14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Sahabat Nabi: Thufail bin Amr Ad-Dausy, Lentera Suku Daus

Sahabat Nabi: Thufail bin Amr Ad-Dausy, Lentera Suku DausFiqhislam.com - Thufail bin Amr Ad-Dausy adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk bangsawan Arab yang terpandang, seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang.

Periuknya tidak pernah turun dari tungku. Pintu Rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap penganggur.

Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan halus. Selalu tanggap terhadap kenyataan-kenyataan yang manis dan yang pahit. Karya-karyanya mempesona bagaikan sihir.

Pada suatu ketika, Thufail meninggalkan negerinya, Tihamah—dataran rendah sepanjang laut merah—menuju Makkah. Waktu itu pertentangan antara Rasulullah SAW dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya.

Untuk itu, senjata Rasulullah SAW hanya berdoa kepada Tuhannya, disertai iman dan kebenaran yang dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakkan impian mereka dengan kekuatan senjata, dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi Muhammad.

Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengaja, karena kedatangannya ke Makkah itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.

Kedatangannya ke Makkah disambut dengan hangat. Ia ditempatkan di sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuinya. ”Hai Thufail, kami sangat gembira anda datang ke negeri kami, walaupun negeri kami sedang dilanda kemelut.”

“Orang yang mendakwahkan diri menjadi nabi itu (Nabi Muhammad SAW) telah merusak agama kita, merusak kerukunan kita, dan memecah belah persatuan kita semua. Kami khawatir dia akan memengaruhi anda pula. Kemudian dengan kepemimpinan anda, dipengaruhinya pula kaum anda, seperti yang terjadi pada kami.”

“Karena itu, janganlah anda dekati orang itu. Jangan berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan kata-katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir. Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama saudara dan menceraikan istri dengan suami.”

Mereka terus menceritakan hal yang aneh-aneh kepada Thufail. Mereka menakut-nakutinya dengan keanehan-keanehan yang pernah dilakukan Rasulullah SAW. Thufail dilarang bicara bahkan mendengar ucapan Nabi Muhammad dan kaum Muslimin sedikit pun.

Pada suatu pagi Thufail pergi ke masjid hendak tawaf di Ka’bah, dan mengambil berkah dari berhala-berhala yang ia puja.

Hal seperti itu biasa dia lakukan ketika musim haji. Ia menyumbat telinganya dengan kapas, karena takut mendengar suara Nabi Muhammad dan pengikutnya.

Tetapi ketika masuk ke masjid, ia melihat Rasulullah sedang shalat dalam Ka’bah. Thufail terpesona melihat shalat Nabi yang tidak sama dengan shalatnya. Sedikit demi sedikit ia bergerak menghampiri beliau, sehingga akhirnya ia berada dekat sekali dengan Rasulullah. Allah SWT menakdirkan Thufail mendengar apa yang dibaca Nabi.

Thufail berkata kepada dirinya sendiri, “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang pujangga dan penyair. Engkau tahu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana yang buruk tinggalkan!”

Thufail bagaikan terpaku di tempatnya. Ketika Rasulullah pulang, ia pun mengikutinya sampai ke rumah dan menemuinya. Di hadapan Rasulullah ia bertanya, “Ya Muhammad, sesungguhnya kaum anda berkata kepadaku tentang diri anda begini dan begitu.”

“Mereka menakut-nakutiku dengan urusan agama anda. Oleh karena itu, aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar sesuatu dari anda. Tetapi Allah menghendaki supaya aku mendengar sesuatu dari anda. Ternyata, apa yang anda ucapkan semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama anda itu!”

Rasulullah mengajarkan kepadanya agama Islam. Dibacakannya Surah Al-Ikhlas dan Al-Falaq. Sejak saat itu, Thufail masuk Islam. Dan menetap di Makkah beberapa lama, mempelajari agama Islam. Ia menghafal ayat-ayat Alquran yang dapat ia hafal.

Ketika bermaksud hendak kembali kepada kaumnya, Thufail berkata, “Ya Rasulullah, aku ini pemimpin yang dipatuhi oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Tolonglah doakan kepada Allah SWT, semoga Allah memberiku bukti-bukti nyata yang dapat memperkuat dakwahku kepada mereka, supaya mereka masuk Islam.”

Rasulullah SAW pun segera berdoa agar Thufail dijadikan baginya tanda supaya kaumnya semakin percaya kepada Thufail.

Di tengah perjalanan pulang, keluarlah suatu cahaya di antara kedua mata Thufail seperti lampu. Thufail berdoa, “Ya Allah, pindahkanlah cahaya ini ke tempat lain, karena kalau cahaya ini terletak di antara kedua mataku, aku khawatir kalau-kalau kaumku menyangka mataku telah kena sihir lantaran meninggalkan agama berhala.”

Dengan izin Allah cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatnya, bagaikan sebuah kandil tergantung. Setelah berada di tengah-tengah kaumnya, yang pertama-tama mendatanginya adalah bapaknya sendiri. Ia sudah berusia lanjut.

Ketika Thufail menawarkan Islam kepada bapak dan istrinya, mereka mau mengikuti ajaran Islam. Namun, saat ia menyeru kaumnya tak seorang pun dari mereka yang mau mendengar seruan Thufail, kecuali Abu Hurairah. Dia paling cepat memenuhi panggilan Islam.

Thufail datang menemui Rasulullah SAW di Makkah bersama Abu Hurairah. Rasulullah SAW  bertanya, “Bagaimanakah perkembangan dakwahmu, hai Thufail?”

“Hati kaumku masih tertutup dan sangat kafir. Sungguh seluruh kaumku, Kabilah Daus, masih sesat dan durhaka,” jawab Thufail.

Rasulullah SAW pergi mengambil wudhu, kemudian beliau shalat. Sesudah shalat beliau menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu berdoa. Pada saat itu, Abu Hurairah merasa khawatir jangan-jangan Rasulullah mendoakan agar kabilah Daus celaka. Tetapi sebaliknya, Rasulullah mendoakan agar Allah memberikan hidayah kepada kaum Daus.

Rasulullah segera menyuruhnya pulang. Dan benar saja, saat Thufail menyeru kaumnya, mereka segera menyambut ajakan Thufail. Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, Thufail menetap di negerinya.

Ketika terjadi Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Thufail datang menghadap Rasulullah SAW dengan membawa 80 keluarga Muslim Daus, yang keislamannya tidak disangsikan lagi.

Rasulullah menyambut gembira kedatangan mereka. Dan sesuai dengan permohonan Thufail dan kaumnya, Rasulullah menempatkan mereka di sayap kanan pasukan Nabi. Dan kompi Muslimin Daus ini dinamakan “Kompi Mabrur.” Sejak saat itu, Thufail selalu mendampingi Rasulullah.

Setelah pembebasan Kota Makkah, Thufail minta izin kepada Rasulullah, agar dibolehkan pergi ke Dzil Kafain untuk memusnahkan berhala-berhala yang ada di sana. Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut dengan satu regu tentara pasukannya.

Sewaktu sampai di sana dan mereka bersiap hendak membakar berhala Dzil Kafain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak- anak sekitar mereka, menunggu-nunggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi petir dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kafain itu.

Tetapi Thufail dengan mantap menuju berhala itu disaksikan para pemujanya sendiri. Dia menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kafain, sambil bersajak, “Hai Dzil Kafain, kami bukanlah pemujamu. Kelahiran kami lebih dahulu dari keberadaanmu. Inilah aku, menyulutkan api di jantungmu!”

Setelah api melalap habis patung-patung Dzil Kafain, sirna pulalah sisa-sisa kemusyrikan dalam kabilah Daus. Seluruh kabilah Daus masuk Islam, dan menjadi Muslim-Muslim sejati.

Thufail bin Amr Ad-Dausy senantiasa mendampingi Rasulullah SAW sampai beliau wafat. Ketika Abu Bakar RA menjadi Khalifah, Thufail dan anak buahnya patuh kepada pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

Tatkala berkecamuk peperangan membasmi orang-orang murtad, Thufail paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentara Muslim memerangi Musailamah Al-Kazzab (Musailamah si Pembohong).

Begitu pula putranya, Amr bin Thufail, yang selalu saja tak mau ketinggalan. Ketika Thufail dalam perjalanan menuju ke Yamamah (kawasan tempat Musailamah menyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi.

“Aku bermimpi. Cobalah kalian takbirkan mimpiku ini,” kata Thufail kepada sahabat-sahabatnya.

“Bagaimana mimpi anda?” tanya kawan-kawannya.

“Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian seorang perempuan memasukkanku ke dalam perutnya. Anakku, Amr, menuntut dengan sungguh-sungguh supaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuat apa-apa karena antaraku dan dia ada dinding.”

“Sebuah mimpi nan indah!” komentar kawan-kawannya tanpa memberikan penafsiran sedikit pun.

Akhirnya, Thufail sendiri yang mena’birkan, “Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya kepalaku dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku dari jasadku. Seorang perempuan memasukkanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang, lalu aku dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan anakku, dia juga berharap supaya mati syahid seperti aku. Tetapi permintaannya dikabulkan kemudian.”

Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah di Yamamah, sahabat yang mulia ini, Thufail bin Amr Ad-Dausy, mendapat cidera sehingga dia terbanting dan tewas di medan tempur. Putranya, Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu, dia kembali ke Madinah meninggalkan tangannya sebelah dan jenazah bapaknya di medan tempur Yamamah.

Tatkalah Khalifah Umar bin Khathab memerintah, Amr bin Thufail (putra Thufail) pernah datang ke majlis Khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majelis, makanan pun dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majelis mengajak Amr supaya turut makan bersama-sama. Tetapi Amr menolak dan menjauh.

“Mengapa?” tanya Khalifah. Barangkali engkau lebih senang makan belakangan, karena malu dengan tanganmu itu.”

“Betul, ya Amirul Mukminin!” jawab Amr.

Kata Khalifah, “Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang pun jua yang sebagian tubuhnya telah berada di surga, melainkan hanya engkau.”

Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi Perang Yarmuk, Amr bin Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentara Muslimin. Amr gugur dalam peperangan itu sebagai syuhada, seperti yang diharapkan bapaknya.

Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail yang gugur di Perang Yamamah dan putranya, Amr, yang syahid di medan tempur Yarmuk.

Sumber: Sumber: 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni