29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Kesabaran Hindun binti Amru bin Haram

Kesabaran Hindun binti Amru bin Haram

Fiqhislam.com - Kesedihan akan menimpa tiap manusia yang ditinggal pergi orang tercinta. Perasaan yang sama di rasakan oleh salah seorang sahabat Nabi SAW dari golongan perempuan (shabiyat), Hindun binti Amru bin Haram.

Ia kehilangan tiga orang yang ia cinta sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Suami, anak, dan saudaranya mati syahid dalam peperangan. Ia sangat sedih. Namun, tetap sabar dan tidak membuatnya lemah. Ia yakin, semua itu takdir Allah SWT. Ia bahkan bersyukur karena ketiganya syahid da lam pertempuran.

Suami, anak, serta saudara Hindun meninggal ketika Perang Uhud. Ia bawa ketiga jenazah mereka menggunakan unta dengan kepedihan hati mendalam. Aisyah melihatnya dan bertanya, “Ya Hindun, semoga engkau memperoleh kebaikan. Apakah yang ada di belakangmu?” Hindun menjawab, “Rasulullah adalah orang salih dan setiap musibah selain kehilangan beliau adalah kecil. Dan, Allah telah mengangkat beberapa orang mukmin sebagai syuhada.”

Aisyah bertanya lagi, “Ya Hindun, akan engkau bawa kemana mereka itu?” Ia menjawab, ketiga jenazah itu akan dimakamkan di Madinah. “Aku hendak kuburkan di sana.” Lalu, Hindun memacu untanya agar berlari lebih cepat menuju ke arah Madinah. Namun, unta tersebut tampak loyo, tidak mampu berlari lebih kencang.

Hindun mengubah haluan. Ia menggiring untanya berbalik arah kini menuju ke medan perang di Bukit Uhud. Tidak disangka, unta yang tadi nya lemah kini bisa berlari cepat hingga sampai di Uhud. Di tempat tersebut, Hindun berjumpa dengan Rasulullah. Lalu Rasulullah mendekati jenazah suami, anak, dan saudara Hindun. Nabi bersabda, “Sungguh aku melihat suamimu (Amru bin Jamuh—Red) berjalan di surga dengan kakimu ini dalam kondisi sehat.”

Lalu, Rasulullah menyuruh para sahabat menguburkan mereka (Amru bin Jamuh, anaknya, dan saudaranya dalam satu liang kubur). Rasulullah berkata, “Ya Hindun, mereka akan bersahabat di dalam surga. Amru bin Jamuh suamimu, Khallad putramu, dan Abdullah saudaramu, semuanya akan menjadi penghuni surga.”

Hindun lega dan bahagia. Ia berkata, “Ya Rasulullah. Doakanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka juga.” Rasulullah menjawab, “Wahai Hindun, engkau memiliki kesabaran yang tinggi, keimanan yang luhur, dan kepercayaan yang kuat kepada apa yang berada di sisi Allah, engkau tidak pernah berkeluh kesah dalam menempuh kehidupan ini. Sebaliknya, engkau sangat mencintai apa yang berada di sisi Allah.”

Jawaban Rasulullah membuat Hindun tenang dan semakin kokoh keimanannya kepada Allah dan Rasulullah. Dia tegar dan ikhlas walaupun harus kehilangan suami, anak, dan saudaranya. Namun, Rasulullah menjamin, kelak Hindun bersama keluarganya akan berkumpul di surga.

Sekeluarga masuk Islam

Hindun menikah dengan Amru ibnul Jamuh yang saat itu memimpin Bani Salamah di Yastrib. Walaupun kaki Amru cacat (pincang—Red), ia termasuk pemimpin yang disegani. Mereka dikaruniai tiga putra, yaitu Mu’awadz, Mu’adz, dan Khalad. Sebagai pemimpin pada masa jahiliah, kediaman Hindun dipenuhi dengan berhala tempat pemujaan. Patung-patung itu diberi nama Manat. Bahannya terbuat dari kayu dengan harganya yang mahal.

Satu per satu anak-anak Hindun masuk Islam tanpa diketahui sang ayah. Sosok yang berada di balik ikrar syahadat mereka ialah Mush’ab bin Umair yang berjuluk Duta Islam. Hindun lantas mengikuti jejak buah hatinya. Bila perkara ini diendus Amru bin Jamuh, bisa jadi mengundang murka dari sang suami. Di tengah kekhawatiran itu muncul keresahan bila suaminya yang telah berusia 60 tahun itu akan meninggal dalam kondisi kafir.

Lambat laun Amru curiga dengan keislaman anak-anaknya. Ia meminta istrinya menjaga anak-anaknya agar tidak terpengaruh Mus’abh bin Umair. Ketiga anaknya harus memegang teguh kepercayaan nenek moyang. Hindun tidak mau menyinggung suaminya. Dengan lembut dan kasih sayang, ia mengatakan, “Apakah kau pernah mendengar anak kita mengenal pemuda itu (Mus’abh bin Umair— Red)?” Amru balik bertanya, “Apakah Mu’adz telah masuk agama orang itu?”

Hindun berusaha menenteramkan hati suaminya. “Bukan begitu. Tetapi, Mu’adz pernah hadir dalam majelis pemuda itu. Mu’adz ingat kata-kata nya,” jawab Hindun. Suaminya sempat kaget. Ia memanggil Mu’adz dan memintanya menjelaskan segala informasi yang ia peroleh dari Mus’abh bin Umair.

Mu’adz pun hadir. Ia membacakan surah al-Fatihah di hadapan ayahnya. Lantunan ayat-ayat Allah yang dibacakan anaknya telah menggetarkan hati Amru. Ia pun tertarik mengikuti agama Rasulullah dan meninggalkan semua berhala yang ada di rumahnya. Hindun sangat bersyukur, kini semua anggota keluarganya beriman kepada Allah dan Rasulullah.

Keluarga Hindun memeluk Islam. Ia yang dikenal cinta terhadap agama, memotivasi suami, ketiga anaknya, serta saudaranya, Abdullah bin Amr bin Haram, untuk berperang di jalan-Nya. Amru pun bersemangat untuk berjihad walaupun kondisi kakinya tidak memungkinkan. Konon, saat Perang Badar, Amru memohon terlibat dalam perang bersejarah tersebut. Lantaran kondisinya, ia tak mendapat izin.

Ketika Perang Uhud, Amru kembali bersemangat berjihad. Ketiga anaknya melarang. Ia menemui Rasulullah, “Wahai Rasulullah, putra-putraku melarangku berbuat kebajikan. Mereka keberatan jika aku ikut berperang karena sudah renta dan pincang. Demi Allah, dengan pincangku ini, aku bertekad meraih surga.”

Rasulullah akhirnya mengizinkan Amru bin Jamuh ikut Perang Uhud. Di perang itulah ketiga orang tercintanya gugur. Kematian itu ia diterima dengan ikhlas. [yy/republika]