fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Sahabat Periwayat dan Mufasir Al-Quran

Fiqhislam.com - Dalam sejarah Islam, sejak wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat menjadi tumpuan umat untuk menanyakan berbagai persoalan dalam Alquran.

Tercatat, empat orang sahabat Rasul SAW yang mendapat kehormatan menjadi Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Bahkan, keempatnya mendapat jaminan Rasul SAW untuk masuk surga, dari 10 orang yang dijanjikan. Enam orang lainnya adalah Zubair bin Awwam, Said bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Selain nama-nama mereka itu, ada juga sahabat-sahabat Rasul SAW yang memiliki kemampuan dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran. Salah satu di antaranya adalah Ibnu Abbas RA dan Abdullah bin Mas'ud RA. Selain mereka, tokoh lainnya adalah Aisyah binti Abu Bakar, yang juga istri Nabi SAW.

Para sahabat tersebut dikenal sebagai orang-orang yang memiliki keimanan dan keislaman yang sangat kuat, serta menjadi pembela Islam yang gigih demi tegaknya ajaran Allah di muka bumi.

Imam Suyuthi dalam kitabnya, Al-Itqan, menjelaskan, sahabat-sahabat Rasul SAW yang populer dengan tafsir dan periwayatan hadis adalah Khulafaur Rasyidin, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-Asy'ari, dan Abdullah bin Zubair.

Dan dari kalangan khalifah empat yang paling banyak dikenal riwayatnya tentang tafsir adalah Ali bin Abi Thalib RA, sedang dari tiga khalifah yang lain hanya sedikit sekali, karena mereka lebih dahulu wafatnya.

As-Suyuthi menjelaskan, ketiga orang sahabat (Abu Bakar, Umar, dan Usman) ini terbilang sedikit dalam meriwayatkan hadis maupun Alquran, dikarenakan pendeknya masa jabatan mereka dan meninggal lebih dahulu.

Dari segi yang lain, karena mereka bertiga hidup pada suatu masa di mana kebanyakan penduduk mengetahui dan pandai tentang Kitabullah, sebab mereka selalu mendampingi Rasulullah SAW. Karenanya, mereka mengerti dasar rahasia-rahasia penurunan, juga mengetahui makna dan hukum-hukum yang terkandung dalam ayatnya.

Sedangkan, Ali RA berkuasa setelah khalifah yang ketiga, yaitu pada masa di mana daerah Islam telah meluas. Banyak orang-orang luar Arab yang memeluk Islam sebagai agama baru. Generasi keturunan sahabat banyak yang merasa perlu untuk mempelajari Alquran serta memahami rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya. Karena itu, wajarlah riwayat daripadanya begitu banyak melebihi riwayat yang dinukil dari tiga khalifah lainnya.

Dari sahabat-sahabat ini pulalah, para tabi’in dan ulama kontemporer saat ini, bisa memahami Alquran secara lebih mendalam, dengan periwayatan hadis dan menerangkan sebab-sebab turunnya ayat Alquran.

Berikut riwayat singkat nama-nama sahabat yang paling banyak menerangkan sebab-sebab turunnya ayat sekaligus dikenal pula dengan kealiman dan kezuhudannya.

Ali bin Abi Thalib Karrama Allahu Wajhah, Pintunya Ilmu
Ali bin Abi Thalib adalah sahabat, saudara sepupu, dan menantu Rasulullah SAW. Sahabat, karena ia termasuk orang yang paling dekat dan paling pertama masuk Islam.

Saudara sepupu, karena Ali adalah putra dari pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, yang menjadi saudara orang tua Rasulullah SAW, Abdullah bin Abdul Muthalib. Menantu, karena menikah dengan Fatimah Az-Zahra RA, putri tersayang Rasulullah SAW.

Selain tiga sahabat lainnya, Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis maupun menjelaskan tentang Alquran dan penguasaannya sangat luas. Bahkan, Ali dikenal sebagai pintu gerbang atau pintunya ilmu keislaman.

Begitu luasnya, salah seseorang pernah mengujinya. Ujian yang diberikan berupa satu pertanyaan yang disampaikan oleh 10 orang yang berbeda. Ternyata, Ali memberikan jawaban yang berbeda-beda kepada masing-masing pengujinya itu kendati pertanyaan yang diajukan sama.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, seandainya ada yang bertanya lagi, Ali akan memberikan jawaban yang lain lagi dengan jawaban yang sangat memuaskan.

Selain itu, sewaktu mudanya, Ali juga dikenal sebagai pemuda pemberani. Sosok yang cerdas menambah kelebihan Ali bin Abi Thalib ini. Rasul SAW pun memujinya dan memberinya julukan Karramallahu Wajhah (Semoga Allah memuliakan wajahnya). Konon, Ali tak pernah melihat kemaluannya sendiri.

Aisyah binti Abu Bakar RA, Putri Sahabat Tepercaya
Aisyah adalah istri Rasulullah SAW. Dan di antara istri-istri Rasul SAW, dialah yang paling banyak meriwayatkan hadis dan tafsir Alquran. Aisyah binti Abu Bakar ini adalah istri yang paling muda, karena dinikahi Rasul SAW saat berusia 9 tahun.

Aisyah merupakan salah satu istri yang paling dicintai Rasul SAW. Dalam riwayat Anas bin Malik, dikatakan, ''Cinta pertama yang terjadi dalam Islam adalah cintanya Rasululah SAW kepada Aisyah RA.''

Ia pernah memimpin sebuah gerakan untuk menentang keputusan Ali sehingga terjadilah perang yang bertempat di Daumatul Jandal, yaitu Perang Shiffin.

Abdullah Ibnu Mas'ud RA, Teladan Umat Membaca Alquran
Namanya populer dengan panggilan Ibnu Mas'ud. Ia termasuk kelompok Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam).

Ia adalah seorang pembantu Rasulullah SAW, sering memakaikan sandal dan sarungnya Rasul, pergi bersama-sama Rasul sebagai penunjuk jalan. Ibnu Mas'ud juga dikenal sebagai seorang sahabat yang sangat baik.

Sahabat lainnya mengenalnya sebagai orang yang lebih banyak mengetahui kitab Allah (Alquran), baik tentang ayat-ayat muhkam (hukum dan jelas), 'Amm (umum), khash (khusus), maupun yang mutasyabbih (samar), serta halal dan haram.

Jalaluddin As-Suyuthi berkata, ''Yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud tentang tafsir adalah lebih banyak daripada yang diriwayatkan dari Ali..."

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, "Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, tidak ada satu surat pun yang diturunkan oleh Allah yang tidak saya ketahui di mana turunnya. Tidak ada satu ayat Alquran pun yang tidak saya ketahui dalam kasus apa diturunkannya. Kalau aku tahu ada seorang yang lebih tahu dariku tentang Kitab Allah dan bisa ditempuh dengan kendaraan unta, niscaya akan kudatangi rumahnya..."

Bahkan, sejumlah ayat Alquran diturunkan juga berkaitan dengan Abdullah bin Mas'ud. Selain itu, Rasul SAW juga memujinya, karena indahnya bacaan Alquran yang disuarakan oleh Ibnu Mas'ud.

Sering kali Rasul SAW meminta Abdullah bin Mas'ud untuk membacakan ayat Alquran di hadapannya. Dalam buku 101 Sahabat Nabi, Hepi Andi Bastoni menerangkan, Abdullah bin Mas'ud menjadi teladan umat dalam membaca Alquran.

Abdullah Ibnu Abbas RA, Samudra Ilmu
Abdullah Ibnu Abbas adalah orang yang ternama di kalangan umat Islam. Ia adalah anak paman Rasulullah SAW, yang pernah didoakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang berpengetahuan luas. "Ya Allah, berilah pemahaman tentang urusan agama dan berilah ilmu kepadanya tentang takwil.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas, demikian nama populernya, dikenal sebagai ahli bahasa sekaligus penerjemah Alquran yang hebat. Ibnu Mas'ud berkata, "Penerjemah Alquran yang paling baik adalah Abdullah bin Abbas." Dia adalah sahabat yang paling pandai dalam tafsir Alquran.

Pada saat muda, para pemuka sahabat telah menyaksikan kehebatannya, bahkan Ibnu Abbas mampu menandingi dan bersaing dengan para sahabat lainnya. Ia dilahirkan sekitar tiga tahun sebelum hijrah.

Khalifah Umar bin Khathab RA, pernah menyertakan Ibnu Abbas dalam Majelis Permusyawaratan bersama-sama dengan para sahabat lainnya.

Melihatnya tampil, para sahabat terkadang meragukan kemampuannya. Di antara mereka bahkan ada yang berkata, ''Kenapa anak kecil ini dimasukkan bersama-sama kita. Kami punya anak yang lebih tua umurnya dibanding dengan dia.''

Namun demikian, Umar tetap pada keputusannya untuk mengikutsertakan Ibnu Abbas. Bukhari dalam Shahih-ya menyatakan, Ibnu Abbas memiliki keilmuan dan kedudukan yang tinggi dalam memahami kandungan dan rahasia-rahasia Alquran.

Bukhari meriwayatkan, Ibnu Abbas RA berkata, "Umar mengikutkanku bersama tokoh-tokoh Perang Badar. Di kalangan mereka ada yang bertanya dalam dirinya, lalu mengemukakan pendapat, ‘Kenapa anak ini diikutsertakan bersama kami? Padahal kami sungguh mempunyai anak yang seusia dengannya?’

Umar menjawab, ‘Dia adalah seorang yang sudah kalian ketahui, ia adalah orang yang terkenal kecerdasannya dan pengetahuannya.’

"Pada suatu ketika, Umar memanggil mereka dan mengikutkanku bersama mereka hanya sekadar diperkenalkan kepada mereka. Tiba-tiba Umar (memberi kesempatan pada mereka untuk bertanya) berkata, ‘Apakah pendapat sekalian tentang firman Allah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.’ (QS. An-Nashr: 1).

Sebagian mereka ada yang berpendapat, ‘Kami diperintah menuju Allah dan meminta ampun pada-Nya, tatkala kami dibantu oleh-Nya dan diberi kemenangan.’ Sebagian yang lain bungkam seribu bahasa.

Umar bertanya kepadaku, "Bagaimana dengan pendapatmu (hai Ibnu Abbas)?" "Aku jawab, ‘Tidak benar!’

"Lalu, menurutmu bagaimana?"

"Aku menjawab, ‘Persoalannya adalah tentang ajal Rasulullah SAW di mana Allah memberitahukan kepadanya. Itu adalah suatu tanda tentang ajalmu (hai Muhammad), karena itu bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan istigfarlah (mohon ampun) kepada-Nya. Sungguh ia adalah Penerima Tobat.’

Umar berkata, "Demi Allah, aku tidak mengetahui kandungannya sebelum engkau jelaskan.”

Kisah tersebut menegaskan begitu hebatnya daya kemampuan pemahaman serta pendapat Ibnu Abbas dalam menyimpulkan petunjuk Alquran yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang mendalami ilmu pengetahuannya. Tak heran, bila ia dijuluki sebagai Al-Bahr (Lautan Luas), karena kedalaman dan keluasan ilmunya.

republika.co.id