam.com - Kecintaannya pada Allah SWT dan Rasulullah SAW tak perlu diragukan lagi. Ia bahkan rela berkorban nyawa demi menegakkan Islam di muka bumi. Pejuang itu bernama Ummu Sinan Al Aslamiyah. Dirinya berasal dari salah satu kabilah yang sangat dicintai Rasulullah, yaitu Aslam.

Dalam kesehariannya, Ummu Sinan senantiasa mematuhi segala perintah Allah dan Rasul- Nya. Bagi dia, memperjuangkan agama Allah termasuk kewajiban setiap Muslim.

Meski bertempur di medan perang merupakan kewajiban pa ra pria, Ummu Sinan ingin turut berpartisipasi. Saat Rasulullah bersama kaum Muslimin hendak berangkat ke Khaibar, Ummu Sinan mendatangi sekaligus memohon izin kepada Baginda Nabi agar bisa ikut berjihad. "Wahai Rasulullah, aku akan berangkat bersamamu menghadapi musuh. Aku bisa memberi minum orang yang kehausan serta mengobati orang-orang sakit dan terluka," kata dia.

Rasulullah SAW pun mengizinkannya. "Berangkatlah enkau dengan berkah dari Allah. Kau memiliki para sahabat yang telah berbaiat kepadaku dan aku mengizinkan mereka semuanya, dari kaummu dan dari luar kaummu. Jika kau suka, maka tetaplah bersama kaummu. Jika kau suka, maka bersamalah dengan kami."

"Aku akan bersama rombonganmu," jawab Ummu Sinan. Nabi Muhammad SAW lalu memintanya berangkat bersama Ummu Salamah. "Hendaklah kau berangkat bersama Ummu Salamah, istriku," sabda Rasulullah.

Sang Muslimah kemudian berangkat bersama Ummu Salamah menuju medan perang Khai bar. Selama di sana, ia memberi minum sekaligus mengobati prajurit yang terluka. Tak hanya pan dai merawat orang, Ummu Sinan mahir pula dalam berperang dan menunggang kuda. Berkat kontribusinya di medan jihad, ia sering mendapat harta rampasan perang.

"Ketika penaklukan Khaibar, Rasulullah mengucurkan sebagian harta rampasan perang. Beliau memberiku untaian kalung berwarna merah dan perhiasan dari perak yang didapat dari harta rampasan perang. Beliau juga memberiku kain beledu dan seli mut dari Yaman, serta kuali dari kuningan," tutur Ummu Sinan.

Usai Perang tersebut, Ummu Sinan pulang bersama Ummu Salamah mengendarai unta milik Nabi. Saat akan memasuki Kota Madinah, Ummu Salamah berkata kepada Ummu Sinan, "Unta yang kau tunggangi adalah milikmu, Rasulullah telah member ikannya kepadamu."

Selain Perang Khaibar, Ummu Sinan juga berperan dalam Perang Tabuk yang terjadi pada Rajab 9 Hijriyah. Kala itu, Rasulullah menyeru kaum Muslimin untuk berjihad dan mengeluarkan sedekah demi membiayai peperangan. Berdatanganlah para laki-laki membawa sedekah yang sangat besar jumlahnya. Mereka berlomba-lomba bersedekah semaksimal mungkin.

Para wanita pun demikian. Mereka menyumbangkan apa pun yang mereka mampu, tak terkecuali Ummu Sinan. "Aku menyaksikan kain terbentang di hadapan Rasulullah, di rumah Aisyah, Ummul Mukminin. Di atas kain tersebut terdapat gelang, gelang untuk bawah bahu, gelang kaki, anting-anting, cincin. Dan para wanita pembantu dikirimkan untuk membantu prajurit mempersiapkan segala perlengkapannya," ujar Ummu Si nan.

Keutamaan Ummu Sinan lainnya, yakni ia dapat meriwayatkan sekaligus menghafal hadis dari Rasulullah. Beberapa orang, termasuk anak perempuannya, yaitu Tsabitah binti Hantalah Al Aslamiyah turut meriwayatkan hadis dari Ummu Sinan. [yy/republika]