pustaka.png
basmalah.png.orig


9 Dzulqa'dah 1442  |  Sabtu 19 Juni 2021

Halimah As-Sa’diyah Wanita Mulia Pengasuh Rasulullah Saw

Halimah As-Sa’diyah Wanita Mulia Pengasuh Rasulullah Saw


Fiqhislam.com - Jasanya bagi kehidupan Nabi Muhammad SAW sangat besar. Lewat kasih sayangnya, Rasulullah bisa tumbuh dengan mengisap nutrisi darinya. Wanita mulia itu bernama Halimah As Sa'diyah.

Ia diberkahi oleh Allah dengan menjadi ibu susu Baginda Rasul saat bayi. Namanya pun tak pernah luput dimakan waktu dan dihormati oleh setiap Muslim. Halimah dikenal sebagai perempuan tenang sekaligus penuh rasa cinta. Sejarah juga mencatat sosoknya yang teguh dan berpendirian kuat.

Pada tahun gajah, tepatnya Senin malam menjelang Subuh pada bulan Rabiul Awal, Muhammad lahir di rumah Abu Thalib yang terletak di perkampungan Bani Hasyim. Selama tiga hari, bayi Muhammad disusui sendiri oleh ibunya Aminah.

Beliau juga sempat disusui oleh budak wanita milik ayahnya, yakni Ummu Aiman. Lalu, pernah disusui oleh budak bernama Tsuwaibah, milik paman beliau Abu Lahab.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib atau dari seseorang yang mendapat cerita darinya, ia berkata, "Hali mah As Sa'diyah bercerita, bersama suami dan anak yang masih kecil yang masih disusuinya, dia pergi meninggalkan kampung halamannya mencari bayi-bayi untuk disusui. Bersama kami, ada sejumlah wanita dari Bani Sa'ad bin Abu Bakar."

"Kepergian ini terjadi pada musim kemarau. Tanaman-tanaman mengering, hewan-hewan ternak mati, sampai tak sedikit pun ada yang yang tersisa bagi kami. Ia menuturkan, aku pergi dengan membawa unta yang sudah tua dan tidak bisa lagi me nge luarkan air susu setetes pun."

"Setiap malamnya kami tidak bisa tidur meski sesaat karena tangisan anak kami yang kelaparan. Lantaran air susuku tidak bisa mencukupi. Kantung susu unta kami juga tidak menghasilkan susu untuk anak kami. Kami berharap ada ada bantuan dan jalan keluar."

"Ketika tiba di Makkah dan mencari bayi-bayi untuk kami susui, suatu hal di luar dugaan terjadi. Setiap wanita dalam rombongan kami ditawari menyusui Rasulullah SAW, tapi mereka semua enggan menerimanya saat diberi tahu kalau beliau anak yatim karena mereka mengharapkan kebaikan dari ayah si anak." Dua hari berlalu, setiap wanita di rombongan tersebut sudah mendapatkan bayi untuk disusui.

Namun, saat semuanya hendak kembali ke kampung halaman, Halimah mengatakan kepada suaminya, tak akan pulang tanpa membawa bayi untuk disusui. Ia kemudian bertekad membawa bayi Muhammad walau yatim. Suaminya al-Harits bin Abdul Izzi bin Rifa'ah As-Sa'di pun menjawab, "Tidak apa-apa ambil saja bayi itu. Semoga Allah memberikan berkah kepada kita karenanya." Halimah lalu menemui Aminah dan membawa bayi tersebut.

"Demi Allah, aku bawa bayi ini karena memang tidak mendapatkan bayi lain. Saat aku bawa bayi itu ke kendaraanku kemudian aku letakkan dalam pang kuan ku dan aku sodorkan puting susuku, ternyata air susuku sangat deras seperti memang Allah kehendaki untuknya. Pada hal, sebelumnya kempes sekaligus kosong," tutur Halimah.

Ketika suaminya menoleh ke arah unta mereka yang sudah tua dan kurus, dua puting susu si unta juga telah terisi penuh. De ngan terkejut suami Halimah menghampiri untanya, lalu me me rah susu itu untuk dia dan istrinya.

"Pagi harinya suamiku berka ta padaku: Tahu tidak wahai Ha limah, kau mendapatkan bayi pe nuh berkah. Kukatakan kepada nya: Demi Allah itulah yang ku harapkan. Selanjutnya, kami me ninggalkan Makkah, aku naik menunggangi unta kami yang sudah tua membawa bayi tersebut.

Unta melaju dengan gesit hing ga mendahului hewan-he wan tunggangan rombongan kami," kata Halimah.

Halimah bercerita, keluarganya terus mendapat keberkahan sejak membawa pulang bayi Rasulullah. Sampai akhirnya dua tahun penyusuan si anak berakhir dan harus disapih. Dirinya mem bawa si anak kembali ke ibunya.

Halimah memohon kepada Aminah agar Muhammad kecil diizinkan tinggal kembali bersa ma nya. Aminah pun menyetujuinya. Rasul dikembalikannya ke Makkah setelah terjadi peristiwa pembelahan dada. Saat itu malaikat datang untuk membelah dada Nabi Muhammad dan mengeluarkan hatinya, selanjutnya hati tersebut dicuci dan dikembalikan seperti semula.

Halimah tidak tahu malaikat yang melakukan pembelahan itu. Dia merasa khawatir dengan keselamatan Muhammad kecil. Ia dan suaminya lalu sepakat me ngembalikan anak tersebut ke pada ibunya.

Semenjak itu, Halimah tak tahu apa yang terjadi pada anak susunya tersebut. Sampai akhir nya, dia mendengar kabar Nabi Muhammad telah menjadi Rasul. Halimah kemudian memeluk Islam, tapi bukan di tangan Rasul.

Pasalnya, sulit baginya saat itu bertemu Rasulullah. Meski begitu, suatu hari Halimah dapat berjumpa dengan Nabi Muham mad. Kebahagiaan yang yang luar biasa pun dirasakannya. Halimah lalu meninggal dunia di Ma dinah dan dimakamkan di Baqi'.

Perlu diketahui, pada masa tersebut sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab, kalau bayi yang dilahirkan disusukan kepada wanita lain. Terutama wanita dusun, tujuannya agar si bayi hidup di alam serta mempelajari Bahasa Arab baku. [yy/republika]