14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Mencium Kepala Abdullah bin Hudzafah

Mencium Kepala Abdullah bin Hudzafah


Fiqhislam.com - Abdullah bin Hudzafah dikenal sebagai pejuang dan penegak panji Islam. Dia tak segan berhadapan dengan penguasa di negeri seberang, seperti Raja Persia Khusraw Parvez dan Kaisar Bizantium Heraclius.

Kisah perjumpaannya dengan Khusraw Parvez dimulai pada tahun keenam hijrah. Saat itu, Nabi memutuskan untuk mengirim beberapa sahabatnya dengan surat kepada penguasa di luar semenanjung Arab untuk mengundang mereka memeluk Islam.

Utusan Rasul pergi ke negeri yang sebelumnya tidak memiliki kesepakatan atau perjanjian. Mereka pun tidak tahu bahasa di negara tersebut, termasuk aturan untuk bertemu penguasa mereka.

Misi ini tentu berbahaya karena mengundang penguasa dan mengajak mereka meninggalkan kekuatan serta kemuliaan dan kemudian menghamba pada Allah. Untuk rencana ini, Nabi memanggil teman-temannya bersama dan berbicara kepada mereka. Mereka pun langsung menyetujui permintaan Rasul.

Nabi menugaskan enam Sahabatnya untuk membawa surat-suratnya kepada penguasa Arab dan negara asing. Satu dari mereka adalah Abdullah bin Hudzafah. Dia dipilih untuk mengirim surat Nabi kepada penguasa negeri seberang, seperti Khusraw Parvez, raja Persia.

Setelah mendapat surat perintah Ab dullah menyiapkan untanya dan berpamitan dengan anak dan istrinya. Sepanjang perjalanan dia melalui gunung dan lembah hingga sampai di tanah Persia.

Kemudian dia meminta izin untuk bertemu dengan Raja Persia serta memberitahu penjaga tentang surat yang dibawanya. Khusraw Parvez kemu dian memerintahkan agar menyiapkan ruang pertemuan dan memberi izin Abdullah untuk masuk.

Abdullah masuk dan melihat orang Persia terlihat menawan dengan jubah halus dan mengenakan pakaian yang besar, serban tersusun rapi. Sedangkan Abdullah hanya mengenakan pakaian polos dan kasar khas Arab Badui. Meski begitu Abdullah memegang kehormatan Islam dan kekuatan imannya berdenyut di dalam hatinya.

Begitu Khusraw Parvez melihatnya mendekat, dia memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya untuk mengambil surat itu. "Tidak," kata Abdullah. "Nabi memerintahkan saya untuk me nye rahkan surat ini kepada Anda secara langsung dan saya tidak akan melakukannya melawan perintah utusan Allah. "

"Biarkan dia mendekatiku," kata Khusraw pada para pengawalnya dan Abdullah maju dan menyerahkan surat Nabi kepada sang raja. Khusraw kemudian memanggil seorang pegawai Arab yang semula berasal dari Hira dan memerintahkannya untuk membuka surat di hadapannya dan baca isinya.

Dia mulai membaca: "Atas nama Allah Yang Mahapemurah Penyayang Dari Muhammad, Rasulullah, kepada Khusraw penguasa Persia. Perdamaian pada siapa pun ikuti panduannya..." Khusraw hanya mendengar kalimat itu dari surat yang dibaca kemudian terlihat api kemarahan dari dalam dirinya.

Wajahnya menjadi merah dan dia mulai berkeringat di lehernya. Dia menyam bar surat itu dari tangan petugas dan mulai merobeknya berkeping-keping tanpa mengetahui apa lagi isinya dan berteriak, "Apakah dia berani menulis surat kepada saya seperti ini, siapa dia? "

Kemudian Khusraw memerintahkan Abdullah untuk diusir dari majelisnya. Abdullah dibawa pergi, tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Apakah dia akan terbunuh atau dia akan bebas.Tapi dia tidak mau menunggu untuk mencari tahu. Dia berkata, "Demi Tuhan, saya ti dak peduli dengan apa yang terjadi pada saya. Tetapi, surat Nabi telah di perlakukan dengan sangat buruk." Dia berhasil sampai ke untanya dan pergi.

Saat kemarahan Khusraw mereda, dia memerintahkan agar Abdullah dibawa ke hadapannya. Tapi, Abdullah sudah pergi. Mereka mencarinya sampai ke semenanjung Arab, tapi ternyata di te lah kembali ke Madinah. Abdullah mengatakan kepada Nabi SAW bagaimana Khusraw telah merobek suratnya sampai berkeping-keping dan Nabi hanya menjawab, "Semoga Tuhan merobek kerajaannya."

Sementara itu, Khusraw menulis surat kepada Badhan, wakilnya di Yaman. Badhan mengirim dua orang terkuatnya kepada Nabi dan memberi mereka surat tersebut. Badhan juga meminta kedua orang itu untuk dapatkan informasi apa pun yang mereka bisa pada Nabi dan untuk mem pelajari pesannya dengan saksama.

Orang-orang itu berangkat, bergerak sangat cepat. Di Taif mereka bertemu dengan beberapa pedagang Quraisy dan bertanya kepada mereka mengenai Muhammad. "Dia ada di Yatsrib," kata mereka dan mereka pergi ke Makkah dengan sangat bahagia. Ini adalah kabar baik bagi mereka dan mereka berkeliling mengatakan kepada orang Quraisy lainnya, "Anda akan senang. Khusraw akan menangkap Muhammad dan orang Quraisy akan bebas kembali."

Kedua pria itu kemudian menuju Madinah menemui Nabi. Ketika menyerahkan surat itu, Badhan berkata kepada Nabi, "Raja Khusraw telah menulis surat kepada penguasa kami, Badhan. Kami datang untuk membawa Anda bersama kami. Jika Anda datang dengan rela, Khusraw telah mengatakan bahwa itu akan baik untukmu dan dia akan membebaskanmu dari hukuman apapun. Jika Anda menolak, Anda akan tahu kekuatan hukumannya. Dia memiliki kekuatan untuk menghan curkan Anda dan orang-orang Anda."

Nabi tersenyum dan berkata kepada mereka, "Kembalilah ke gunungmu hari ini dan kembali besok." Keesokan harinya, mereka mendatangi Nabi dan berkata kepadanya, "Apakah Anda siap untuk pergi bersama kami untuk bertemu Khusraw?"

"Anda tidak akan bertemu dengan Khusraw setelah hari ini," jawab Nabi. "Tuhan telah membunuh dia dan anaknya Shirwaih telah mengambil kekuasaannya tadi malam."

Kedua pria itu menatap wajah Nabi. Mereka benar-benar tercengang. "Anda tahu apa yang Anda katakan?" mereka bertanya. "Haruskah kita menulis tentang ini ke Badhan?"

"Ya," jawab Nabi, "Dan katakan kepa danya bahwa agamaku telah memberitahu saya tentang apa yang telah terjadi di kerajaan Khusraw. Jika dia harus menjadi Muslim, saya akan menunjuk dia sebagai penguasa wilayahnya."

Kedua pria itu kembali ke Yaman dan memberitahu Badhan apa yang telah terjadi. Badhan berkata, "Kalau Muhammad telah mengatakan itu benar maka dia adalah seorang Nabi. Jika tidak maka kita akan melihat apa yang terjadi padanya. "

Tidak lama kemudian, sepucuk surat dari Shirwaih sampai ke Badhan. "Saya membunuh Khusraw karena tirani terhadap rakyat kita. Dia menganggap halal sebagai pembunuhan para pemimpin, penangkapan wanita dan pengambilalihan kekayaan mereka.

Saat ini, suratku sampai di tanganmu, terima kesetiaan siapapun yang bersamamu atas nama saya." Begitu Badhan membaca surat Shirwaih, dia membuangnya dan mengumumkan bahwa dia masuk Islam.

Raja Bizantium berkuasa pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Ini juga merupakan cerita yang menakjubkan. Pada 19 Hijriyah, Umar mengirim tentara untuk melawan Bizantium. Di dalam pasukan khalifah terdapat Abdullah bin Hudzafah.

Berita tentang kekuatan Muslim terdengar hingga Bizantium. Raja Bizantium pernah mendengarnya dari ketulusan iman dan kesediaan untuk mengorbankan hidup mereka di jalan Allah. Dia memberi perintah untuk membawa kepadanya tawanan Muslim. Allah telah berkehendak bahwa Abdullah bin Hudzafah harus jatuh ke tangan Bizantium dan dia dibawa kepada raja.

Kaisar memandang Abdullah untuk waktu yang lama. Tiba-tiba dia berkata, "Saya akan membuat pilihan untukmu. Saya sarankan agar Anda menjadi seorang Kristen Jika Anda melakukan ini, Anda akan dibebaskan dan saya akan memberi anda tempat pengungsian."

Abdullah pun marah, baginya kematian lebih baik seribu kali daripada yang diminta Raja tersebut. "Saya melihat bahwa Anda adalah orang yang berani. Namun, jika Anda menanggapi secara positif apa yang saya usulkan kepada Anda, saya akan memberi Anda berbagi wewenang saya dan bersumpah anda akan menjadi ajudan saya."

Abdullah pun tersenyum dan bersumpah atas nama Allah dia tidak akan melakukannya meskipun raja tersebut memberikan segala yang dimilikinya. Raja Bizantium kemudian memerintahkan untuk membunuh Abdullah.

Abdullah pun diancam akan dimasukkan ke dalam minyak mendidih jika tidak menerima agamanya. Ini adalah ujian paling mengerikan, tapi Abdullah tetap pada pendiriannya.

Kaisar menyerah merayunya. Dia kemudian memerintahkan agar Abdullah dibunuh. Kemudian Abdullah menangis. Raja mengira Abdullah akan mematuhinya, tetapi dia ternyata tetap menolak.

Lalu dia mengatakan alasan dia menangis. Ini karena dia akan dilemparkan ke dalam panci demi keimanannya, dia berharap memiliki nyawa sebanyak rambut di tubuhnya, sehingga mereka juga dapat dilemparkan semuanya ke dalam panci ini. Raja Bizantium kemudian justru tak jadi melemparnya. Dia malah meminta Abdulllah mencium kepalanya dan membebaskan Abdullah serta tahanan Muslim lainnya.

Abdullah bin Hudzafah kemudian datang kepada Umar bin Khattab dan menceritakan apa yang telah terjadi. Umar sangat senang dan saat melihat para tahanan dia berkata, "Setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menciumn kepala Abdullah bin Hudzafah dan dimulai dari saya." [yy/republika]