12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Ulama dan Ilmuwan Muslim Tunanetra

Ulama dan Ilmuwan Muslim Tunanetra

Fiqhislam.com - Selain Al-Amidi, peradaban Islam di era keemasan juga mencatat kiprah sederet ilmuwan dan ulama Muslim yang menyandang tunanetra. Ada yang sejak lahir mengalami kebutaan dan ada pula yang mengalami kebutaan pada usia tua.

Bahkan, ada pula yang ketika lahir tunanetra, namun penglihatannya bisa kembali normal, seperti Imam Bukhari.

Berikut ini adalah beberapa ulama dan ilmuwan Muslim yang tunanetra:

Abdullah Ibnu Ummu Maktum

Abdullah adalah sahabat Rasulullah SAW yang menyandang tunanetra. Namun, keterbatasan penglihatan tak menyurutkan daya juangnya untuk membela dan menyebarkan agama Allah SWT. Sejarah peradaban Islam mencatat, Abdullah sempat memainkan peranan penting dalam komunitas Muslim pada zamannya.

Tak hanya sekadar sahabat bagi Rasulullah SAW, Abdullah adalah keponakan Siti Khadijah--istri pertama Nabi Muhammad SAW. Ayahnya bernama Qays ibnu Za'id dan ibunya Atikah binti Abdullah. Atikah dijuluki Ummu Maktum karena dia melahirkan seorang anak yang buta bernama Abdullah.

Abdullah merupakan salah seorang sahabat yang terbilang paling awal menerima kebenaran ajaran Islam. Dia pun menyaksikan bagaimana Islam berkembang pesat di Makkah dan Madinah. Meski pada awalnya mendapat tekanan dan siksaan dari kaum Quraisy, Abdullah yang tunanetra tetap memegang keyakinannya sebagai seorang Muslim.

Ia juga tetap berada di belakang Rasulullah SAW untuk membela agama Allah SWT. Salah satu kelebihan yang dimilikinya adalah daya ingat yang luar biasa. Tak heran, jika Abdullah menjadi salah seorang sahabat yang bertugas untuk menghapal Alquran.

'Abdur-Razzaq bin Humam

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar 'Abdur-Razzaq bin Humam bin Nafi' Al-Himyari. Dia adalah seorang ulama yang memiliki pengetahuan yang luar biasa. Ia juga merupakan seorang ahli hadis. Dari Abdu-Razzaq-lah, imam Ahmad, Ishak, Ibnu Ma'in, dan Adh-Dhuhli mendengar langsung hadis. Pada awalnya, penglihatan Abdur-Razzaq normal. Namun, memasuki usia tua, dia mengalami kebutaan. Meski begitu, dia tetap dikenal sebagai ahli hadis yang memiliki hapalan yang tajam. Ia meninggal pada 211 H pada usia 85 tahun.

Abu 'Iesa Muhammad bin 'Iesa bin Sura At-Tirmidzi

Ia dikenal sebagai ahli hadis yang termasyhur. Terlahir di Tirmiz, Uzbekistan, pada 209 H, murid Imam Bukhari ini dikenal dengan panggilan At-Tirmidzi. Salah satu kontribusinya bagi pengembangan agama Islam adalah kitab Al-Jami-- menghimpun 4.000 hadis Nabi Muhammad SAW. Kitab yang ditulisnya itu juga populer dengan julukan, Sunan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi juga berjasa dalam mengembangkan metodelogi hadis yang disusunnya dalam buku bertajuk, Al-'Ilal. Sang ahli hadis pun mengalami kebutaan. Ia tutup usia pada 13 Rajab 279 H. [yy/republika]

 

Ulama dan Ilmuwan Muslim Tunanetra

Fiqhislam.com - Selain Al-Amidi, peradaban Islam di era keemasan juga mencatat kiprah sederet ilmuwan dan ulama Muslim yang menyandang tunanetra. Ada yang sejak lahir mengalami kebutaan dan ada pula yang mengalami kebutaan pada usia tua.

Bahkan, ada pula yang ketika lahir tunanetra, namun penglihatannya bisa kembali normal, seperti Imam Bukhari.

Berikut ini adalah beberapa ulama dan ilmuwan Muslim yang tunanetra:

Abdullah Ibnu Ummu Maktum

Abdullah adalah sahabat Rasulullah SAW yang menyandang tunanetra. Namun, keterbatasan penglihatan tak menyurutkan daya juangnya untuk membela dan menyebarkan agama Allah SWT. Sejarah peradaban Islam mencatat, Abdullah sempat memainkan peranan penting dalam komunitas Muslim pada zamannya.

Tak hanya sekadar sahabat bagi Rasulullah SAW, Abdullah adalah keponakan Siti Khadijah--istri pertama Nabi Muhammad SAW. Ayahnya bernama Qays ibnu Za'id dan ibunya Atikah binti Abdullah. Atikah dijuluki Ummu Maktum karena dia melahirkan seorang anak yang buta bernama Abdullah.

Abdullah merupakan salah seorang sahabat yang terbilang paling awal menerima kebenaran ajaran Islam. Dia pun menyaksikan bagaimana Islam berkembang pesat di Makkah dan Madinah. Meski pada awalnya mendapat tekanan dan siksaan dari kaum Quraisy, Abdullah yang tunanetra tetap memegang keyakinannya sebagai seorang Muslim.

Ia juga tetap berada di belakang Rasulullah SAW untuk membela agama Allah SWT. Salah satu kelebihan yang dimilikinya adalah daya ingat yang luar biasa. Tak heran, jika Abdullah menjadi salah seorang sahabat yang bertugas untuk menghapal Alquran.

'Abdur-Razzaq bin Humam

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar 'Abdur-Razzaq bin Humam bin Nafi' Al-Himyari. Dia adalah seorang ulama yang memiliki pengetahuan yang luar biasa. Ia juga merupakan seorang ahli hadis. Dari Abdu-Razzaq-lah, imam Ahmad, Ishak, Ibnu Ma'in, dan Adh-Dhuhli mendengar langsung hadis. Pada awalnya, penglihatan Abdur-Razzaq normal. Namun, memasuki usia tua, dia mengalami kebutaan. Meski begitu, dia tetap dikenal sebagai ahli hadis yang memiliki hapalan yang tajam. Ia meninggal pada 211 H pada usia 85 tahun.

Abu 'Iesa Muhammad bin 'Iesa bin Sura At-Tirmidzi

Ia dikenal sebagai ahli hadis yang termasyhur. Terlahir di Tirmiz, Uzbekistan, pada 209 H, murid Imam Bukhari ini dikenal dengan panggilan At-Tirmidzi. Salah satu kontribusinya bagi pengembangan agama Islam adalah kitab Al-Jami-- menghimpun 4.000 hadis Nabi Muhammad SAW. Kitab yang ditulisnya itu juga populer dengan julukan, Sunan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi juga berjasa dalam mengembangkan metodelogi hadis yang disusunnya dalam buku bertajuk, Al-'Ilal. Sang ahli hadis pun mengalami kebutaan. Ia tutup usia pada 13 Rajab 279 H. [yy/republika]

 

Keberhasilan al-Amidi yang Terlupakan

Keberhasilan al-Amidi yang Terlupakan


Fiqhislam.com - Kesadaran untuk menghidupkan kembali sejarah hidup dan kontribusi Al-Amidi mulai muncul di Arab Saudi pada 1975 serta 1981 dan di Mesir pada 1961. Sejak tanggal 31 Maret 1975 dirayakan sebagai hari tunanetra dan pada 1981 dideklarasikan sebagai tahun internasional orang-orang cacat.

Tak jelas apa yang menyebabkan para sejarawan Muslim tak mencatat keberhasilan Al-Amidi yang begitu fenomenal. Boleh jadi, sistem tulisan yang dikembangkan Al-Amidi untuk kaum tunanetra serta tulisan tentang sejarah hidupnya musnah dalam huru-hara yang melanda wilayah Irak. Apalagi, Al-Amidi menetap di wilayah itu.

Pada 9 Juli 1401 M, Kota Baghdad dan wilayah Irak lainnya dihancurkan oleh pasukan Timur Lenk--penguasa Dinasti Timurid yang berpusat di Asia Tengah. Selain menghancurkan bangunan serta gedung-gedung penting, aksi invansi Timur Lenk yang masih keturunan Hulagu Khan itu juga menimbulkan korban jiwa belasan ribu jiwa.

Serangan Timur Lenk ke Baghdad merupakan invansi kedua yang dilakukan bangsa Mongol. Sebelumnya, pada 1258 M, Baghdad diluluhlantakan tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan. Bait Al-Hikmah yang menyimpan jutaan judul buku dibakar. Bahkan, sungai-sungai pun berubah warnanya menjadi hitam, akibat tinta yang meleleh dari buku yang dibuang ke sungai.

Peradaban Islam modern tentunya memiliki tugas penting untuk melacak jejak karya dan sejarah hidup Al-Amidi. Bisa jadi pula, risalah tentang sejarah Al-Amidi digondol peradaban Eropa ketika menjajah negara-negara Muslim di Timur Tengah. Pun Sangat mungkin, berkat karya Al-Amidi-lah Braille terinspirasi untuk menciptakan tulisan bagi tunanetra. [yy/republika]