12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Pahlawan Uhud, Abdullah Bin Amr

Pahlawan Uhud, Abdullah Bin Amr


Fiqhislam.com - Sahabat Rasulullah Muhammad SAW dalam kisah kali ini bernama Abdullah bin Amr bin Haram. Dia merupakan salah seorang pahlawan yang gugur dalam medan Perang Uhud. Sejarah mencatat, pasukan Islam menderita kekalahan dalam pertempuran tersebut.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW mengalami luka-luka, antara lain, berupa gigi depan yang tanggal. Setelah perang itu usai, Rasulullah SAW berjalan mendekati jenazah-jenazah Muslim yang syahid. Saat menjumpai jasad Abdullah, Rasulullah SAW berkata kepada sahabat-sahabat yang memapahnya, “Para malaikat terus memayunginya (Abdullah bin Amr bin Haram) dengan sayap-sayap mereka hingga kalian mengangkat jasadnya.”

Kisah masuk Islamnya ayahanda Jabir tersebut terjadi sebelum Rasulullah SAW dan para sahabat hijrah dari Mekkah ke Madinah. Abdullah bin Amr bin Haram ikut dalam rombongan penduduk Yastrib (Madinah) menuju Aqabah. Kala itu, sekitar 70 orang warga Yastrib menyatakan sumpah setia (baiat) kepada Rasulullah SAW. Namun, Abdullah belum mau memeluk Islam dalam momentum bersejarah itu.

Selang waktu kemudian, para sahabat Abdullah mendekatinya dan menuturkan bagaimana akhir kehidupan kaum musyrik. Allah melapangkan dada Abdullah. Akhirnya, ia menerima Islam dan selalu konsisten dengan keputusannya itu.

Dr Abdul Hamid as-Suhaibani dalam bukunya, Para Sahabat Nabi, menceritakan satu sahabat yang berhasil membujuk Abdullah bin Amr bin Haram kepada Islam, Ka’ab bin Malik.

Dia menuturkan, “Bersama kami (dalam baiat Aqabah), ada Abdullah bin Amr bin Haram, bapaknya Jabir, yang saat itu masih musyrik. Kami berkata kepadanya, ‘Wahai, Abu Jabir. Demi Allah, kami mengkhawatirkan dirimu mati di atas keyakinanmu sehingga esok hari engkau menjadi kayu bakar neraka. Sesungguhnya Allah telah mengutus seorang rasul yang memerintahkan manusia agar bertauhid kepada Allah dan menyembah-Nya.’”

Abdullah bin Amr bin Haram dikenal sebagai sosok yang tidak pernah absen dalam setiap jihad. Sebelum terjun di Perang Uhud, Abdullah merupakan mujahid Perang Badar. Sebuah riwayat menceritakan bagaimana dekatnya Abdullah dengan Rasulullah SAW menjelang perang tersebut.

Saat itu, pasukan Muslim dan Rasulullah SAW menjelang tiba di medan perang Badar. Mereka pun melewati as-Suqya, sebuah sumur di Madinah. Bagi Abdullah, tempat ini tidak asing karena masih menjadi bagian dari kekuasaan kabilahnya.

Untuk itu, Abdullah meminta Rasulullah SAW agar bersedia singgah sebentar di sumur tersebut. “Sesungguhnya tempat ini adalah tempat tinggal kami, Bani Salimah. Pernah terjadi, di antara kami dan orang-orang Husaikah, sekelompok Yahudi, akan berperang. Maka kami memarkaskan orang-orang kami di sini. Kemudian, kami memeriksa, siapa saja di antara kami yang dapat memanggul senjata, maka dapat ikut berperang. Siapa saja yang belum mampu, maka kami memulangkannya,” tutur Abdullah kepada Nabi Muhammad SAW,

Intinya, dia mengisahkan latar belakang kepemilikan kabilahnya atas sumur as-Suqya.

“Kemudian, kami bergerak menuju lokasi kami berhadapan dengan Yahudi Husaikah. Kami banyak membunuh di antara mereka (memenangkan pertempuran). Maka, sampai hari ini orang-orang Yahudi lainnya tunduk kepada kami karena itu,” lanjutnya.

Abdullah menceritakan kisah itu semata-mata agar pasukan Muslim terinspirasi dengan semangat juang kabilahnya dalam melawan musuh, meskipun saat itu jumlah pasukan Muslim tidak sebanyak pasukan musyrik Quraisy.

Dengan singgah sebentar di sumur as-Suqya, Abdullah dapat mengenang kembali dan berdoa bahwa kemenangan yang sama juga akan terulang di Perang Badar. “Aku berharap, wahai Rasulullah, kita nanti akan bertemu dengan Quraisy lalu Allah memberikan kemenangan kepadamu atas mereka,” kata Abdullah.

Pada akhirnya, Allah meridhai pasukan Muslim di medan jihad Badar. Pasukan musyrik kocar-kacir dan gentar menghadapi keteguhan iman dan perjuangan umat Islam.

Setelah Perang Badar, tidak ada satu pun jihad yang di dalamnya Abdullah bin Amr bin Haram absen. Maka, Perang Uhud menjadi puncak sekaligus ujung dari perjuangannya itu.

Sebelum pecah Perang Uhud, kondisi kaum Muslim di Madinah cukup dinamis. Tambahan pula, upaya-upaya adu domba dari kelompok munafik tidak kunjung berhenti.

Di hari-hari menjelang Perang Uhud, Abdullah bin Ubay mewanti-wanti orang-orang Madinah agar tetap tinggal di rumah masing-masing. Pemimpin kaum munafik ini menuding Perang Uhud, bilapun terjadi, hanya melibatkan kaum muhajirin dan musyrik Quraisy sehingga sah-sah saja orang asli Madinah tidak menyertai. Abdullah bin Amr bin Haram geram dengan seruan sesat Abdullah bin Ubay itu.

“Aku mengingatkan kalian akan Allah, agama, dan Nabi kalian, serta apa-apa yang telah kalian setujui, bahwa kalian melindunginya (Nabi Muhammad SAW) seperti kalian melindungi diri, anak-anak, dan istri-istri kalian sendiri,” seru Abdullah bin Amr bin Haram kepada penduduk Madinah.

Abdullah bin Ubay kemudian membalasnya, “Aku melihat tidak akan ada perang di antara mereka. Bila kamu mematuhiku, wahai Abu Jabir, maka pulanglah. Karena, orang-orang yang berakal dan memahami, telah pulang.”

Saat itu, kubu Abdullah bin Ubay sudah memperdaya hampir sepertiga pasukan Muslim yang telah bersiap-siap ke medan Uhud sehingga memilih tinggal di Madinah. Karena itu, Abu Jabir alias Abdullah bin Amr memperingatkan mereka dan sang munafikun itu sendiri, “Wahai musuh-musuh Allah! Semoga Allah menjauhkan kalian! Allah akan mencukupkan Nabi-Nya sehingga dia tidak membutuhkan kalian.”

Ternyata, peristiwa itu menjadi latar turunnya wahyu Allah, surat Ali Imran ayat 67. Di sana ditegaskan, Allah mengetahui siapa saja orang munafik. “Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.

Mereka mengatakan dengan mulut-mulut mereka apa yang tidak terkandung dalam hati mereka. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan,” demikian kutipan terjemahan akhir ayat tersebut.

Dalam Perang Uhud, Abdullah bin Amr bin Haram sempat berhadapan dengan salah seorang jago kaum musyrik, Sufyan bin Abdu Syams as-Sulami. Pedang Sufyan mengenai wajah Abdullah bin Amr dan menyebabkan luka yang cukup parah.

Abdullah berupaya menahan rasa sakit selama mungkin tetapi akhirnya tubuhnya rubuh. Musuh Allah itu segera mengayunkan pedangnya hingga menyebabkan ajal menjemput sahabat Rasulullah SAW itu. Sejarah mencatat, Abdullah bin Amr bin Haram merupakan syuhada pertama di Perang Uhud. [yy/republika]