4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Mengenal Ibnu Bathuthah, Pengelana Paling Berpengalaman di Dunia

Mengenal Ibnu Bathuthah, Pengelana Paling Berpengalaman di Dunia


Fiqhislam.com - Ibnu Battuta, Bathuthah, demikian sapaan kecilnya. Tokoh yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Abdullah al-Lawati al-Tanji Ibnu Battuta ini lahir pada 1304 di Kota Tangier, Maroko. Ia dikenal sebagai pengelana Muslim abad ke-14.

Namanya bahkan sampai hari ini dikenang sebagai pelancong paling berpengalaman di dunia. Hampir seluruh pelosok bumi pernah ia jelajahi. Mulai dari Afrika Utara, Mali, Spanyol, Mesir, Palestina, Istanbul, Mekkah, Madinah, Yaman, Somalia, Mombassa, Persia, Irak, Anatolia, Bukhara, Laut Arab, Delhi, Kalkuta, Sri Lanka, Samudra Pasai, Vietnam, hingga Kanton, dan Hang-chou di Cina.

Perjalanan yang ditempuh selama 29 tahun itu (1325-1354) menempuh banyak kerajaan di masa itu, antara lain, Kesultanan Marinid, Kerajaan Mali, Kesultanan Mamluk, Kerajaan Kipchak Khan, Kerajaan Cagatay Khan, Kerajaan Ilkhanid Khan, Kesultanan Delhi, Kerajaan Samudra Pasai, dan Kerajaan Mongol.

Ibnu Battuta hidup pada masa Dinasti Marinid. Ia berasal dari keluarga ulama fikih Islam di Tangier, Maroko. Keluarganya keturunan suku barbar yang terkenal dengan nama suku Lawata. Kedua orang tua Ibnu Battuta masih hidup saat ia memulai pengembaraannya pada 1325. Tangier adalah titik pertemuan geografi empat benua yaitu Afrika, Eropa, Atlantik, dan Laut Tengah. Kota Tangier adalah sebuah kota antarbangsa yang ditentukan oleh arus lalu lintas maritim yang sering digunakan oleh para pedagang, prajurit, dan ilmuwan.

Ross E Dunn, dalam The Adventures of Ibn Battuta (2005) menjelaskan, Tangier adalah kota perbatasan pada abad ke-14. Berbagai insiden yang menimbulkan ketegangan kerap terjadi di kota ini. Seperti anggota tentara barbar yang kasar, pedagang-pedagang Kristen dan Islam bertengkar satu sama lain di galangan kapal dan di gudang penyimpanan serta bajak laut yang menjual hasil rompakan mereka di pasar.

Negara membantu kondisi ekonomi Tangier yang sedang krisis dengan menyediakan pekerjaan bagi penduduk dalam urusan konstruksi kapal, muatan kapal, menyewa prajurit dan pelaut, berdagang senjata dan persediaan barang. Pada masa mudanya, Ibnu Battuta bersekolah di sebuah madrasah fikih bermazhab Maliki yang merupakan bentuk dominan dari pendidikan Afrika Utara saat itu. Ia memperoleh prestasi di bidang akademik ini.

Keluarga Ibnu Battuta memiliki kedudukan terhormat sebagai cendekiawan. Pada abad ke-14, Kota Tangier bukanlah sebuah pusat kegiatan pendidikan di Afrika Utara. Kota ini tidak seperti kota Fez, Tlemcen, ataupun Tunis. Ketika Ibnu Battuta tumbuh besar, tidak ada satu pun madrasah atau perguruan tinggi yang didirikan oleh Dinasti Marinid sebagai pemerintah baru di ibu kota mereka.

Pendidikan yang diterima Ibnu Battuta adalah suatu yang berharga bagi keluarga ahli hukum. Ibnu Battuta rajin belajar Alquran di masjid terdekat, sehingga pada umur 12 tahun dia telah menghapal  Alquran.

Ibnu Battta juga mempelajari ilmu tafsir Alquran, hadis, tata bahasa, retorika, teologi, logika, dan ilmu hukum. Ibnu Battuta juga mempelajari imu sufi. Ia tidak pernah menjadi seorang pengikut sufisme yang terikat dengannya. Beliau seorang sufi awam yang menghadiri pertemuan-pertemuan tarekat, mencari doa, dan makrifat serta menyendiri pada waktu-waktu tertentu. [yy/republika]

Mengenal Ibnu Bathuthah, Pengelana Paling Berpengalaman di Dunia


Fiqhislam.com - Ibnu Battuta, Bathuthah, demikian sapaan kecilnya. Tokoh yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Abdullah al-Lawati al-Tanji Ibnu Battuta ini lahir pada 1304 di Kota Tangier, Maroko. Ia dikenal sebagai pengelana Muslim abad ke-14.

Namanya bahkan sampai hari ini dikenang sebagai pelancong paling berpengalaman di dunia. Hampir seluruh pelosok bumi pernah ia jelajahi. Mulai dari Afrika Utara, Mali, Spanyol, Mesir, Palestina, Istanbul, Mekkah, Madinah, Yaman, Somalia, Mombassa, Persia, Irak, Anatolia, Bukhara, Laut Arab, Delhi, Kalkuta, Sri Lanka, Samudra Pasai, Vietnam, hingga Kanton, dan Hang-chou di Cina.

Perjalanan yang ditempuh selama 29 tahun itu (1325-1354) menempuh banyak kerajaan di masa itu, antara lain, Kesultanan Marinid, Kerajaan Mali, Kesultanan Mamluk, Kerajaan Kipchak Khan, Kerajaan Cagatay Khan, Kerajaan Ilkhanid Khan, Kesultanan Delhi, Kerajaan Samudra Pasai, dan Kerajaan Mongol.

Ibnu Battuta hidup pada masa Dinasti Marinid. Ia berasal dari keluarga ulama fikih Islam di Tangier, Maroko. Keluarganya keturunan suku barbar yang terkenal dengan nama suku Lawata. Kedua orang tua Ibnu Battuta masih hidup saat ia memulai pengembaraannya pada 1325. Tangier adalah titik pertemuan geografi empat benua yaitu Afrika, Eropa, Atlantik, dan Laut Tengah. Kota Tangier adalah sebuah kota antarbangsa yang ditentukan oleh arus lalu lintas maritim yang sering digunakan oleh para pedagang, prajurit, dan ilmuwan.

Ross E Dunn, dalam The Adventures of Ibn Battuta (2005) menjelaskan, Tangier adalah kota perbatasan pada abad ke-14. Berbagai insiden yang menimbulkan ketegangan kerap terjadi di kota ini. Seperti anggota tentara barbar yang kasar, pedagang-pedagang Kristen dan Islam bertengkar satu sama lain di galangan kapal dan di gudang penyimpanan serta bajak laut yang menjual hasil rompakan mereka di pasar.

Negara membantu kondisi ekonomi Tangier yang sedang krisis dengan menyediakan pekerjaan bagi penduduk dalam urusan konstruksi kapal, muatan kapal, menyewa prajurit dan pelaut, berdagang senjata dan persediaan barang. Pada masa mudanya, Ibnu Battuta bersekolah di sebuah madrasah fikih bermazhab Maliki yang merupakan bentuk dominan dari pendidikan Afrika Utara saat itu. Ia memperoleh prestasi di bidang akademik ini.

Keluarga Ibnu Battuta memiliki kedudukan terhormat sebagai cendekiawan. Pada abad ke-14, Kota Tangier bukanlah sebuah pusat kegiatan pendidikan di Afrika Utara. Kota ini tidak seperti kota Fez, Tlemcen, ataupun Tunis. Ketika Ibnu Battuta tumbuh besar, tidak ada satu pun madrasah atau perguruan tinggi yang didirikan oleh Dinasti Marinid sebagai pemerintah baru di ibu kota mereka.

Pendidikan yang diterima Ibnu Battuta adalah suatu yang berharga bagi keluarga ahli hukum. Ibnu Battuta rajin belajar Alquran di masjid terdekat, sehingga pada umur 12 tahun dia telah menghapal  Alquran.

Ibnu Battta juga mempelajari ilmu tafsir Alquran, hadis, tata bahasa, retorika, teologi, logika, dan ilmu hukum. Ibnu Battuta juga mempelajari imu sufi. Ia tidak pernah menjadi seorang pengikut sufisme yang terikat dengannya. Beliau seorang sufi awam yang menghadiri pertemuan-pertemuan tarekat, mencari doa, dan makrifat serta menyendiri pada waktu-waktu tertentu. [yy/republika]

Misi Islam di Balik Eskpedisi Ibnu Bathutha

Misi Islam di Balik Eskpedisi Ibnu Bathutha


Misi Islam di Balik Eskpedisi Ibnu Bathutha


Fiqhislam.com - Dalam pengembaraannya, Ibnu Battuta sering melaporkan kejadian atau peristiwa yang menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia. Contohnya, upacara kerajaan Kesultanan Delhi, adat kebiasaan seksual para wanita di Kepulauan Maladewa, dan kisah lainnya.

Kisah-kisah seperti ini selalu berkaitan dengan pengalaman pribadinya. Ibnu Battuta adalah orang asing di negeri asing. Ia diberi kesempatan mengunjungi Cina karena keadaan politik yang terjadi pada abad ke-13 dan abad ke-14.

Pada masa itu, negara-negara Mongol yang besar di Asia mengizinkan para pedagang dari berbagai pelosok dunia dan agama mengembara dan menjalin hubungan perdagangan di kawasan mereka. Ibnu Battuta menggunakan hampir seluruh masa kehidupannya untuk mengembara dengan berpegang kepada syariat Islam. Ia mendatangi berbagai negeri Islam yang dihuni oleh orang Islam dan diperintah raja Islam.

Ia juga mengunjungi wilayah peradaban Islam yang lebih luas dari pantai Atlantik di Afrika Barat hingga Asia Tenggara. Ia juga mengunjungi sekumpulan minoritas Islam yang hidup di kota-kota ataupun kawasan-kawasan di negeri-negeri yang berpenduduk mayoritas bukan Islam. Seperti Cina, Spanyol dan Afrika Barat.

Oleh karena itu, dalam pengembaraannya, Ibnu Battuta selalu ditemani oleh orang Islam yang memiliki persamaan agama, cita-cita, dan gaya hidup. Walaupun dalam perjalannya ia bertemu dengan orang Islam yang memiliki bahasa, adat-istiadat yang berbeda dengan tempat kelahirannya, tapi ia selalu mampu menemukan kesamaan untuk dapat berkomunikasi dengan kelompok masyarakat tersebut.

Politik dunia Islam pada zaman Ibnu Battuta dibagi menjadi kerjaan besar dan kecil. Penaklukan Mongol atas Persia dan Suriah antara 1219 hingga 1258 bertujuan untuk memusnahkan peradaban Islam yang ada. Justru, pada waktu ini Ibnu Battuta memulai perjalannya sebagai musafir. Ibnu battuta melakukan perjalannya sebagai musafir dengan cara yang berbeda. Pertama, ia bergerak sebagai seorang peziarah dan bergabung dengan umat Islam lainnya menuju tempat suci di Makkah maupun Madinah.

Kedua, Ibnu Battuta mengembara sebagai seorang ahli sufi, mengembara menuju ke pusat pertapaan dan tempat tinggal para wali untuk mengambil makrifat mereka. Ibnu Battuta juga mengembara sebagai ahli fikih, mencari pengetahuan dan kawan serta bergaul dengan sesama cendekiawan di kota-kota besar Islam.

Dan terakhir, beliau melakukan pengembaraan sebagai anggota elit terpelajar, dan berwawasan untuk mencari pekerjaan di pusat-pusat perdaban Islam yang didirkan di kawasan Asia dan Afrika.

Dalam setiap perjalanannya, Ibnu Battuta selalu menganggap dirinya sebagai seorang warga kota, bukan sebagai warga negara Maroko. Dalam pengembaraannya, Ibnu Battuta cenderung menanamkan nilai-nilai kerohanian, moral, dan sosial. Kehdupan dan kisah perjalanan Ibnu Battuta menjelaskan sejarah yang luar biasa pada abad pertengahan.

Seperti yang ditulis oleh Hodgson dalam The Unity of Later Islamic History, Islam tiba lebih dekat dengan masyarakat abad pertengahan untuk menciptakan suatu aturan dunia yang lebih umum mengikuti  standar sosial dan budaya yang sesuai sepanjang zaman. [yy/republika]

Jejak Perjalanan Ibnu Bathutha

Jejak Perjalanan Ibnu Bathutha


Jejak Perjalanan Ibnu Bathutha


Fiqhislam.com - Ibnu Battuta memulai perjalanan pada Juni 1325, saat berusia 20 tahun. Ia meninggalkan kampung halamanya untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Perjalanan menuju Makkah menghabiskan waktu selama 16 bulan. Ia berkata tidak akan mengujungi Maroko dalam waktu 24 tahun mendatang.

Dalam perjalanan menuju Makkah ini, Ibnu Battuta mengunjungi Afrika Utara, Mesir, Palestina, dan Suriah. Selesai melaksanakan ibadah haji pertama pada 1326, Ibnu Battuta mengelilingi Irak dan Persia.

Pada 1328, ia menuju ke selatan mengunjungi Oman dan Teluk Parsi sebelum kembali ke Makkah melalui jalan darat melintasi Arab Tengah.

Pada 1330, Ibnu Battuta menuju India dengan berjalan ke utara melalui Mesir dan Suriah ke Asia Kecil mencari pekerjaan pada zaman pemerintahan Kesultanan Delhi.

Setelah mengunjungi kawasan ini, Ibnu Battuta melintasi Laut Hitam menuju ke dataran barat Asia Tengah. Kemudian beliau mengunjungi Istanbul, ibu kota Bizantium dengan ditemani oleh putri Turki.

Ibnu Battuta tiba di Sungai Indus pada 1333 saat perjalanan beliau menuju ke timur melalui Transoxiana, Khurasan, dan Afganistan.

Selama delapan tahun di India, Ibnu Battuta menjadi hakim pada masa pemerintahan Sultan Delhi, Muhammad Tughluq. Pada 1341, Sultan Delhi melantik Ibnu Battuta untuk memimpin misi diplomatik ke Istana Mongol di Cina.

Sayangnya, kapal yang dinaiki Ibnu Battuta mengalami kerusakan dan menyebabkan ia kehilangan pekerjaannya. Lantas, ia melakukan perjalanan ke bagian selatan India, Sri Lanka, dan ke Kepulauan Maladewa dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.

Di sana, Ibnu Battuta menjadi hakim selama delapan bulan di bawah pemerintahan dinasti Islam di Maladewa. Pada 1345, Ibnu Battuta menuju ke Cina atas kemauan sendiri.

Sebelum tiba di Canton, Ibnu Battuta mengunjungi Benggala, Pantai Burma dan Pulau Sumatra melalui jalan darat. Kunjungan Ibnu Battuta mungkin terbatas di kawasan pantai selatan saja karena beliau tidak mengkhususkan tempat kunjungan di Cina.

Pada 1346, Ibnu Battuta kembali melaksanakan ibadah haji melalui India Selatan, Teluk Persia, Suriah, dan Mesir. Pada akhir 1349, ia tiba di Fez, ibu kota Maroko, melalui jalan darat dan laut setelah mengambil keputusan untuk pulang ke kampung halamannya.

Pada tahun berikutnya, Ibnu Battuta melintasi Selat Gibraltar untuk tiba di kerajaan Islam di Granada. Pada 1353, beliau melakukan perjalanan terakhir dengan rombongan unta melintasi Gurun Sahara menuju ke Kerajaan Mali di kawasan Sudan, Afrika Barat. Selanjutnya, pada 1355, Ibnu Battuta kembali menetap di Maroko. [yy/republika]