21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Logika Imam Abu Hanifah yang Brilian

Logika Imam Abu Hanifah yang Brilian


Fiqhislam.com - Tokoh yang satu ini memang terkenal cerdas. Ia adalah Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit. Sosok yang lahir di Kufah 699 M itu kerap melakukan dakwah berupa debat dan dialog dengan para pelaku kesesatan dalam bidang teologi (kalam).

Wajar bila Sang Imam dikenal sebagai peletak dasar teologi melalu kitabnya yang terkenal, yaitu al-Fiqh al-Akbar. Seperti dinukilkan dari karya Dr Abdurrahman Raf'at Basya yang disalin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mereka adalah Para Tabiin, ada beberapa kejadian yang pernah dicatat sejarah menggambarkan kecerdikan dan kecerdasan penggagas Mazhab Hanafi ini menghadapi mereka yang sesat. 

Misalnya, seseorang pernah menyebarkan fitnah di hadapan orang-orang bahwa Utsman bin Affan asalnya adalah Yahudi, lalu kembali ke pangkuan Yahudi setelah berislam.

Kabar ini pun sampai di telinga Abu Hanifah. Ia bergegas ingin meminta klarifikasi darinya. “Aku datang kepadamu untuk meminang putrimu yang bernama fulanah untuk seorang sahabatku,” kata Sang Imam.

Lelaki tersebut menjawab, “Selamat atas kedatangan Anda. Orang seperti Anda tidak layak ditolak keperluannya wahai Abu Hanifah. Akan tetapi, siapakah peminang itu?”

“Seorang yang terkemuka dan terhitung kaya di tengah kaumnya, dermawan dan ringan tangan, hafal Alquran, menghabiskan malam dengan satu rukuk, dan sering menangis karena takwa serta takutnya kepada Allah SWT,” kata Abu Hanifah tanpa menyebut identitas nama orang yang dimaksud.

Laki-laki itu berkata, “Wah … wah ... cukup wahai Abu Hanifah, sebagian saja dari yang Anda sebutkan itu sudah cukup baginya untuk meminang seorang putri khalifah para mukmin.”

Abu Hanifah berkata, “Hanya saja ada satu hal yang perlu Anda pertimbangkan.” Dia bertanya, “Apakah itu?” Abu Hanifah berkata, “Dia seorang Yahudi.”

Mendengar hal itu, orang itu terperanjat dan bertanya-tanya: “Yahudi? Apakah Anda ingin saya menikahkan putri saya dengan seorang Yahudi wahai Abu Hanifah? Demi Allah, aku tidak akan menikahkan putriku dengannya, walaupun dia memiliki segalanya dari yang awal sampai yang akhir.”

Lalu Abu Hanifah berkata, “Engkau menolak menikahkan putrimu dengan seorang Yahudi dan engkau mengingkarinya dengan keras, tapi kau sebarkan berita kepada orang-orang bahwa Rasulullah SAW telah menikahkan kedua putrinya dengan Yahudi (yakni Utsman)?”

Jawaban yang sangat logis dari Abu Hanifah itu spontan menjadi cambukan keras bagi pria tersebut. Seketika tubuhnya gemetar. Ia menangis dan bertobat. “Astaghfirullah. Aku bertobat dari tuduhan busuk yang saya lontarkan,” katanya.

Abu Hanifah juga pernah meladeni adh-Dhahaq asy-Syari, tokoh kelompok Khawarij yang datang menghadap kepadanya.   

Adh-Dhahaq: “Wahai Abu Hanifah, bertobatlah Anda.”

Abu Hanifah: “Bertobat dari apa?”

Ad-Dhahaq: “Dari pendapat Anda yang membenarkan diadakannya arbitrase (tahkim) antara Ali dan Mu'awiyah.

Abu Hanifah: “Maukah Anda berdiskusi dengan saya dalam persoalan ini?”

Adh-Dhahaq: “Baiklah, saya bersedia.”

Abu Hanifah: “Bila kita nanti berselisih paham, siapa yang akan menjadi hakim di antara kita?”

Adh-Dhahaq: “Pilihlah sesuka Anda.”

Abu Hanifah menoleh kepada seorang Khawarij lain yang menyertai orang itu lalu berkata: “Engkau menjadi hakim di antara kami.” (dan kepada orang pertama beliau bertanya:) “Saya rela kawanmu menjadi hakim, apakah engkau juga rela?”

Adh-Dhahaq: “Ya, saya rela.”

Abu Hanifah: “Bagaimana ini, engkau menerima tahkim atas apa yang terjadi di antara saya dan kamu, tapi menolak dua sahabat Rasulullah SAW yang bertahkim?” Lagi-lagi, pernyataan Abu Hanifah tersebut menjadi jawaban telak dan menghentikan ocehan adh-Dhahaq.

Peristiwa debat juga pernah tampak ketika Abu Hanifah berdialog dengan pentolan aliran Jahmiyah, Jahm bin Shafwan.“Saya datang untuk membicarakan beberapa hal yang sudah saya persiapkan,” kata Jahm.

“Berdialog denganmu adalah cela dan larut dengan apa yang engkau bicarakan berarti neraka yang menyala-nyala,” timpal Abu Hanifah.

Tidak terima dengan celetukan itu, Jahm membantah, “Bagaimana bisa Anda memvonis saya demikian, padahal Anda belum pernah bertemu denganku sebelumnya dan belum mendengar pendapat-pendapat saya?”

Dengan tegas pula, Abu Hanifah mematahkan pembelaan Jahm. “Berita-berita tentangmu telah saya terima dan menurut saya pendapat itu tidak layak keluar dari seorang Muslim,” tuturnya.

“Anda menghakimi saya secara sepihak?” kata Jahm

Abu Hanifah menjawab, “Baik orang awam atau ulama mengetahui perihal Anda sehingga boleh bagiku menghukumi dengan sesuatu yang telah mutawatir kabarnya tentang Anda.”

“Saya tidak ingin membicarakan atau menanyakan apa-apa kecuali tentang keimanan,” ujar Jahm.

“Apakah hingga saat ini kamu belum tahu juga tentang masalah itu hingga perlu menanyakannya kepada saya?” kata Abu Hanifah.

Jahm menjawab, “Saya memang sudah paham, tapi saya meragukan salah satu bagiannya.”

“Keraguan dalam keimanan berarti kufur,” celetuk Abu Hanifah.

“Anda tidak boleh menuduh saya kufur sebelum mendengar tentang apa yang menyebabkan saya kufur,” kata Jahm berkilah.

Abu Hanifah mempersilakan. “Silakan bertanya!”

Jahm akhirnya bertanya perihal orang yang meninggal, sementara dia tidak sempat menyatakan keimanannya itu dalam lisan meski sudah berikrar dalam hati. Apakah orang tersebut dihukumi kafir atau mukmin?

Abu Hanifah menjawab demikian, “Dia mati dalam keadaan kafir dan menjadi penghuni neraka bila tidak menyatakan dengan lidahnya apa yang diketahui oleh hatinya, selagi tidak ada penghalang baginya untuk mengatakannya.”

Jawaban tersebut sempat tidak diterima oleh Jahm. Abu Hanifah pun mengajukan syarat, bila pentolan Jahmiyah itu mau menerima dalil Alquran, Sang Imam akan mengutarakannya.

Setelah syarat itu diterima, akhirnya Sang Imam mengutarakan deretan ayat Alquran yang mendukung pendapatnya. Di antaranya, surah al-Maidah ayat 83-85. Rentetan dalil Alquran dan hadis dibeberkan Abu Hanifah. Ini membuat Jahm terdesak dan memutuskan untuk pergi dari hadapan Sang Imam. Beragam kisah di atas tentu wajar bila Abu Hanifah dinobatkan sebagai peletak dasar ilmu teologi. Inilah mengapa Imam Malik memuji kecerdasan sahabatnya itu. “Seandainya berkata bahwa tiang masjid itu emas, niscaya perkataannya menjadi dipakai orang sebagai argumen.” [yy/republika]