12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Al-Shifa binti Abdullah, Muslimah Penulis Pertama

Al-Shifa binti Abdullah, Muslimah Penulis Pertama


Fiqhislam.com - Al-Shifa binti Abdullah, perempuan pertama yang memiliki kemampuan menulis di Makkah pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Itu sebabnya, perannya pada awal sejarah Islam di Makkah sangat besar dalam mengajarkan membaca dan menulis kepada kaum Muslimin, termasuk kepada Hafsah binti Umar.

Pada masa itu, tidak banyak perempuan yang memiliki kemampuan menulis dan membaca. Pasalnya, orang Arab mayoritas tidak berpendidikan. Apalagi, dalam masyarakat pra-Islam pendidikan adalah cita-cita yang umumnya tidak terpikirkan oleh perempuan.

Al-Shifa merupakan putri dari pasangan Abdullah bin Abd Shams dan Fatima bint Wahb. Ia menikah dengan Abu Hatma ibn Hudhaifa dan dikaruniai dua anak, yaitu Sulaiman dan Masruq. Sulaiman tumbuh se bagai anak yang religius.

Al-Shifa merupakan perempuan dengan reputasi baik pada masa itu. Rasulullah sering berkonsultasi dengan Al-Shifa terkait bisnis. Reputasi Al-Shifa yang dikenal bijak membuat Khalifah Umar menunjuknya sebagai inspektur di Madinah. Keahlian lainnya yang dimiliki oleh Al-Shifa adalah kemampuannya dalam dunia intelijen. Ia dihormati dan disegani kare na semangat belajarnya yang tinggi.

Selain itu, Al-Shifa juga memiliki keahlian dalam hal medis. Rasulullah memintanya mengajari Hafsah tentang ilmu pengobatan, khususnya mengatasi penyakit kulit. Saat itu, keahlian Al-Shifa dalam dunia medis masih jarang dimiliki oleh banyak orang. Sebab, kedokteran merupakan disiplin ilmu yang belum berkembang waktu itu.

Dalam sebuah artikel yang dimuat Arabnews, disebutkan bahwa keahlian Al-Shifa dalam pengobatan sudah dimilikinya sebelum masuk Islam. Setelah memeluk Islam, Al-Shifa bertanya kepada Rasulullah apakah dirinya masih diperbolehkan melanjutkan keahliannya dalam dunia medis. Rasulullah meminta agar Al-Shifa melanjutkannya, bahkan mendukung penuh. Sikap Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa ia selalu mendorong dan memastikan bahwa praktik yang dilakukannya sejalan dengan ajaran Islam.

Al-Shifa termasuk orang yang ikut hijrah bersama nabi ke Madinah. Di Madinah ia memiliki rumah yang letaknya berada di antara masjid dan pasar dan nabi sering kali mengunjunginya. Al-Shifa banyak bertanya tentang agama kepada nabi. Masyarakat Madinah terus berkembang pesat. Transaksi jual beli di pasar juga te rus menunjukkan geliatnya. Karena itu, pasar sebagai sim bol pergerakan ekonomi mem buat sahabat Umar merasa per lu ada yang mengawasi.

Umar kemudian menunjuk Al-Shifa sebagai pengendali pa sar di Madinah. Al-Shifa di berikan tugas oleh Umar untuk memastikan praktik jual beli di pasar sesuai dan konsisten de ngan ajaran Islam. Dia diminta berkeliling pasar untuk memastikan tidak ada kecurangan yang dilakukan oleh pembeli maupun penjual. Dalam menjalankan tugasnya, Al-Shifa ha rus siap-siap mendapatkan banyak pertanyaan dari pem beli ataupun penjual tentang transaksi di pasar. Umar me min ta kepada pemilik toko apabila mendapatkan keraguan tentang legalitas transaksi tertentu agar bertanya kepada Al- Shifa.

Tugas yang diberikan kepada Al-Shifa karena Umar percaya akan keilmuannya ten tang Islam. Pilihan Umar ter nyata sangat tepat. Al-Shifa mampu mengembang tugasnya dengan baik. Ia mampu mengontrol pasar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Keberhasilan Al-Shifa mengontrol pasari di Madinah menjadi rujukan Umar untuk juga menunjuk se orang perempuan mengontrol pasar di Makkah. Umar me nunjuk Samra' bint Nuhaik sebagai pengontrol pasar di Mak kah.

Penunjukan seorang perempuan sebagai pengontrol pasar di Madinah dan Makkah disebutkan bahwa pada awal Islam aktifitas pasar didominasi oleh perempuan baik pembeli mau pun pemilik toko. Itu sebabnya, Al-Shifa maupun Samra' tak menemukan kesulitan berarti dalam menjalankan tugasnya. [yy/republika]